Pensil dan Penghapus



Pensil dan Penghapus
Sindi Nopita Agustina
Pendidikan Matematika, FKIP, UNRAM
nopitasindi@yahoo.com

Aku seorang gadis kecil yang baru memasuki dunia kuliah, baru mengenal suka dukanya menggunakan almamater yang bertuliskan “Universitas Mataram”. Suci bersih belum mengenal apa-apa itulah aku sebelumnya, saat mataku melihat sebuah baliho besar bertuliskan open recruitment UKM Prima, hatiku tersetak banyak pertanyaan dibenakku. Ukm bergelut dibidang apa ini? seperti apa alumninya? aku ingin belajar apa dan akan mendapatkan apa dari ukm ini? Ya , aku belum mengenali Prima dengan baik pada saat itu. Namun Allah menuntutku untuk mendaftarkan diri dan berani menuliskan nama di form pendaftaran. Saat wawancara aku bertemu dengan seorang lelaki kurus, tinggi, yang saat itu menanyaiku sebuah pertanyaan.
 “ Kamu ingin berkontribusi apa untuk Prima?”
Aku hanya tersenyum tipis dengan nada pelan aku menjawab “ Saya akan menganggap Prima sebagai keluarga saya, saat saya memprioritaskan sebagai keluarga saya, saya akan memberikan apa yang saya bisa”. Entah jawaban apa yang kuberikan pada saat itu, namun sekarang aku baru mengerti Prima benar-benar seperti keluarga.
“Tak ada kamu ataupun saya, yang ada hanyalah kita” sebuah kutipan lirik mars prima yang mengajarkanku bahwa Prima tidak pernah membedakan siapapun yang ingin belajar. Tak peduli semester berapa, tak peduli latar belakangmu. Ia akan membuka tangannya untuk mengandengmu menuju jalan yang ingin kau capai. Prima memperkenalkanku dengan sebuah departemen yang luar biasa, Penalaran Studi Ilmiah (PSI). Aku bertemu dengan sosok yang luar bisa seorang wanita muslimah yang selalu memotivasi disetiap perkataannnya, teman sebayaku yang selalu memiliki semangat tinggi, dan banyak orang yang  menginspirasiku.
Aku pernah berjualan nasi bersama 2 temanku, Sulfah dan Peri. “Kak, mau beli nasi? Cukup 5.000 aja. Nasinya enak kok, ayo kak dibeliJ” itulah kata-kata emas kami agar orang ingin mengeluarkan uang didompetnya. Tak ada rasa malu dibenak kami, berkeringat bukan menjadi alasan kami untuk berhenti, rasa malu kami tiadakan. kami hanya ingin membantu departemen kami saat itu. Namun pil pahit tetap kami rasakan, hanya mendapatkan keuntungan 18.500 dan mendapatkan banyak koreksi dari ketua umum. Tetapi aku masih bisa melihat tawa dan semangat dari panitia. Aku belajar banyak hal saat itu, ketua panitia yang saat itu berani mengeluarkan uang pribadinya untuk kami, berjualan nasi untuk menutupi kekurangan acara kami, spanduk bekas yang diolah menjadi karya yang kreatif. Sunguh Prima mengajarkanku arti pengorbanan.
            Suatu hari, saat fajar hampir tengelam, aku menerima sebuah pesan singkat bahwa motor ketua dapertemen kami hilang. Panik dan rasa sedih menghantuiku saat itu. Aku bergegas menemuinya. Dari kejauhan aku melihat dua wanita yang tak asing lagi bagiku. Kusapa dengan lembut, kusingkirkan rasa sedih dihatiku. Aku binggung ketika melihat wajah wanita itu  yang tak sedikitpun menampakan wajah sedih. Bahkan saat orang sekitarnya sudah mengkhwatirkannya, namun ia tetap tenang.
“ Kata pak ustad saya, semua titipan yang ada di dunia ini itu milik Allah dan motor saya hanya titipan, Allah akan mengantikan dengan hal yang lebih baik” tutur beliau. Prima bukan hanya mengajarku tentang kepenulisan namun juga mengajarkanku bagaimana seharusnya bersikap dan mendekatkanku kepada Yang Kuasa. Prima juga memperkenalkankanku dengan tim yang luar biasa, Perri dan Rangga, penulis pemula yang memiliki banyak kesalahan hanya utuk membuat sebuah  abstark. Namun siapa sangka, abstrak tersebut lolos diantara 183 tim lainnya. Prima bukan hanya sebuah ukm, namun ia sebuah keluarga. Keluarga yang siap mendengarkan keluh kesahmu, tangisanmu, bahkan ia akan  menjadi orang pertama yang menyalamimu jika engkau berhasil. Sebuah sekret yang kecil, menjadi bukti bisu perjalanan kami pemburu prestasi.

****Prima ibarat sebuah pensil yang mengaharuskan ku menulis sebuah karya dan prestasi. Prima juga sebuah penghapus yang mengahapus rasa takutku, rasa lelahku, dan dukaku****
 


Komentar