SIAPA AKU ?



SIAPA AKU ?
1
Sepercik cahaya memasuki lorong jendelaku, awan masih malu – malu menunjukan dirinya, mataku yang masih sayu kupaksa untuk menatap langit tetapi kali ini aku lebih memilih untuk menarik selimutku kembali.
“Mi........Mia......... ada yang datang.” Teriak ibu
“Siapa bu ?.” jawabku pelan
“Ini teman kamu Alfath.”
“Alfath?.”
Pikiranku lansung semberawut entah yang mana yang pertama yang ingin ku lakukan.
“Ahhhh benar – benar mengapa sepagi ini sudah datang Alfath oh Alfath” kerutuku
Cepat- cepat aku menemui Alfath dengan penampilanku seadanya karena aku tak menginginkan lelaki pujaanku itu menunggu lama.Ya, Alfath adalah bagian hidup baruku ia yang telah mengubah tangisku menjadi tawa, sepiku menjadi berwarna, dan mengoreskan cinta bagiku.
“Alfath.............. ayo cepat ke sekolah” ajakku
“Mi.......”(Alfath memandangiku dari atas ke bawah sambil menahan tawanya )
“Kamu lihat apa ? memang ada yang salah ?.” sembari melihat penampilanku
“lihat ke bawah deh.”
“Astaga” teriakku. Ternyata aku menggunakan  sepatu dengan warna yang berbeda.
“Ahhh betapa malunya aku di hadapan lelaki pujaanku  aku bersikap seperti itu.”
Sepanjang jalan aku hanya terdiam sunguh malu jika mengingat kejadiaan tadi rasanya aku ingin menghapus hari ini.
“Sudah jangan dipikirkan semua orang pernah mengalami seperti itu kok.” Seru Alfath membuka pembicaraan .
“Semua orang? Tidak aku rasa Cuma diriku.” (sambil memasang muka masam)
“Kamu marah?”
“Marah? Aku hanya heran melihatmu yang tertawa bahagia padahal itukan sangat memalukan. ”
“hahahaha Mia bagiku kamu menggunakan apapun itu tetap cantik.” Sambil memandangiku.
Dag – dig – dug hatiku berdesir, jantungku berdetak seperti sedang lari maraton. Tuhan,  diakah takdir bagiku, entahlah tetapi ku berharap begitu.  Seusai pulang sekolah aku duduk di depan rumah sambil senyum – senyum sendiri.
“Mi............ ibu ingin bicara” seketika lamunanku lansung buyar
“Apa bu”
“Alfath ? kamu pacaran dengannya?”
“iya bu”. Jawabku malu-malu
“Mi kamu anak ibu satu-satunya , ibu tidak memiliki siapa-siapa lagi selain kamu,  almarhum ayah kamu selalu berpesan agar ibu menjaga kamu.”.
“Emang Mia salah bu?”
“Tidak kamu tidak salah, tetapi cinta yang kamu rasakan saat ini  cinta sesaat, Kamu masih kelas 1 SMA.”
“Tidak bu, Mia yakin Alfath itu takdir Mia.” dengan nada sedikit meninggi.
”Mi,Cinta kamu itu nak cinta yang masih mengebu ibu tak ingin cinta itu nanti hanya menjadi abu. Kamu tahu memadamkan cinta yang kecil itu lebih mudah daripada memadamkan cinta yang berkorbar.Ibu tidak ingin kamu jatuh ke jurang yang lebih dalam.”
Ibu pergi meninggalkanku dengan rasa kesalnya. Aku masih saja mengeleng-geleng kepalaku menurutku pemikirkan ibu terlalu tidak masuk akal bagaimana bisa cintaku terhadap Alfath ia artikan cinta yang mengebu.












2
6 tahun yang datang.
“Ibu.......ayo lari ayo! Ahh ibu tidak mau main sambil Angel lagi”
Anak kecil itu memasang muka masam sedangkan ibu separuh baya yang bermain dengan si kecil itu sudah nampak kelelahan.
“Mi.....Mia”
“Iya bu” seru mia
“Kamu temenin adikmu bermain dulu nak ibu sudah lelah”
“Iya bu, Angel ayo main sama kakak aja”
“Ahh ibu, ayo kak mia “
Angel sangat bahagia bisa mengahabiskan waktu dengan mia, begitu sebaliknya.
“Kak mia kok ibu jahat sama angel?” sambil memasang muka cemberut.
“Jahat kenapa ?”
“Ibu selalu berhenti bermain sama Angel, apa ibu tidak sayang Angel?”
Mia tertawa kecil, “Angel itu disayang kok sama ibu.Bagi ibu angel adalah malaikat dan kekuatan bagi ibu,Jadi Angel gak boleh sedih lagi’’
(Wajah mia tiba-tiba berubah, air matanya mengalir ia merasa tersayat mengelurkan kata-kata tadi)
“Kakak kenapa nangis?”saambil mengusap pipi mia.
“Angel, orang dewasa memang suka nangis karena suatu alasan.”
“Kalau angel sudah dewasa angel nggak mau nangis sayang air matanya”
Mia tertawa geli mendengar perkataan Anggel itu.
(Di dalam batinnya mia berucap kuharap sampai dewasa nanti, engkau tidak akan meneteskan airmata karena apapun itu termasuk karenaku)
            Mentari kembali keperaduaannya, kini tinggal aku ditemani suara nyanyian jangkrik dan tetesan hujan yang membasahi jendela kamarku, sembari duduk menikmati hujan kucoba membuka tumpukan buku yang masih tertata rapi dikamarku,aku menemukan secarik kertas yang dibalut dengan warna merah muda kubaca perlahan-lahan.
Aku mencintaimu sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
Yang menjadikannya abu
Aku ingi mencintaimu sederhana
Dengan isyarat yang tak disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(Aku Ingin, Supardi Djoko Darmono)
Alfath
Surat tersebut mengingatkanku kejadian 6 tahun yang lalu. Saat itu aku terus melihat jam yang sudah menunjukan pukul 3 sore sambil bolak-balik menunggu  Alfath yang tak kunjung datang. Ketakutanku bertambah, saat langit berganti warna menjadi hitam dan rintik-rintik hujan mulai menetes.
Hampir setengah jam sudah aku menunggu Alfath,tetapi belum juga ada tanda kedatangannya.Aku tetap memilih berada di taman tesebut karena hujan semakin deras dan tak mungkin aku kembali kerumah.
5 menit berselang, aku melihat sosok lelaki dari kejauhan menggunakan dahan pisang sebagai payung. Ia terus berjalan mendekatiku dan melambaikan tangannya tetapi tak ku gubris.
“Mia...maafin aku.Aku telat berapa jam?”(dengan nada panik)
Mia hanya terdiam seribu bahasa.
“Mi................ Aku telat karena aku harus bantuin pak Jaka terlebih dahulu tetapi aku sudah disini sekarangkan aku terus mikirin kamu, aku tidak peduli hujan deras, aku juga gak peduli kalau aku bisa sakit karena ini, Cuma satu yang aku pikirin perasaan kamu.”
Mia tetap tak mau membuka mulut,kehadiran Alfath ibarat angin berlalu baginya dan kini ia berdiri merasakan hujan sambil memejamkan mata.
“Kamu tahu kenapa hujan diciptakan Tuhan ?” sambil memandangi mia tapi tetap tak ada jawaban.
“Agar kita menikmati rintikan tiap detiknya. Aku juga belajar dari hujan saat ia turun kehadirannya diharapkan sebagian orang tapi banyak juga yang mengeluh,padahal hujan hanya ingin dunia tersenyum sama denganku yang ingin selalu membuatmu tersenyum.
Alfath lagi-lagi ingin membuat mia berbicara, Mia sadar Alfath kini berdiri disebelahnya tapi ia ingin Alfath terus seperti ini menjadi hujan dalam hidupnya.
Hujanpun berhenti, mia segera mengambil tasnya dan melangkah pergi tanpa berpamitan ataupun mengucapkan sepatah kata untuk Alfath. Di tengah perjalanan mia membuka tasnya untuk mengambil telepon seluler dan jatuhlah sebuah kertas yang dibalut warna merah muda yang berisikan puisi pujangga ternama Supardi Djoko Darmono yang mengambarkan isi hati Alfath.
Mia tersenyum membacanya dan menuliskan pesat singkat untuk Alfath ‘maaf’ dan berapa detikpun ia menerima balasan ‘aku hanya berusaha mengertimu’.
“Mi......”teriak ibu. Membuyarkan lamunanku.
“iya bu”sahutku.
“Cepat sini,cepat .......mi’
“Iya bu,sabar.....”
“Cepat kamu duduk”(sambil menarik tanganku)
“Ada apa bu?”
“kamu diterima nak kerja di Jakarta”
“Jakarta” aku mencoba mengingat-ingat tetapi aku yakin aku tak pernah menuliskan apapun untuk dikirimkan ke Jakarta.
“Bu, mia tidak pernah nulis apapun mungkin salah kirim”
Ibu terdiam sejenak.”Ibu yang mengirimkannya mi. Ibu yang mengambil surat lamaran kamu dan mengirimkannya.
“untuk apa bu?,mia betah disini mia ingin bersama ibu dan tetap menjaga Angel,”
“Iya ibu tahu , tapi ini kesempatan kamu nak,ibu tidak ingin hidup kamu jalan di tempat.Masalah Angel biar ibu yang mengurusnya dari kecil Angel sudah dengan ibu kamu tidak perlu khawatir.Mi ....ibu ingin kamu bahagia,tolong dengarkan ibu (sambil memegangi tanganku).
Suara ibu menjadi sedikit lebih kecil dari sebelumnya
“Ibu hanya ingin kamu melupakannya,mengubur masa lalumu dan mengobati pedihmu. Ibu tahu kamu sering menangis dan gelisah dalam tidurmu.Mi ayo bangkit jadi mia yang ibu banggakan.”Ibu menunduk berusaha menyembunyikan tangisnya
Aku menatap ibu dengan pilu hanya ibu yang 6 tahun ini menemaniku mengerti semua kondisi.
“Iya bu mia mau kerja di Jakarta”(aku dan ibupun berpelukan)
3 hari kemudian aku berpamitan dengan ibu dan Angel,sulit rasanya meninggalkan kedua orang yang aku cintai ini namun apa yang bisa ku perbuat aku harus membuka lembaran hidup baruku.Aku berjanji dengan diriku sendiri aku akan menjadi mia yang baru.
“Kak mia mau pergi yah?”
“Iya tapi kak mia janji akan kembali lagi, kak miakan harus  main sama Angel lagi”
Aku menatap Angel dengan penuh kesedihan.




3
Sesampaiku di Jakarta,aku rasakan hiruk-piruk kota metropolitan itu, deretan kendraan yang berjejer bagaikan kumpulan semut yang sedang mencari makanan mungkin benar dunia ini kejam bayangkan saja di kota metropolitan ini aku melihat kebanyakan orang yang sibuk dengan dunianya sendiri entah sms,teleponan, dan kegiatan lainnya.
Terik mentari cukup menyengat rusukku, aku berkeliling untuk mencari tempat baru yang akan ku tinggalkan tetapi cukup susah yang kurasakan karena Jakarta sunguh kota yang padat. Sampai sore harinya aku menemukan tempat tinggal yang mungil,bersih,dan nyaman untukku seorang.
12 Januari 2012
Mentari sudah terbit dari arah timur aku bergegas menuju tempat baruku bekerja, sesampaiku di halte aku binggung  naik kendraan bewarna apa, banyak kendraan yang berlalu-lalang ada yang merah, kuning, trans jakarta, dan taksi. Batinku memilih warna kuning, beberapa menit satu per satu penumpang turun tetapi aku tak kunjung menemukan alamat yang ingin kutuju. Mungkin ini maksud ‘malu bertanya sesat di jalan’. Sial............ sudah 22 tahun umurku tetap saja kesialan itu masih ada sepertinya aku harus mandi kembang 7 warna untuk menghilangkan kesialan itu.

08.00 Wib di kantor
“Mbak permisi saya Mia Riyanti, saya menerima surat pemberitahuan bahwa saya diterima di kantor ini.” tegurku
“Tunggu  yah ...... mba saya cek terlebih dahulu” jawab resepsonis itu dengan ramah.
“iya silahkan.Bagaimana mbak?”
“Maaf mba yang ada Mia Rimayanti,mungkin mbanya salah.”
“Bagaimana salah saya sudah jauh-jauh dari Bandung ke Jakarta Cuma untuk ini, seharusnya kantor ini bertanggung jawab inikan kantor besar seharusnya lebih teliti untuk yang seperti ini.” wajahku lansung lesu, baju inipun basah karena keringat yang berjujuran.
Aku duduk termenung di depan kantor terbayang di benakku wajah ibu yang mengharapkanku menambah kepedihanku. Sepanjang jalan aku melihat penjual kaki lima yang menawarkan makanan yang mengiurkan. Akhirnya aku duduk di bangku tukang bakso karena terlihat sepi tak ada pengunjung sama seperti yang aku rasakan saat ini.
“Makan bakso dek.” Tegur tukang bakso itu.
“iya bang pedas yah”
“iya. Kenapa dek? Tidak dapat kerjaan yah ? memang sekarang itu susah cari kerja.”
Aku hanya senyum tipis.
“Adek darimana?.”
“Bandung bang, sebenarnya saya sudah diterima tapi ternyata salah nama”
“Bagaimana bisa ?”
“Kantornya bang kurang teliti.”
“Memang ya dek, orang kaya suka semena-mena hatinya terbuat dari batu.”
“Tapi dek itu seharusnya tidak boleh sudah melanggar UU kalau kamu mau itu bisa dituntut dek.”(aku melonggo mendengarnya)
Tukang bakso tadi menjelaskan panjang lebar tentang UU yang ia maksud. Aku sedikit paham dan baru menyadari tukang bakso ini bukan sembarang tukang bakso ia adalah seorang  sarjana hukum. Inilah kehidupan kadang takdir berkata lain ia tak bekerja di meja hijau melainkan bekerja untuk  gerobak hijaunya.
Perkataan tukang bakso tersebut serasa menamparku seharusnya aku lebih berusaha agar kantor tadi mau menerimaku atau meminta maaf kepadaku.
Setelah hari itu kuputuskan untuk kembali lagi ke kantor tersebut, kali ini aku ingin menutut hakku.
Keesokan harinya......
Aku sudah menunggu 1 jam di depan gerbang kantor tersebut sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Setiap orang yang berjalan melihatku sambil tersenyum akupun tak canggung membalas senyuman itu karena menurutku senyum itu ibadah.
Tettt.....Tet.................
Tiba-tiba berhenti sebuah mobil sedan.
“Maaf pengemis dilarang masuk mbak?” seru lelaki tinggi berwajah sawo matang yang menggunakan jas hitam mahal itu.
“Pengemis? Pak saya ini bukan pengemis.”
Aku mengeluarkan dompetku tapi sialnya di dompetku hanya ada KTP dan uang 20000. Aku berusaha mencari lagi di kantong bajuku jatuhlah uang 500 rupiah dan 200 rupiah dari sakuku. Aku lansung menginjak uang tersebut untuk menutupi rasa maluku.
“Minggir” seru lelaki itu.
“Kamu tahu uang 500 rupiah dan 200 rupiah ini jika dibandingkan dengan isi dompet saya tidak ada apa-apanya bahkan untuk membeli jas hitam ini saja tidak bisa.” Dengan tatapan tajam.
Lelaki itu menarik tanganku dan meletakkan uang 700 rupiah tadi. Aku masih heran melihat lelaki itu bukan permintaan maaf yang kuterima malah penghinaan. Emosiku meledak lansung saja kuambil sepatu untuk melemparnya.
Prak.........Prak
Celaka bukan lelaki berjas hitam itu yang terkena melainkan lelaki tegap berkulit putih yang merintih kesakitan.
“Maaf.......Maaf saya tidak sengaja.”
“Tidak apa- apa, besok lebih hati-hati lagi yah”
Sungguh menakjubkan aku mendengarnya, hatinya selembut bak salju sungguh berbeda dengan lelaki yang berjas hitam tadi. Lelaki itupun pergi meninggalkanku tanpa ku tahu namanya.
Akupun kembali ketujuan awalku mendapatkan pengakuan maaf dari kantor tersebut. Aku teringat dengan lelaki berjas hitam itu, penampilannya menunjukan seorang bos, kurasa ialah pemilik perusahaan ini yang seharusnya bertanggung jawab atas nasibku ini.Tanpa pikir panjang lagi aku lansung menerobos untuk mencarinya.
“Permisi pak.”
“Kamu lagi, kamu mau apa sekarang? Sekuriti....sekuriti” teiaknya
“Pak jangan saya mau bicara baik-baik sama bapak” dengan nada sedikit memelas
“Memang kamu mau bicara apa oh jangan-jangan kamu mau minta 300 rupiah untuk melengkapi uang kamu biar seribu gitu ? mau beli apa? permen kasian....yah”
Aku meredam kemarahanku kalau bukan ia pemilik perusahaan ini tak ingin sedikitpun ku menghormatinya.
“Aduh gimana yah, saya tidak ada uang recehan, tapi syukur kamu ketemu saya ini untuk kamu(sembari mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang bergambar pangeran antasari).
Wajahku kini semakin merah padam kurasa lelaki ini tak pernah diajarkan sopan-santun oleh kedua orang tuanya atau ia yang menutup hatinya untuk kebaikan dan bukan hanya mulutnya saja yang seperti bisa ular tetapi senyum yang ia pancarkan membuat semua orang yang melihatnya seperti ingin memukulinya. Aku mengelus-ngelus dadaku mencoba sabar dan tetap tersenyum walau senyum yang kupancarkan senyuman palsu.
“Maaf pak saya kesini bukan untuk itu jika bapak berpikir saya hanya ingin uang bapak, bapak salah besar!.Saya kesini mau komplen atas kinerja perusahaan bapak ini bagaimana bisa sebuah perusahaan yang besar dengan bangunan yang menjulang tinggi melakukan kesalahan nama pegawai yang ingin diterimanya. Asal bapak tahu saya dari Bandung kesini dan akhirnya saya tidak diterima karena hanya salah nama. Sangat miris sekali kantor ini dipimpin oleh orang yang tidak tahu sopan santun dan berhati batu dan semua itu tercermin ketika saya melihat bapak.”
Aku tersenyum menang, wajah lelaki itu berubah seakan singa yang melihat mangsanya seperti ia ingin melumatku sampai habis.
“Sekuriti................sekuriti” dengan nada yang keras
“wow bahkan sekarang saya menemukan sifat bapak lagi yaitu pengecut, seorang pengecut tidak akan mampu menghadapi masalah yang ia hadapi ia akan berlari sejauh mungkin.”
“Jadi sekarang mau kamu apa?” bentak lelaki itu.
Aku menjelaskan panjang lebar  tentang  UU yang dikatakan tukang bakso itu. Lelaki berwajah sawo matang tersebut semakin terpojok, kini aku rasa semakin dekat aku bisa bekerja dikantor ini. Benar saja aku diterima olehnya.
Aku lansung jingkrak-jingkrak kegirangan kusalami kedua tangan lelaki itu bahkan yang membuatku lebih bahagia aku ditempatkan menjadi sekretaris.




4
Seminggu berlalu aku menjalani training dan memngetahui bahwa aku adalah sekretaris pak Bram, orang kebanyakan mengatakan bahwa Pak Bram adalah sosok lelaki yang baik hati dibalik wajahnya.Ini menambah semangatku di pikiranku tergiang-giang sosok lelaki tegap berwajah putih yang pernah kulempari sepatu, aku berharap ia adalah bosku.
Pagi harinya aku dikenalkan dengan atasanku.
“Perkenalkan pak, saya Mia Riyanti sekretaris baru bapak mohon bimbingannya pak”
Betapa terkejutnya aku ketika lelaki itu memalingkan tubuhnya. Pak Bram adalah lelaki yang ku temui beberapa hari ini, lelaki yang memiliki sifat angkuh dan sombong itu. Aku mencoba menatapnya lekat-lekat mengingat orang di sekitar kantor mengenal Pak Bram sebagai sosok yang baik hati apa ini dikatakan baik hati? Aku hanya bisa menelan ludah melihat sosok yang ada di depanku saat ini.
Lelaki itu menatapku dengan tajam lalu tersenyum. Kurasa ia sudah merencanakan semua ini apa yang diinginkannyadariku, banyak pertanyaan menghantuiku.
Sehariku bekerja dengannya ibarat sebulan lamanya, aku seorang sekretaris tetapi bekerja layak OB membuat kopi untuknya, membersihkan meja kerjanya, dan dengan jari manisnya itu ia semena-mena terhadapku.
Hari demi hari berganti setiap malam seusai bekerja tulangku rasanya ingin copot dari tubuh ini. Disuatu malam aku tertatih aku tak mampu lagi berjalan pulang aku duduk di trotoar jalan untuk mengambil nafas. “Betapa bahagianya aku jika ada pangeran yang berbaik hati menolongku” batinku.
Tiba-tiba sorotan lampu mobil menyilaukan mataku.
“Mia”
Aku mencoba menatapnya. Ahh Pak Bram Tuhan mengapa harus ia yang melihatku.
“Iya pak.”
“Kamu sakit?”
 “iya pak, saya tidak enak badan.”
“Saya kira kamu tidak bisa sakit” senyum tipis
“Robot saja bisa rusak pak apalagi manusia.”
“ya sudah sini saya antar”
“Tidak perlu pak rumah saya jauh”
“Jauh ? seberapa jauh? Ayo cepat” sambil menarik tanganku.
“Pak, bapak itu mau ngantar manusia bukan hewan peliharaan jangan asal tarik tangan orang.”
“Maaf.... ini pertama kalinya saya ngantar seorang wanita”
Aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
“Makanya pak jangan galak bapak itu harus belajar tersenyum dengan orang lain karena menurut saya bapak itu tidak jelek cuma kurang ganteng aja ”godaku.
Lelaki itu memasang wajah cemberut.
“Saya Cuma becanda pak jangan dimasukin hati.”
“Saya itu tidak terlalu memikirkan cinta menurut saya nomor 1 itu  pekerjaan.”
“Nah lo bapak mau jadi bujang lapuk”
“Tenang kan sudah ada kamu.”
Aku dan pak Bram tertawa terbahak-bahak, kali ini pemikiranku sedikit berubah tentang sosok lelaki yang satu ini. Beberapa menit berlalu kami sudah sampai di rumahku.
“Makasih pak saya masuk duluan.”
“iya mi....”
 “Jangan panggil saya bapak jika di luar kantor kita masih seumuran kok ya beda tipis saya masih 25 tahun tidak pantaskan jika dipangil bapak.” Sambil mengedipkan matanya
Aku hanya mengacungi kedua jempolku.
Sebulan sudah aku bekerja kedekatanku dengan Bram semakin bertambah. Di kantor Bram sangat memprihatikanku bahkan kadang karena perhatian tersebut banyak orang yang membicarakan kami aku sedikit terngangu dengan semua itu tapi aku berusaha menutup telingga anggap saja angin berlalu.
Suatu hari aku mengambil cuti karena penatnya bekerja, aku pergi ke rumah sakit untuk memeriksa keadaanku yang semakin hari kurasa semakin menurun. Sesampainya di rumah sakit aku bertemu dengan seseorang yang yang tak asing bagiku.
“Eh kamu...” samil memukul pundaknya,
“Aduh,,,,maaf siapa yah” sambil merintih kesakitan.
“Aku yang pernah melemparimu dengan sepatu. Ingat?”
“Ouh iya, tenaga kamu itu seperti cowok yah kemarin lempar sepatu sekarang pukul pundak orang.”
“Maaf-maaf kenalin aku Mia” sambil menggulurkan tanganku.
“Aku zain.”
“Kamu sedang apa disini?”
“Aku dokter disini. Kamu sendiri sakit apa?”
“Aku Cuma kecepaian aja. Lansung kamu kok pernah di kantor Bram?”
“Ouh itu aku sepupunya Bram. Kamu siapanya Bram?”
“Aku sekretaris Bram”
Nada hpku berdering sebuah pesan singkat dari bram.
Mi,, kamu sakit ? sakit apa? sudah minum obat? Sudah ke dokter belum?  Sudah makan atau kamu mau dibelikan sesuatu? aku ke rumahmu sekarang yah.
Aku sedikit binggung ingin menjawab apa pertanyaan Bram bertubi-tubi untukku.
“Sms dari....”
“Bram” potongku.
Aku menulis pesan singkat untuk Bram.
Aku di rumah sakit sekarang dan aku bertemu dengan Zain,sepupumu disini.
“Maaf mia aku harus kembali lagi bertugas titip salam untuk Bram yah”
“Ouh iya”
Zainpun meninggalku tapi mataku masih tetap tertuju padanya lelaki itu terlihat ramah dengan semua orang senyum manisnya, sikapnya yang begitu sopan, kurasa wanita yang memilikinya sangat beruntung. Aku masih penasaran terhadap sosok lelaki itu diam-diam aku mengikutinya. Ia masuk ke kamar pasien, ada sosok anak perempuan kecil yang begitu senang melihat kehadirannya.
“Pak dokter. Kok lama datangnya.” Sahut anak kecil itu.
“Iya tadi pak dokter ketemu seseorang.”
“Pacar pak dokter?”
“Bukan, anak kecil kok tahu pacar-pacaran ini untuk kamu supaya cepat sehat”. Sembari memberi lolipop untuk si keci itu.
Aku menatap sikap Zain yang begitu baik, anak kecil itu mengingatku dengan Angel sepertinya aku merindukan angel.
“Teman pak dokter perempuan yah?”
“iya”
“Itu....”sambil menunjukku yang mengintip lewat jendela.
Aku melambai-lambaikan tanganku dan hendak pergi. Aku tak tahu harus menjawab apa jika Zain menanyaiku.
“Mi....” teriak Bram. “Kamu sakit apa? kok bisa sampai masuk rumah sakit?.Bram begitu panik menatapku.
“Tidak, aku tidak sakit Cuma kelelahan.”
“Bram” Sahut Zain berjalan menuju kami.
“Hai Zain, Apa kabar lama tidak bertemu denganmu.”
“Alhamdullilah sehat. Mi tadi mau ngapain ngintip lewat jendela.”
“Aku.....(aku dengan nada terbata-bata sambil memikirkan jawaban yang pantas untuk aku jawab)
“Kalian sudah saling kenal ? tanya Bram.
“Sudah mia ini waktu itu ingin melempari seseorang sepertinya sedang emosi tapi malah aku yang terkena”
“Memang kamu ingin melempar siapa mi.” Tanya Bram lagi
“Kamu” jawabku spontan.
Aku baru sadar atas jawabanku. Bram sepertinya tidak terima atas jawabanku ia pergi meninggalku dengan zain.
“Mi,,,,kamu beneran waktu itu mau melempari Bram?”
“Iya aku waktu itu emosi zain”
“Lansung kamu biarin Bram pergi begitu saja” sahut zain.
Aku lansung berlari mengejar Bram tapi sayang aku telat mengejarnya. Cepat-cepat aku menulis pesan singkat untuknya.
Bram, aku minta maaf waktu itu aku terbawa emosi dengan sikapmu. Aku mohon maaf sekali lagi.
Aku masih menunggu balasan dari Bram. Aku duduk di depan rumah sakit tersebut aku tak mengira Bram akan sakit hati atas pernyataanku. Zain yang dari tadi menemaniku mencoba menghiburku. Aku tertawa bersama dengan Zain melupakan masalahku dengan Bram.










5
Keesokan harinya.....
“Bram” tegurku.
“Kamu tidak punya sopan santun terhadap atasanmu panggil saya bapak, kamu pikir kamu siapa bisa memanggil itu seenaknya.”
Bram kembali ke pribadi yang pertama ku kenal, bersikap semaunya dan kasar terhadap orang lain. Aku hanya terdiam melihat Bram. Sepulang kerja aku sudah menunggu Bram di depan mobilnya.
Lelaki itu melihatku dan berusaha menjauhiku.
“Bram,,,,aku minta maaf waktu itu jujur aku emosi dengan sikap kamu yang sombong, angkuh.... belum sempat aku melanjutkannya Bram pergi meninggalkanku.
“Bram”teriaku.
“Kamu pikir aku marah karena itu, iya aku sombong, aku kasar dan menurut kamu zainkan yang lelaki yang baik hati dan ramah. Kamu pikir aku pergi meninggalkan kamu di rumah sakit nggak mi aku khawatir dengan kamu tapi apa kamu tertawa-tawa dengan Zain seperti melupakan aku. Sudah anggap saja tidak ada Bram di kehidupan kamu.”
Aku tertegun mendenggarnya.
“Bram kamu cemburu dengan Zain?” tanyaku dengan nada ingin tahu.
Bram tak kunjung menjawab tubuhnya kaku, badannya serasa membeku,aku ingin tertawa melihat ekspresi Bram.
“Cemburu, tidak aku tidak cemberu”
“Bram, aku minta maaf denganmu masalah itu Zain hanya menghiburku ia tahu jika aku sedang sedih.”
“Kamu sedih karenaku ?” Tanya Bram sedikit menyelidik.
“Iya aku sedih karenamu aku takut jika kamu terluka padahal kamu sudah rela-relain ke rumah sakit.”
Bram tertawa terbahak-bahak mendengar ucapanku.
“Kamu itu jadi orang jujur banget sih” sambil mencubit pipiku.
Pipiku memerah. Perasaan cinta 6 tahun yang lalu yang telah ku kubur kembali ke permukaan hanya saat ini bukan Alfath yang ku cintai melainkan Bram tapi ku coba meyakinkan hatiku bahwa Bram adalah lelaki yang tepat bagiku. Aku tak ingin cintaku kembali menjadi abu.
Setelah kejadian itu hubunganku dengan Bram semakin baik. Kamipun melewati hari bersama-sama kembali.  Disaat liburan Bram mengajakku ke pantai di wilayah Bandung. Pantai itu mengingatkanku dengan Alfath banyak kenangan didalamnya.
“Alfath kita mau kemana sih”
“Udah tenang aja” sambil memangangi mataku.” Tara...... lihat deh mi indahkan pantainya.”
“alfath kita ngapain kesini.” Tanyaku.
Alfath mengambil gitarnya menyanyikan sebuah lagu yang pernah dipopulerkan oleh Roulete.
Awalnya ku tak mengerti apa yang sedang kurasakan
Segalanya berubah dan rasa rindu itu pun ada
Sejak kau hadir di setiap malam di tidurku
aku tahu sesuatu sedang terjadi padaku
Aku jatuh cinta kepada dirimu
Sunguh sunguh cinta oh apa adanya
Waktu itu aku terkesima melihat sosok Alfath di pantai inilah alfath menyatakan cinta kepadaku.
“Mi....mia?” tegur Bram membuyarkan lamunanku
“Eh, iya Bram .”
“Kamu kenapa?”
“Aku hanya teringat teman aku saat aku kesini dengannya”
“Mi.... hari ini aku ingin membuat sebuah pengakuan untukmu, 18 Agustus 2018  pukul 4 sore lewat 5 menit ini aku ingin mengatakan ‘Aku Jatuh Cinta kepada mu’ iya aku bukan sosok lelaki yang romantis seperti yang kamu harapkan, aku bukan seorang pangeran tetapi aku akan menjadi lelaki yang mencintaimu sampai akhir hayatku.” Sambil mengengam tanganku.
 “Bram, aku bukan seorang putri, aku banyak memilki kekurangan yang tak pernah orang ketahui, aku bukan wanita yang sempurna seperti kebanyakan lelaki idamkan. Aku hanya tidak ingin kamu kecewa.”
“Mi, aku tidak berpikir kekuranganmu menurut aku kamu wanita dengan sejuta kelebihan. Aku tidak ingin tahu kamu pernah berpacaran dengan siapa, aku tak mempersalahkan jika aku bukan yang pertama untukmu tapi ku mohon jadikan aku yang terakhir untukmu.”
Aku menangis mendengar perkataan Bram. Lelaki ini begitu mencintaiku tapi aku tak mampu jujur terhadap perasaanku sendiri, luka yang digoreskan Alfath begitu membekas. Saat ini aku belum ingin membuka hatiku untuk lelaki lain.
“Maaf Bram, aku belum bisa membuka hatiku ini.” jawabku
“Aku akan selalu menunggumu mi, aku akan berusaha untuk menyakinkan hatimu.”Aku hanya tersenyum melihat lelaki yang di depanku ini. Ia belum mengerti betapa pedihnya cinta itu.
Aku dan Bram yang masih berada di Bandung menyempatkan diri untuk mengunjungi Ibu dan Angel. Rumah munggil itu tampak sepi dari keramaian.
“Ibu,,,,,,, Angel......... mia pulang”. Tak ada satupun sahutan yang menjawabku.
“Mi.... ibu kamu lagi pergi mungkin” seru Bram.
“Tunggu yah Bram aku masuk dulu.”
Aku masuk ke dalamnya ku pandangi wanita yang separuh baya tersebut duduk di kursi tua miliknya sembari membaca lembaran surat.
“Ibu....” panggil ku lirih. Wanita separuh baya itu memperbaiki kacamatanya pengelihatannya yang sudah tampak tak jelas membuatnya susah untuk melihat .
“ Kamu anak ibu, Miakan?”
“Iya bu”. Aku lansung memeluk ibu.”Angel mana bu?”
“Angel sedang bermain dengan temannya nak kamu rindu dengan Angel yah nak?” ibu mengusap rambutku.
”iya bu, mia juga rindu sama ibu, ibu sedang membaca apa ?”. Ibu lansung menyembunyikan lembaran kertas yang dibacanya tadi.
Aku memandangi ibu dengan penuh curiga. Aku melihat amplop yang bertuliskan nama Alfath.
“Ibu itu surat dari Alfath?.” Ibu jawab mia bentaku. Ibu hanya menganguk.
“Ibu kok tidak memberitahu mia bagaimanapun mia harus tahu, selama ini mia mencari  keberadaan Alfath dan ibu hanya jadi patung yang menutup mulut ini dengan rapat, ibu tahukan Alfath ayah dari Angel anak mia bu”
“Mi tutup mulutmu! ibu tidak ingin menyembunyikan ini tapi ibu harus melindungimu melindung Angel. Untuk apa nak kamu mencari lelaki itu ia ayah dari anakmu tapi ingat mi dia yang membuat hidupmu seperti ini.” bentak ibu.
6 tahun  yang lalu.
Saat aku masih duduk di kelas 1 SMA aku sangat mencintai Alfath begitu juga ia, ibu selalu menasehatiku tetapi aku menutup mata dan telingaku. Aku yang sedang mabuk asmara terbawa dengan rasa hawa nafsu yang begitu besar. Sampai akhirnya aku melakukan kesalahan, hamil di luar nikah.
Ya. Angel adalah anak buah cinta kami ia bukan adikku tapi ia adalah anakku. Anak yang ku kandung selama 9 bulan dengan penuh kepedihan karena aku tak bisa mengakuinya sebagai anak. Dunia memang kejam ia membunuh seorang dengan perlahan, bahkan yang menambah kepedihanku Alfath.
“Alfath aku hamil, anak kamu.” pengakuan pahit tersebut harus ku ucapkan.
“Kamu hamil?.” Alfath tertawa terbahak-bahak “mi kamu becanda kan?”
“Aku serius ini anak kamu.”
“jadi...? aku harus bagaimana?”
“kamu harus bertanggung jawab, kamu harus nikahi aku.”
“Mi kamu gila kita masih kelas 1 SMA aku anak tunggal anak satu-satunya harapan keluargaku bagaimana bisa aku nikah denganmu, Mi aku mohon kamu gugurkan anak ini? kita harus melanjutkan studi kita mi aku harus mendapatkan gelar sarjana baru aku mau menikah mi.”
Aku lesu melihatnya. ”Kamu bilang gugurkan? Hati kamu terbuat dari apa Alfath aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku”
“Iya mi aku juga mencintai kamu tapi aku tidak bisa menerima anak ini.”
Alfath meninggalkanku untuk selamanya ia pindah sekolah untuk melanjutkan pendidikannya sedangkan aku harus mengandung angel. Ibu yang melihat kondisiku membawaku ke desa yang terpencil tak berpehuni, ibu tak ingin satu orangpun tahu keadaanku.
Iya aku yang menciptakan kepidihanku sendiri. Andai aku tidak terlalu cinta kepada Alfath, andai Alfath menikahiku kini semua tinggal pengadaian. Sampai akhirnya aku melahirkan sosok perempuan kecil yang tak berdosa itu aku memberi namanya Angel karena ia malaikat bagiku.
Ibu yang selalu merawatku mengajakku untuk pindah ke Bandung, tempat yang saat ini kami diami dengan satu syarat aku harus mengakuinya sebagai adikku bukan anakku. Semua syarat itu untuk menghindariku agar tidak dihina orang lain.
Aku mengambil surat yang dibaca ibu tadi. Aku membaca kata demi kata yang tertulis di dalamnya.
Bagaimana kabarmu Mi? aku disini sudah mendapatkan gelar sarjanaku tetapi aku tak pernah hidup dengan ketenangan semua rasa bersalahku menghantuiku mi. Mi aku selalu mencarimu sungguh sulit untuk mendapatkan alamat ini.
Aku minta maaf mi atas apa yang aku lakukan padamu 6 tahun silam. Aku minta maaf aku tak bisa menjadi ayah yang baik untuk anak kita? Oh ya apakah anak kita sudah tumbuh besar? Siapa namanya? Aku minta maaf karena aku belum bisa mengunjungimu tapi aku berjanji dengan diriku sendiri aku akan tetap mencintaimu aku akan kembali dengan rasa cintaku.
Salam rindu dari sosok yang selalu mencintaimu
Alfath.
Selain surat itu alfath juga menuliskan puisi untukku.
Tersenyumlah saat kau mengingatku
Karena saat itu aku sangat merindukanmu
Dan menangislah saat kau mengingatku
Karena saat itu kau tak berada disampingmu
Tetapi pejamkanlah mata indahmu itu
Karena saat itu aku berada di dekatmu
Karena aku telah berada di hatimu untuk selamanya
Tak ada yang tersisa lagi untukku
Selain kenangan-kenangan indah bersamamu
Hati,cinta dan rinduku adalah milikmu
Cintamu tak kan pernah membebaskanku
Mana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain
Cintamu akan tetap tinggal bersama sayapku hingga kematian
Aku yang membaca surat itu lansung memerasnya dan membuangnya. Semudah itukah dia menulis surat ini dalam batinku. Kini cintaku terhadap Alfath telah berubah menjadi benci, benci yang tak mampu dihapus dengan untaian kata indah, benci yang membuatku berada tanpa ada seberkas cahaya. Aku lansung memeluk ibu dan menyembunyikan teteskan airmataku, batinku tak mampu menahan kepedihanku.
“Mi....” tegur Bram yang sudah menunggu lama di luar.
“Bram ....maaf aku lupa mengajak kamu masuk ” sambil mengusap air mataku.
Lelaki itu mendekati kami dan menyalami ibu.
“Siapa ini mi? Tanya ibu sambil melirik ke arah Bram.
“Ini bram bu, bos mia di jakarta.”
“Astaga ibu kira kamu kesini sendiri nak, kamu tidak bilang ada bos kamu disini. Bapak mau makan apa pak? makanan disini tidak kalah pak dengan dengan makanan di jakarta kok pak.”
“Ibu jangan repot-repot saya bisa makan apa saja selama itu sama mia.”
Ibu melihatku dengan tatapan layaknya detektif.
“Ibu saya ingin meminta restu, saya mencintai mia”. Aku lansung mencubit Bram.
Ibu tertawa geli melihat tingkah kami, tanpa malu Bram menunjukan kemampuannya melakukan pekerjaan rumah, rumah ibu yang tadinya penuh dengan debu kini terlihat lebih layak untuk disebut rumah. Bram juga mampu membuat ibu tertawa dengan guyonannya. Aku terus menatap dari kejauhan, lelaki itu telah mencuri hatiku dan ibuku.
“Kak mia..... panggil anak kecil dengan penampilan kotor saat itu.
“Angel....”
“Kak mia angel kangen dengan kakak” sambil mendekatiku.
“Eitss kakak mia tidak mau memeluk angel, kok bajunya kotor banget lansung bau asam lagi”.Perempuan kecil itu lansung cemberut.
“Jadi kak mia dari jakarta Cuma mau bilang angel bau?”.
“Udah sana mandi” sambil mendorong tubuh angel ke kamar mandi.
Beberapa menit berlalu, aku yang tengah asyik berbicara dengan ibu dan Bram terkejut melihat penampilan angel.
“Angel mau kemana nak? Tegur ibu.
“Main bola bu, teman-teman angel sudah menunggu di lapangan”.
Aku masih saja tercengang melihat penampilan angel, perempuan kecil itu memakai baju bola yang di belakangnya bertuliskan nama Cristian Ronaldo dan tak kalah hebatnya ia menggunakan sepatu bola layaknya pemain bola profesional.
“Angel baru pulang mau main lagi, angel gak kangen sama kak mia?” seruku
Angel tetap berdiri di tempatnya seperti engan  menatapku sepertinya ia masih marah karenaku.
“Kata kak mia angel bau, ya udah angel gak mau dekat-dekat sama kak mia.”
Aku lansung menghampiri perempuan kecil itu dan mengendongnya. Ia memberontak tak terima.
“Angel jangan marah dong sama kak mia, kak mia kangen sama angel” sembari mengusap rambutnya.
“Ini adikmu mi?”tegur Bram.
“Iya, ayo angel kenalan sama kakak ini.”
“Hai adik manis siapa namanya?” sembari mengulurkan tangan.
“Kak mia, angel manis yah?” tanya angel padaku.
“Iyalah, angelkan adiknya kak mia, kakaknya aja cantik masa adiknya nggak.” dengan senyum bangga
“tapi adiknya lebih cantik kok daripada kakaknya” sahut bram dengan senyum sinisnya. Angel pun ikut menertawaiku.
            Hari itu ku habiskan di rumah ibuku. Kulihat Bram yang penuh kasih sayang terhadap Angel, lelaki itu menunjukan kepegawainnya bermain sepakbola. Aku melihat mereka layaknya seorang ayah dan anak.
“Kak mia, angel kalah sama kak Bram skornya 2-0. Kak mia ayo ajarin angel main sepakbola”. Sambil menarik bajuku.
“Angel kamukan perempuan masa iya main sepakbola seharusnya kamu itu bermain sama anak perempuan main boneka,main masak-masakan.”
“Angel gak suka kak main kayak gitu.”
“Sudah nanti kakak bram ajarkan yah kalau kesini lagi”
Angin berhembus tenang mentari kembali keperaduannya. Aku dan Bram bergegas pergi ke jakarta. Sebelum melangkah pergi dari rumah ibuku. Ibu sempat berbicara empat mata denganku.
“Mi, ibu ingin kamu menikah dengan Bram. Ibu melihat sosok Bram penuh kasih sayang ia bisa menerima angel dengan sepenuh hati nak. Saat ini kamu butuh pendamping hidup dan semua itu ada pada Bram”.
Selama perjalanan aku terus memandangi Bram, sosok yang duduk di sampingku. Wajahnya tak menunjukan kekecewaan terhadap penolakanku, bahkan ia selalu berusaha membuatku tertawa entah karena tingkahnya yang lucu maupun ucapannya yang menirukan tokoh kartun.
“Bram, aku ingin berbicara denganmu.”
“nah lo, kitakan sudah berbicara daritadi.”
“Tapi kali ini aku serius Bram bukan becanda, mungkin kedengarannya aneh tapi aku berharap kamu bisa menerimanya.”
“memangnya ada apa ?.”
“Bram, aku memikirkan ucapanmu tadi sore ketika di bandung dan aku mau ......”
“Pembicaraan yang mana, memang ada hal yang penting yah yang aku bilang ke kamu?” belum sempat aku melanjutkan perkataanku bram sudah memotongnya.
Aku menatap lelaki itu seperti tak terjadi apa-apa antara aku dengannya, Ia seolah mengidap penyakit amnesia. Aku menggaruk-garuk rambutku yang tak terasa gatal. Aku binggung untuk mengungkapkannya apakah secepat itu Bram menghapus perasaannya untukku padahal belum 24 jam.
“Mi,,, jadi kamu mau bicara apa?”.
“Aku lupa mau berbicara apa?”dengan nada yang ketus.
“Awas nanti menyesal.” Bram berusaha mengodaku.
Aku hanya sibuk sendiri dengan handpone selulerku melihat pesan masuk di dalamnya  padahal di  Handphoneku tak ada satupun pesan, bahkan hal konyol yang ku lakukan aku menghidupkan nada dering hpku dan seolah-olah aku sedang di telpon oleh seorang. Suasana di dalam mobil semakin hening, Bram nampak serius mengendrai mobilnya.
“ Mi,,,, tadi kamu di telpon oleh siapa? Kamu lagi dekat dengan seseorang yah? Kelihatannya sangat akrab”
Aku tersenyum di dalam hatiku ternyata Bram memandangi tingkahku.
Aku berusaha memikirkan satu nama yang akan ku jadikan kambing hitam “hmmmmb Ouh itu zain, sepupu kamu.” Jawabku dengan ragu- ragu.
“Ouh dia bilang apa?”
“Memang aku harus bilang ke kamu gak kan.”
Bram lansung menghentikan mobilnya di tengah ramainya kendraan yan berlalu lalang di ibukota.
“Bram ini belum di rumahku, mobilnya mogok yah”
“Tidak aku sengaja, ayo turun aku mau pergi mencari pacar baru untukku maaf yah mi.”
Aku tercenggang mendengarnya. lelaki itu kembali menunjukan sikap sombongnya dengan senyum sinis yang mematikan. Aku turun dari mobil Bram dan kini aku hanya melihat mobil Bram melaju dengan pesat dari kejauhan. Aku menunggu kendraan yang lewat tetapi tak ada satupun yang ada, malah aku ditemani dengan nyamuk yang sangat merasa lapar dan aku menjadi makanan empuk untuknya.
Setengah jam berlalu tetap tak ada kendraan yang berhenti aku mencoba menghubungi Bram,tetapi niat itu ku urungkan melihat  sikapnya yang begitu menyebalkan. Mataku yang sudah sayu membuatku tertidur di pingiran trotoar.
*****tetttttt.... bunyi klakson mobil yang kuat  membangunkanku dari tidurku.
“Ayo cepat masuk” tegur lelaki itu.
Aku mengusap-ngusap mataku untuk melihat siapa yang menghampiriku.Ternyata ia adalah Bram.
“ Kamu ngapain kembali lagi sudah dapat pacar baru?” tanyaku.
“Dasar kamu kira aku serius, aku bukan orang yang gampang menyatakan cinta untuk orang lain lalu melupakannya.”
“Jadi kamu kenapa?”
“Aku ke rumah Zain”
“Zain, Untuk apa ?”
“Kata kamu orang yang menelpon kamu tadi orang yang penting untuk kamu jadi aku memastikan perasaan zain untukmu.”
“Kamu cemburu.”
“Kenapa harus cemburu, zain tadi tidak menelpon kamu kan kamu bohong sama aku kan.”
Aku terdiam kebohonganku terunggap, aku tak tahu lagi harus memberi alasan apa algi.
“Jadi orang yang kamu anggap penting di hidupmu siapa?.” Tanya Bram dengan nada datar.
“ entah, aku binggung lelaki itu kadang bersikap seperti pangeran yang membuatku layaknya putri tapi  kadang lelaki itu seperti  orang yang ingin membunuhku dengan sikapnya.”
“Lalu kamu ingin lelaki seperti apa?”.
“Aku tak pernah meminta seorang pangeran karena ku tahu aku bukan seorang putri aku hanya menginginkan lelaki yang mencintaiku sepenuhnya bukan cinta yang tergantung pada waktu. Bram aku mau kamu lelaki itu adalah kamu, aku akan mencoba membuka hatiku untukmu mungkin akan terasa lama jadi aku mohon jangan pernah ubah persaanmu untukku. ”
Aku menoleh kehadapan Bram ternyata ia sedang asyik mendengarkan lagu dan memakai handset. Aku menghela napas berat dan menghelus-elus dada.
“Bram, kamu tidak dengarkan aku daritadi”
Bram melepaskan handset yang ada di telinganya.” Apa mi, kamu bicara denganku.”
“ouh tidak, aku gak bicara apa-apa”
Sesampaiku di rumah aku lansung turun dari mobil Bram, mataku yang sudah sayu membuat langkahku gontai untuk jalan kerumah.
“ Mi,,,,,, aku akan meyakinkan hatimu untuk memilihku” teriak Bram.
Aku menolehnya, Bram ternyata mendengarkan apa yang aku bicarakan hatiku terasa bergoncang perasaan ini kembali setelah 6 tahun lamanya, perasaan itu bernama ‘CINTA’ .














6
Sesudah kejadian itu aku semakin dekat dengan Bram ibarat garpu dan sendok yang saling membutuhkan. Sampai suatu hari, Bram harus pergi meninggalkanku untuk bekerja di luar daerah. Lelaki itu selalu menyembunyikan masalah yang ia hadapi, mulutnya seolah tertutup jika aku tanya tentang nasib perusahaan. Akupun tak bisa menghentikannya itu semua untuk perusahaan yang ia bangun dengan jerih payah. Bahkan yang membuatku sedih Bram berpamitan hanya melalui pesan singkat.
            Mi, aku harus pergi ke luar daerah untuk jangka waktu yang belum ditentukan. Aku akan bekerja disana untuk mengembalikan perusahaanku.
Ketika Bram sedang dirundung kesedihan dan penatnya ia bekerja di luar daerah ia menemukan sosok wanita baru bernama Lusi. Wanita itu adalah anak dari pejabat yang tersohor di tempat Bram bekerja. Bram dapat berkenalan dengan lusi karena ada campur tangan ayah lusi. Ayah lusi sangat terobsesi terhadap Bram bukan karena bram sangat baik hati ataupun lainnya tapi karena iya terlahir dari keluarga yang kaya raya juga. Ayah lusi menjadikan Bram sebagai sasaran empuk untuk mengembangkan perusahaannya dengan memanfaatkan paras cantik anaknya, Apalagi Bram sedang di gunjang masalah kesempatan besar untuk ayah lusi untuk menjatuhkannya.
Disuatu malam anak dan ayah itu membicarakan rencana mereka.
“Lusi, ayah bicara empat mata denganmu.”
“Apa ayah?”
“Ayah ingin kamu mendekati Bram.”
“Bram? Siapa itu yah.”
“Sudah kamu jangan banyak nanya kamu hanya harus mendekati dia.”
“Ayah lusi sama sekali tidak mengenalnya untuk apa lusi mendekati lelaki yang sama sekali lusi tidak kenal.”
“Ayah tidak ingin mendengar alasan kamu, yang terpenting bagi ayah kamu harus mengambil hatinya kalau kamu tidak suka dengannya itu urusan belakang kamu tahu kan ayah menghidupi kamu secara berkecukupan apa kamu ingin kita menjadi gelandangan dan apa kamu ingin ayah mencabut semua fasilitas untukmu.”
“Ayah, lusi bukan boneka ayah.”
“Lusi kamu anak ayah kalau kamu masih mau ayah anggap anak ayah kamu harus menuruti ayah.”
Lusi yang merasa tak memiliki pilihan mengikuti kemauan ayahnya ia secara perlahan mendekati Bram, Tapi tak mudah mendekati lelaki itu Bram yang memiliki sifat keras kepala tak mudah ditaklukan dengan seorang perempuan apalagi hati Bram sudah diisi oleh kehadiran Mia.
Hari berganti hari hubungan mia dan bram semakin menjauh, Bram yang sibuk dengan perusahaannya tak pernah menghubungi mia. Mia semakin merasa sendiri bahkan kadang mia berpikir untuk berpaling hati dari Bram karena di saat yang bersamaan zain juga berusaha mendekati mia.
Suatu hari mia terbaring lemah di tempat tidur perempuan itu sedang terkena penyakit tipes tubuhnya lunglai tak mampu untuk digerakkan. Iapun memilih untuk menutupi penyakitnya dari Bram. Mia tak kunjung sembuh bukan hanya penyakit tipes saja yang ia hadapi tapi kerinduannya terhadap Bram juga memicunya penyakitnya.
“Mi kamu harus makan dulu kamu harus minum obat ini” seru zain yang kebetulan dokter di rumah sakit itu.
“Zain bram tidak pernah menghubungimu yah?.”
“Tidak, aku memang sepupunya tetapi aku tak begitu akrab dengannya.”
Mia yang mendengar perkataan zain lansung lesu.
“Mi, kamu tidak usah memikirkannya yang terpenting kamu harus memperhatikan kesehatanmu.”
Di lain sisi  Bram juga lagi menjalin kedekatan dengan Lusi. Keindahan taman dan sejuknya suasana sore waktu itu membawa kedua insan itu lupa akan waktu. Hati bram yang terbuat dari batu mulai sedikit goyah akan kebaikan lusi terhadapnya. Lusi yang sudah membantu Bram akhir – akhir ini. lusi jugalah yang memperhatikian Bram dari pola makannya, bahkan hampir 24 jam perempuan itu menaruh perhatian kepada Bram.
 “Bram “ tegur lusi.
“iya....?”
“Aku ingin jujur terhadapmu setelah aku mengenalmu ada suatu rasa di dalam hatiku yang aku sendiri binggung untuk mengartikan perasaan itu, tetapi semakin hari semakin kita dekat aku merasa perasaan itu ada karena aku mulai menyukaimu”
“Lusi kamu becanda kan? kita bahkan belum mengenal satu sama lain pertemuan kita juga belum sebulan lansung kamu sudah menyatakan cinta untukku.”
“Iya aku tahu ini aneh untuk kamu, tapi apa bedanya jika aku mengenalmu 1 bulan dengan 1 tahun tidak ada perubahankan, Bram cinta itu datang sesuka hatinya. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku.”
Tiba – tiba telepon Bram berdering.....
“Halo zain ada apa.....?”
“Bram kapan kamu kembali ke Jakarta?”
“Aku belum tahu zain memang ada apa?”
“Kamu tahu mia sedang sakit disini dan dia hanya memikirkan kamu, aku binggung bagaimana aku akan bersikap.”
“kamu serius? Iya zain aku akan berangkat ke Jakarta malam ini juga”
“ok Bram terimakasih kamu sudah mau mendengarkanku.”
Bram yang mendengar kabar bahwa mia sedang sakit lansung pergi ke Jakarta meninggalkan Lusi, padahal Bram belum menjawab perasaan lusi untuknya.
“Bram kamu mau kemana” teriak lusi.
Bram tetap melaju dengan pesat tanpa mempedulikan panggilan lusi.
Di rumah sakit sudah ada zain yang menunggu kedatangan  Bram. Zain mondar-mandir di depan kamar tempat mia dirawat. Melihat kondisi mia yang semakin hari tidak kunjung membaik zain menjadi semakin khawatir. Zain tahu betul bukan hanya penyakit mia yang membuatnya lemah tetapi rasa rindunya kepada Bram.
“ Zain mia bagaimana? Dia dirawat di ruang mana?” dengan nada yang terputus-putus.
“Bram kamu sabar dulu kamu  kan baru sampai ke Jakarta.”
“Sudah kamu jangan mempedulikan aku sekarang dimana mia ?“ bentak Bram
“Mia ada di dalam, tetapi dia sedang tidur jadi lebih baik kamu jangan bangunin dia dulu nanti pagi terserah kamu ingin berbicara apa dengannya .”
Bram lansung masuk kedalam ruangan mia dirawat, dilihatnya tubuh perempuan yang dicintainya itu lunglai tak berdaya. Dipandangi wajah mia lekat-lekat Bram menangis selama ini ia merasa bersalah  membiarkan mia merasakan sakitnya sendiri. Tangis Bram semakin pecah ia tergiang atas apa yang sudah ia lakukan, mendekati wanita lain disaat mia membutuhkannya. Bram semakin merasa bersalah diluar zain terus memandangi Bram dan mia.
Kurasa aku tak memiliki celah untuk mengisi hatimu Bram ia lelaki yang pantas mendapatmu, batin zain.
Cahaya mentari yang sudah terbit, membangunkan mia dari tidurnya dilihatnya Bram tertidur pulas di sofa kamar tempat ia dirawat. Mia tersenyum bahagia melihat sosok yang dirindukan selama ini kembali disisinya.
“Mi sekarang sudah jam berapa, kok kamu tidak membangunkanku?”
“Maaf Bram, aku kasian melihatmu yang tertidur pulas aku tidak ingin mengangumu.”
“Bagaimana keadaanmu?”
“Tubuhku sudah terasa membaik mungkin hari ini aku sudah diperbolehkan pulang ke rumah.”
“Mi, mengapa kamu tidak memberitahuku dari awal, kenapa kamu malah diam syukur zain menelponku.”
“Zain? Maaf aku pikir kamu sedang sibuk dengan urusan perusahaanmu aku juga tidak ingin menambah bebanmu lagipula selama ini aku dirawat sangat baik oleh zain.”
Bram menampakan wajah cemburu. “Jadi sudah ada zain yang disampingmu terus saja melupakanku.”
“Bram, aku dengan zain hanya berteman aku tidak memilki perasaan apapun dengannya.”
Zain yang baru saja ingin masuk ke ruangan itu mengurungkan niatnya mendengar perkataan mia membuat hatinya teriris. Sangat baru bagiku untuk mengenal cinta tapi ternyata hari ini aku juga harus melupakan cinta itu batin zain. Bram yang menyadari kehadiran zain lansung berusaha mengejarnya ia tak ingin sepupunya ini menaruh dendam dengannya.
“Zain” panggil Bram
Zain menoleh ke arah Bram.
“Zain kamu kok tidak jadi masuk keruangan mia, apa kamu mendengar perkataan mia tadi ?.”
“Aku tersadar Bram cepat atau lambat aku akan tetap terima ini  juga mungkin tuhan memberitahuku lebih awal agar aku tak lebih sakit nantinya.”
“Zain , aku ingin berterimakasih kepadamu selama ini kamu yang merawat mia dengan baik. Aku ingin antara kau,mia dan aku tetap menjadi teman yang baik. Aku tak ingin kamu merasa benci terhadapku ataupun mia”
“Iya, aku tahu tapi Bram aku juga butuh waktu untuk melupakan perasaanku saat ini. Aku belum bisa bertemu dengan mia.”
“Aku mengerti zain kami akan menunggumu untuk menjadi teman kami.”
“Bram tolong jangan sakiti mia, dia wanita yang baik kamu lelaki yang beruntung mendapatkannya.”
Bram hanya menjawabnya dengan senyuman.
Brampun kembali ke kamar tempat mia dirawat tiba – tiba ada sebuah panggilan masuk yang tertuju untuknya. Bram mengambil telepon selulernya dilihatnya sebuah pangilan masuk dari Lusi, Bram menekan tanda merah untuk mengakhiri pangilan lusi.
“Bram kamu darimana?”
“Aku Cuma keluar cari angin segar.”
“Ouh yah bagaimana urusanmu di luar daerah apa sudah selesai”
Telepon Bram kembali berdering. Lusi lagi-lagi mencoba menghubunginya.
“Kenapa tidak diangkat?”
“Bukan dari siapa-siapa belakangan ini banyak orang yang aneh yang menelponku.”
“Ouh makanya kamu itu harus baik dengan semua orang seperti zain.”
“Mi, jangan pernah membandingi aku dengan siapa-siapa saat aku bersama denganmu berarti saat itu hanya aku yang ada dipikiranmu.”
Suasana menjadi hening, Bram nampak seperti orang yang sedang kebinggungan ia tidak ingin mia mengetahui sosok lusi tapi ia juga tidak ingin perusahaan sampai gulung tikar hanya ayah lusi yang dapat membantunya.
Di lain sisi lusi yang awalnya hanya berpura-pura mendekati Bram menaruh perasaan terhadap lelaki yang ia dekati itu. Bukan karena Bram kaya tapi karena lusi ingin memiliki Bram seutuhnya.
“Ahh mengapa panggilanku terus di reject. Apa ia sudah melupakanku” Batin lusi yang nampak marah atas sikap Bram.
Lusi lansung pergi menuju ayahnya untuk memberitahu keluh kesahnya.
“Ayah, lusi ingin bicara lusi jatuh cinta kepada Bram.”
Ayah lusi yang sibuk dengan kerjaannya tak menyadari kehadiran putrinya.
“Ayah” bentak lusi.
Ayah lusi tetap dengan dunianya sendiri ia malah asyik menelpon dengan orang lain, lusi yang melihat itu merasa diabaikan ia pergi meninggalkan ayahnya.
Kini lusi dalam kesendriannya ia mengingat terakhir bertemu dengan Bram, Bram menyebut nama mia ketika sedang menerima telepon, mulai timbul di benak lusi siapa itu mia? Apakah ia kekasih Bram? 1000 pertanyaan menghampiri Lusi. Lusi pergi mencari Bram di tempat kerjanya tetapi Bram tak ada disana ia juga sudah menghubungi bram terus-menerus tapi tak ada jawabnya. Lusipun merasa sangat putus asa.
Bram yang kini sudah kembali ke Jakarta kembali bersama-sama dengan Mia. Ia berusaha menyembunyikan masalah yang ia hadapi. Lusi yang masih mengharapkan kehadiran Bram memutuskan pergi ke Jakarta untuk menemui sosok yang ia cintai itu.
Mia sedikit demi sedikit mulai mencintai Bram, tetapi perasaan itu tidak ia ungkapan bagaimana pun menurutnya lelakilah yang harusnya menyatakan cinta dan wanita hanya harus menunggu.
Malam minggu, mia dan bram pergi bersama, sepanjang jalan banyak pasangan yang yang sedang memadu kasih. Mia dan bram hanya saling menatap satu sama lain. Tanpa mereka sadari di tempat yang sama ada lusi yang menghabiskan waktunya di tempat itu juga, tetapi satu sama lain tak saling bertemu.
“Mi,,,” seru Bram
iya?”
“Enak yah jika memiliki pasangan dalam hidup kita, bisa saling mengisi satu sama lain, bisa saling berbagi.”
“Kenapa kamu masih memikirkan siapa pasanganmu ? bukannya pasanganmu sudah berada di dekatmu.”
“Maksud kamu.”
“Tidak sudah abaikan yang tadi aku ucapkan.” Mia merasa malu-malu atas apa yang ia ucapkan.
Kedua insan itu menghabiskan waktu bersama. Bintang di langit tersenyum ibarat menyetujui keduanya. Seusai menghabiskan waktu dengan bram ibu mia menghubungi mia.
“Halo nak, apakah kamu baik-baik saja?” dengan nada yang pelan.
“Iya bu, mia baik-baik saja ada ada perlu apa busudah larut malam begini ibu menelpon?”
“Mi.... Alfath kembali menuliskan surat untukmu. Ibu tidak tahu mau bersikap seperti apa.”
“Alfath? Tapi dia tidak datang kerumahkan bu.”
“tidak, tapi ibu takut nak jika ia tahu tentang angel.”
“Ibu tidak usah khawatir mia tidak akan membiarkan alfath mengetahui angel. selama ini orang hanya mengetahui angel sebagai adik mia bu tidak mungkin alfath menyadarinya.”
“Mi,,,,, sampai kapan kita harus berbohong terus nak. Angel harus tahu kebenarannya siapa dirinya sebenarnya,”
“Iya bu, mia tahu itu mia akan memberitrahu angel saat angel berusia 17 tahun mia pikir itu waktu yang tepat. “
“Baik, ibu selalu mendukung keputusanmu mi”
Telepon dari ibu berakhir. Mia teringat pada sosok Alfath, lelaki yang pernah ia cintai itu memang sangat romantis ia sering menuliskan surat cinta untuknya.  Mia teringat puisi yang pernah dituliskan alfath untuknya.
Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
Dirahasaikannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu dijalan itu
Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
Dibiarkan yang tak berucap
Diserap akar pohon bunga itu
                                    (Hujan bulan juni, Supardi Djoko Darmono)
Puisi itu dituliskan Alfath untuk mengambarkan kerinduannya terhadap mia. Alfath yang pada waktu itu  harus mewakili sekolahnya karena terpilih mengikuti suatu kejuaraan harus menelan perasaan  tak bertemu dengan mia. Ya, Alfath adalah sosok yang mementingkan pendidikannya baginya menjadi orang sukses adalah pilihan, berbeda dengan mia yang sama seperti murid kebanyakan mengerjakan pr di sekolah, jika tidak ada guru menghabiskan waktu di kantin sekolah.
Karena perbedaan karakter antara mia dan alfath inilah yang menambah warna indahnya cinta yang tumbuh diantara mereka. Alfath  harus bermain kucing-kucingan dengan mia, mencuri waktu untuk bertemu. Tapi hal itu tidak menjadi rintangan bagi keduanya.
Mia yang teringat kejadian itu tersenyum sendiri. Perasaan mia memang telah berubah menjadi rasa benci tapi di hati kecilnya ia masih menaruh harapan kepada Alfath, cinta pertamanya itu.
Kini sudah 2 tahun mia mengenal bram. Bram telah memutuskan untuk melamar mia sebagai istrinya dan Bram juga memutuskan hubungan dengan Lusi, ia tak ingin merasa berdosa karena memikirkan perempuan selain mia.
Di sore hari yang indah, Bram mengajak mia ke sebuah pantai yang berada di wilayah selatan jakarta. Suara ombak serasa menyemangati Bram untuk melamar mia waktu itu pantai yang nan indah  itu menjadi saksi bisu hubungan keduanya.
 Bram mulai memainkan sebuah lagu untuk mia.
Ku kan selalu ada di dekatmu
Aku kan selalu menemani harimu
Kau harus tahu betapa aku mencintaimu
Mia tertegun menyaksikan apa yang ada di hadapannya.
“Mi,,, ketika aku memilihmu untuk menjadi istriku sunguh sulit, aku mencoba menyakinkan hatiku sendiri, sungguh aku bukan lelaki yang sempurna aku hanya seorang lelaki yang memiliki sejuta kekurangan tetapi aku yakin kamu mampu menyempurnakanku aku tak pernah ragu untuk mengatakan aku cinta kepadamu. Mi aku yakin kamu memiliki perasaan yang sama denganku aku akan berusaha memberikan cintaku sepenuhnya untukmu, aku akan belajar menjadi seperti yang kamu inginkan.”
Mia menangis melihat  Bram yang berlutut di hadapannya. Mia menyadari betul bagaimana perasaan Bram untuknya.
“Bram apakah kamu berjanji akan menerima semua kekuranganku.”
Bram menganguk tanda setuju.”Apapun itu aku akan berusaha menerimanya”
Setelah beberapa menit menunggu jawaban dari mia akhirnya mia memutuskan untuk menerima Bram sebagai calon suaminya. Lelaki berwajah sawo matang tersebut teriak kegirangan mengingat ketika ia menyatakan cinta kepada mia setahun yang lalu ditolak oleh mia. Kegirangan lelaki tersebut membuat mia yang melihatnya ikut tertawa. Ya kini dua insan tersebut akan memulai hidup baru mereka sebagai sepasang suami istri.
Berita pernikahan Bram terdengar kepada orang terdekatnya ibu mia, angel, dan zain . Berita tersebut membawa kegembiraan tersendiri untuk mereka. Zain yang pernah mencintai mia kini bisa merelakannya, tapi hal itu tidak dengan Lusi. Perempuan yang terus mengejar Bram itu merasa berat untuk melepaskan Bram, ada sebuah kebencian sendirian di dalam hatinya terhadap mia.
Rencana untuk menjatukan perusahaan Brampun mengalami kebuntuan. Ayah lusi yang hanya memikirkan kekayaan tak sedikitpun memikirkan perasaan anaknya ini. Lusi yang merasa sendiri semakin depresi perempuan itu tak tahu harus bersikap apalagi, cintanya yang telah pupus membuatnya pincang untuk menjalani kehidupan ini. Bahkan Lusi sering mencoba untuk mengakhiri hidupnya, Bram yang mendengar kabar tentang lusi merasa prihatiin sekali waktu ia mengunjungi rumah lusi.
“Lusi aku ingin minta maaf jika semua ini karena ku, aku tak pernah berniat menyakiti siapapun.”
Lusi yang nampak murung tak menjawab perkataan Bram. Perempuan itu benar – benar hilang gairah hidup.
“Lusi, kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dariku, banyak lelaki di luar sana yang mungkin mencintaimu.” Seru Bram untuk kedua kalinya.
Lusi tak bergeming sedikitpun. Ia tetap mengunci mulutnya. Bram yang melihat kondisi lusi semakin prihatin tapi ia tak mungkin menerima lusi karena ia akan menikah dengan mia. Bram yang merasa lusi tak mau mendengarnya akhirnya memilih untuk melangkah pergi. Belum sempat ia melangkah lebih jauh dari Lusi,  lusi membuka mulutnya.
“ Mungkin kamu pikir aku bodoh menunggu lelaki yang meninggalkanku begitu saja selama 2 tahun, mungkin kamu pikir aku gila saat melihat kondisiku saat ini tapi pernahkah kamu berpikir mengapa aku begini? aku jatuh cinta kepada lelaki yang bernama Bram dan kini ia akan akan menikah dengan perempuan lain. Lalu apa arti penungguanku selama ini. Lalu kenapa kamu tidak pernah menceritakan kepadaku jika kamu mencintai perempuan lain.” Lusi meneteskan airmatanya.
“Maaf jika dari awal aku tak pernah jujur padamu, maaf jika aku tak mempedulikanmu tapi aku tak bisa menerimamu kembali sebelumku mengenalmu aku telah jatuh cinta kepada calon istriku saat ini. Lus, kamu harus sadar kadang cinta tak harus memiliki .”
Lusi senyum sinis. “Cinta tak harus memiliki? Lalu kenapa tuhan menciptakan cinta jika ada yang  tersakiti, Lalu mengapa tuhan mengenalmu padaku?”
“Lus, di setiap pertemuan pasti ada perpisahaan, disetiap yang namanya cinta pasti ada rasa sakit. Aku ingin kamu melupakanku kita masih bisa berteman.”
“Berteman kamu bilang? Apa dengan berteman bisa mengubahmu menjadi cinta kepadaku”.
Bram terdiam. Ia tak tahan lagi melihat sikap lusi, ia pun pergi meninggalkan lusi sendirian. Lusi kini hanya bisa melihat bayang Bram yang tertelan oleh waktu.










7
Hari yang ditunggu pun tiba mia dan bram melansungkan pernikahan mereka. Semua  yang datang terkesima akan kecantikan mia dan bram yang terlihat gagah hari itu. Pernikahan tersebut membuat yang melihatnya akan merasa iri dan ingin menikah.
“ Pasangan yang serasi yah yang satu cantik yang satu ganteng paket komplet lah” begitulah pemikiran orang yang keluar dari pernikahan mia dan bram. Angel yang melihat mia dan bram menikah merasa ikut bahagia. Angel yang kini sudah beranjak remaja memendam keingginan untuk mengikuti jejak seperti kakaknya.
“Angel, kamu ngapain disini senyum – senyum sendiri”. Tegur ibu.
“Kak mia cantik yah bu.”
“ iya kakak kamu memang cantik ketika ibu melahirkannya saja ibu bahagia karena dianugarehi dia.”
“Angel ingin seperti kakak”
Ibu lansung mencubit Angel. “Husss kamu masih kecil juga udah mau nikah aja”
“ihh ibu sakit ya bukan sekarang nanti ketika angel sudah besar”
“Sudah-sudah ayo kita ke tempat kak mia aja daripada kamu bicaranya ngelatur gitu.”
Pernikahan Bram dan mia berlansung meriah. Pernikahan mereka berlansung 2 hari 2 malam tanpa ada henti. Pernikahan itu terus mengalir doa untuk mereka. Lusi yang enggan hadir ke pernikahan bram dan mia pun berubah pikiran.  Ia ingin melihat bram untuk terakhir kalinya, walau harus menahan pedih di hatinya. Zainpun nampak hadir di pernikahan keduanya.
“ Selamat yah Bram, kamu beruntung bisa mendapatkan mia.”
“Terimakasih zain”
Mia tersenyum kepada zain, begitu juga keduanya.
Seusai pernikahan mereka mia menerima sebuah surat dari seseorang.
Selamat atas pernikahanmu, aku ingin sekali untuk memberi selamat secara lansung namun aku belum bisa menemuimu saat ini. Tuhan sangat tidak adil yah aku disini sudah menunggumu selama bertahun-tahun dan balasannya aku harus menerima kabar bahwa engkau sudah menikah.
Aku ingin tak menangis ketika menulis surat ini, namun aku tak bisa menyembunyikannya. Aku selalu berjanji padamu bahwa aku akan menunggumu, aku tak pernah berbohong akan itu. Cinta bertahun-tahun yang aku simpan untukmu tak pernah berkurang sedikitpun. Aku ingin engkau tahu itu.
                                                                        Alfath.
Mia terhentak membaca surat itu timbul seribu pertanyaan yang menghantuinya. Bagaimana bisa Alfath mengetahui keberadaanku saat ini, bagaimana bisa ia mengetahui kabar bahwa aku sudah menikah. Pertanyaan itu terus menghantui mia dan yang membuat mia semakin takut tentang angel. Bagaimana jika Alfath mengetahui keberadaan siapa sebenarnya angel. Ketakutan mia tak mampu ia sembunyikan., ibu mia yang mengerti akan tingkah anaknya merasa ada yang aneh terhadap sikap putrinya itu.
“Mi, kamu kenapa nak?”
“ibu,,,” jawab mia dengan terbata-bata.
“iya kenapa nak?”
“Bu, alfath mengirimkan mia surat bu, mia takut bu jika alfath mengetahui jika angel bukan adik mia.”
“Apa ? Alfath untuk apa lelaki itu mengangu hidupmu lagi? Bagaimana bisa dia mengetahui keberadaanmu nak?”
“Mia tidak tahu bu, mia tidak bisa berpikir apa- apa mia takut ”
“Sudah kamu jangan takut ibu akan menjaga angel”
“Ibu janjikan sama mia siapapun itu yang mendekati angel ibu harus tahu jangan sampai Alfath mengambil angel dari mia bu.”
“Iya ibu janji” Mia pun jatuh ke pelukan ibu.
Beberapa tahun kemudian Angel tumbuh menjadi remaja yang cantik.  Angel yang kini sudah duduk di bangku SMA tak pernah diizinkan oleh ibunya untuk pergi sendirian, ibu sangat protektif terhadap angel ia tak ingin angel mengulangi kesalahan seperti mia. Angel yang mulai jenuh terhadap siakp ibunya mulai berbohong, kadang pulang sekolah ia tak lansung pulang ia menghabiskan waktunya bersama teman – temannya. Hal tersebut disadari oleh ibu. Saat angel pulang sekolah pun ibu lansung memarahinya.
“Angel kamu kemarin habis darimana?”Bentak ibu.
“Sekolah bu, kan ibu Cuma izinkan angel pergi sekolah dan diam di rumah itu kan mau ibu”
“Angel ,,,,,, kamu ini bicara apa  ibu berbuat ini hanya untuk kebaikan kamu.”
“kebaikan? Ibu pikir itu namanya kebaikan, bu angel saat ini sudah besar zamannya angel berbeda dengan zamannya ibu yang harus diam di rumah.”
Tangan ibu mendarat di pipi angel. Angel lansung merah padam ia tak menyangka ibunya akan bersikap seperti itu. Ibu pun merasa bersalah terhadap sikapnya.
“Bu, selama angel lahir sampai sekarang angel merasa aneh dengan ibu angel sendiri dan kini ibu menampar angel. Ibu itu jahat ibu selalu bilang ayah angel sudah meninggal dunia tapi ibu tak pernah melihatkn fotonya bahkan angel sendiri tidak tahu nama ayah angel. Ketika teman angel bangga memiliki ayah, angel merasa malu bu. Ibu tahu teman angel mengatakan angel itu anak haram karena tidak mengetahui ayahnya sendiri ? benar bu , jawab” bentak angel.
Ibu menangis mendengar perkataan Angel.
“Bu, cepat jawab” angel mengoyang-goyangkan tubuh ibu yang sudah tua itu. Ibu pun jatuh pingsan dan harus dibawa ke rumah sakit. Dirumah sakit ibu yang terbaring lemah tak mendapatkan perhatian dari siapapun. Angel malah memanfaatkan kesempatan ini untuk menghabiskan waktu bersama teman- temannya. Teman Angel pun memberikan pengaruh buruk untuk angel ia mengajari angel untuk merokok.
Mia yang mendengar ibunya di rumah sakit lansung menuju kesana ia mencari keberadaan angel yang tak menemani ibunya.
“Suster, tadi ada anak yang rambutnya panjang kesini tidak”
“Maaf mba, sepertinya tidak   ada. Ibu ini kasian sekali harus hidup sebatang kara kalau saya jadi anaknya saya akan merawat ibu saya di sisa hisupnya” jawab suster tersebut.
“Terimakasih sus.”
“Iya, permisi mba”
Mia duduk disamping ibu ia melihat wajah ibu yang kini sudah menua, wajahnya yang terdapat keriputan tak mampu membohongi usianya, rambut ibupun mulai memutih tubuhnya yang dulu tegap kini mulai membungkuk. Mia menghelus-helus rambut ibu.
“Kak mia?” Angel kaget melihat kakaknya yang sudah duduk di samping ibu.
“Kamu darimana angel? Sambil menahan emosinya.
“Angel baru keluar sebentar kok kak.”
“Sebentar? Memang kamu pikir kakak tidak tahu, daritadi tidak ada yang menjaga ibu, kamu sekarang sudah pintar berbohong yah?”
“Kak, selama ini Angel hanya bisa di rumah menggurung diri dengan kesendrian anggel, ibu selalu marah jika angel keluar wajarlah jika sekarang memanfaatkan waktu untuk ke luar.”
“Wajar? Saat ibu sedang terbaring di rumah sakit lalu kamu pergi keluyuran itu wajar kamu bilang.”
“Kak angel bukan anak kecil yang harus ikut aturan ibu, angel bukan robot.”
“Angel asal kamu tahu ibu bersikap seperti itu karena kakak yang minta.”
“Kakak yang minta? Untuk apa”
“Kakak tidak ingin kamu seperti kakak.”
“Memang kakak kenapa ?”
Mia terdiam membisu seribu bahasa.
“Kakak tidak bisa menjawab kan, kakak sama saja kayak ibu selalu bohong sama angel, selama ini angel tidak pernah tahu siapa sosok ayah angel ayah kita kak kalian memang berhati batu.”
“Angel kamu sedang berbicara dengan siapa ? jaga sopan santunmu. Ayah kita itu sudah meninggal kamu jangan memikirkan dia.”
“Meninggal ? tapi kok angel tidak pernah melihat makam ayah, melihat fotonya saja tidak pernah.”
Mia kembali terdiam.
“Kakak sama ibu sama-sama pembohong.” Bentak angel,
Angel lansung pergi meninggalkan mia yang sedih mendengar perkataan angel. Sebuah pepatah mengatakan ‘Air akan jatuh ke pelimbahan juga’ begitu yang dirasakan mia saat ini. Sikap angel mengingatkannya atas sikap ia kepada ibunya beberapa tahun yang lalu.
Ibu yang terbaring lemah, mulai bisa membuka matanya. Sedikit- dikit ia mulai menggerakan jemarinya.
“ Mia, kamu disini nak”, tegur ibu
“Iya bu. Kok ibu bisa masuk rumah sakit ?”
“Ibu sudah tua nak wajar ini penyakit orang tua kamu jangan khawatir.”
“Bu ada apa dengan angel kenapa ia bersikap aneh seperti itu?”
“Iya ini salah ibu, ibu yang tidak memberikan angel kebebasan nak?’
“Iya mia tahu ibu melakukan ini untuk kebaikan angel , mia minta maaf bu atas sikap angel”
“Iya ibu sudah memaafkannya, kamu sudah tenang saja angel pasti akan berubah. Bram tidak sama kamu?”
“Bram lagi sibuk bu, mungkin lain hari ia akan menyeguk ibu.” Mia terlihat seperti menutup-nutupi sesuatu.
Setelah beberapa hari ibu dirawat di rumah sakit. Akhirnya ibu diperbolehkan pulang mia pun kembali ke Jakarta.  Mia yang baru sampai di Jakarta lansung di marahi oleh suaminya, Bram.
“Darimana kamu? Pergi ke bandung lagi?” tanya Bram
“Iya mas, ibu sakit kamu kok tidak pergi kesana padahal ibu mencarimu.”
“Ouh .....” jawab bram dengan singkat.
Kondisi pernikahan mia dan Bram sedang dirundung masalah. Bram merasa dibohongi oleh istrinya itu sedangkan mia tak mampu untuk mengungkapkan kebenarannya. Setiap malam Bram selalu pulang larut malam, mia yang sudah menunggunya diabaikannya begitu saja. Kemarahan bram bukan tanpa sebab lelaki itu tak terima cintanya yang suci untuk mia tapi tak dibalas sepantasnya. Miapun kerap kali menangis, disuatu malam perdebatan antara istri dan suami itu begitu alot.
“Mas, kamu kenapa selalu pulang malam?”
“aku sibuk dikantor.” Jawab bram singkat
“Tapi aku lihat kantor sudah tutup 3 jam yang lalu, lalu kamu ada dimana.”
“Diam yah mi, kamu itu sudah bohongi aku, lalu kenapa aku tidak boleh berbohong dengan kamu?”
“Mas aku tidak pernah bermaksud membohongimu.”
“Lalu apa? aku mendapatkan sebuah  sampah yang dibuang orang lain, lalu kamu tidak pernah cerita apapun itu kepada ku. Kamu pikir aku senang, mi jika cinta sudah ditaburi kebohongan bukan namanya cinta.”
“Mas belum saatnya aku cerita.”
“Sampai kapan kamu menutupi ini sampai semua orang tahu bahwa perempuan yang aku nikahi ini tidak perawan lagi”
“Mas” bentak mia.
“Mi, jangan salahkan aku jika aku mencari yang lebih sempurna darimu. Ingat itu!”
Mia menangis malam itu. Ia ingin menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya beberapa tahun yang lalu, semua kenangan pahit yang ia kubur dalam-dalam ternyata tercium baunya. Bram sangat marah wanita yang ia cintai ternyata membohonginya. Bahkan kini bram sudah berani bermain wanita lain didepan mia, ia sering membawa perempuan masuk ke dalam rumah mia. Mia hanya bisa menjadi penonton di dalam rumahnya sendiri. Ia tak pernah rela jika suaminya diambil oleh orang lain tapi ia juga tak mampu menjelaskan yang sebenarnya.
Setiap malam, mia hanya bisa memandangi foto pernikahan mereka. Pernikahan yang begitu membuat mia bahagia kini tak bersisa. Kadang Bram tak pulang ke rumah jika mencoba mengajaknya bicara ia hanya mengatakan sibuk bekerja.
“Mas, aku ingin bicara” ajak mia.
“apalagi?”
“Mas kamu tidak memikirkan perasaan aku, kamu membawa perempuan murahan itu kerumah kita” sembari menunjuk prempuan berparas cantik yang bersama bram.”
“Murahan? Lalu kamu tidak. Sana bercermin dulu sebelum kamu bicara.” Sambil mendorong tubuh mia.
“Mas aku ini istri kamu. Kamu tidak boleh bersikap seperti ini mas sama aku.”
“sudah aku tidak mau kamu bicara apa-apa lagi lebih baik kamu pergi sana bersama pria-pria yang pernah menyetuhmu.”
Setiap hari itulah yang di terima mia. Ia selalu dikucilkan oleh suaminya sendiri. Semua ini karena kesalahan yang pernah ia perbuat di waktu SMA. Di tengah kesedihan selalu ada zain yang menjadi sahabat bagi mia. Lelaki itu yang selalu menjadi tempat bersandar mia di kala sedih. Mia selalu menceritakan masalah rumah tangganya kepada zain, zain yang mendengar cerita perempuan yang pernah dicintainya itu tak rela terhadap sikap bram.
Suatu hari bram yang sedang sibuk mengetik, lansung dikagetkan oleh kedatangan zain. Sebuah pukulan lansung mendarat di pipi Bram.
“Apa-apaan sih kamu datang-datang lansung pukul orang?” bentak bram.
“Masalah mia? Aku sudah bilangkan ke kamu jangan pernah sakiti perempuan itu. Kamu ini lelaki macam apa yang tega membuat wanita menangis.”
“Dia itu perempuan seperti apa? ouh jadi dia cerita ke kamu masalah rumah tangga kami lalu dia cerita ke kamu ketika dia menikah denganku dia sudah tak perawan lagi?”
Zain terkejut mendengarnya.
“Aku tidah bodoh zain, coba kamu bayangkan orang yang kamu cintai berbohong kepadamu apa yang kamu rasakan sakit?”
“Bram mungkin mia punya alasan untuk itu.” Mencoba menenangkan bram.
“Zain jika dia punya alasan kenapa aku tidak pernah diberi tahu, mengapa dia diam mengunci mulutnya. Zain dia itu sama saja seperti sampah yang berserakan di luar sana.”
“Bram aku tahu mia dia perempuan yang baik-baik, kamu jangan lansung mengambil sebuah kesimpulan.”
“Aku malah curiga denganmu kamu jauh-jauh kesini Cuma untuk belain perempuan itu. Kamu masih cinta kepadanya” bentak bram.
“Bram kamu ini bicara apa. aku ini sepupumu aku hanya tidak bisa nmelihat mia menangis setiap hari karena tingkahmu.”
“Ouh ya sudah kamu saja yang menikahi dia biar mia itu bahagia.”
“Bram kamu akan menyesal nanti jika mia meninggalkanmu dia benar-benar mencintaimu.”
Bram pergi begitu saja, lelaki itu tetap  pada pendiriannya tak ada kata maaf untuk orang yang pernah menyakitinya. Kini bahkan Bram berpikiran negatif terhadap mia, ia mengira istrinya tersebut berpaling darinya. Zain yang pernah  memukulinya menjadi sasaran kecemburuan Bram, ia menuduh Zain dan mia selingkuh dibelakangnya.
8
Pernikahan antara bram dan mia ibarat sedang di ujung tanduk, tak ada kata penyelesaian di antara keduanya. Mia yang sudah mulai bosan berkelahi dengan bram kadang memilih untuk diam.” Waktu yang akan menjawab semuanya” batin mia, Tapi bram merasa diam mia berarti ia tak menyesali perbuataanya. Padahal di setiap malamnya mia selalu menangis ia mencurahkan isi hatinya kedalam sebuah buku catatan, perempuan itu selalu dihantui oleh rasanya bersalahnya.
Akhirnya diam-diam mia meninggalkan rumah ia kembali ke bandung untuk menenangkan pikirannya. Hanya sebuah pucuk surat yang ditinggalkan untuk bram.
Dear suamiku,
Maafkan aku, atas sikapku selama ini, aku tak ingin berbohong padamu tapi aku butuh waktu untuk menjelaskan semua ini. Ketika engkau melamarku aku sangat bahagia ketika engkau mengatakan akan menerima semua kekuranganku. Inilah salah satu kekuranganku, mungkin akan sulit untukmu menerima ini. Tapi aku sangat berharap engkau kembali menjadi bram yang dulu.
Kau mengatakan aku seorang pembohong ya aku akui aku pembohong. Namu perlu kau sadari aku tak pernah bohong ketika aku mengatakan cinta padamu, aku tak pernah bohong jika selama ini aku menyukaimu, aku tak bohong!.
Aku sadari jika aku bukan perempuan sempurna tapi bukankah kau pernah mengatakan kita berdua yang akan membuat cinta itu sempurna. Aku berusaha menutupi kesedihanku bram namun saat ini aku butuh waktu untuk kembali padamu. Aku tak mampu bertahan dengan bram saat ini aku sangat merindukan sosok bram yang dulu.
                                                                        Istrimu tercinta
                                                                                    Mia
Bram yang sudah berada di rumah mencari keberadaan istrinya. Seminggu ini bram tak pernah berbicara dengan bram tapi malam ini berbeda entah angin apa yang membawa bram ingin berbicra dengan mia.
“Mi,,,,,,,,,,,,,,,,,,,mia “ seru Bram dengan nada keras
Tak kunjung ada jawaban, rumah itu terasa sunyi tanpa kehidupan.
“Dasar istri macam apa yang suaminya pulang tidak disambut dengan baik” gerutu Bram.
Bram yang nampak tak tahan menunggu kedatangan mia  mencari disekitar rumahnya satu per satu ia masuki dari dapur rumah, toilet, hingga akhirnya ia masuk ke dalam kamar mia. Pasangan suami istri itu sejak bertengkar tak lagi satu ranjang kepahitan itulah yang membuat mia tak tahan untuk tinggal bersama Bram.
Dicari-carinya mia di dalam kamar itu, dibukanya lemari tak satupun baju mia tersisa, bram menemukan surat yang dituliskan untuknya. Ia membacanya perlahan-lahan, namun hati bram tak terketuk kebenciannya tak terhapuskan sedikitpun. Bram lansung meremas – remas kertas tersebut. “Biarkan saja ia pergi bahkan ke ujung dunia sekalipun aku tak akan mempedulikannya” batin Bram.
Telepon Bram berdering diterimanya sebuah pesan dari Lusi, wanita yang pernah mencintai bram, bahkan saat ini ia tetap mencari Bram keretakan rumah tangga Bram dengan mia menjadi angin segar baginya.
Bram aku ingin bertemumu kembali esok kuharap kau hadir di taman.
Bram yang membaca pesan singkat tersebut merasa sedikit ragu untuk menemui lusi kembali ia tak ingin menyakiti perasaan perempuan tersebut bahkan di hati kecil bram masih memikirkan perasaan mia.
Masalah mia bertambah, bukan hanya masalah rumah tangganya yang ia harus pikirkan tetapi Angel. Angel yang sudah beranjak remaja mulai bersikap seenaknya, ia kerap pulang larut malam bahkan masih memakai seragam SMA nya. Penampilan angelpun tak seperti usianya perempuan itu sudah menghiasi wajahnya dengan bedak tebal dan lipstik merah menyala.
Jam sudah menunjukan pukul 22.00 tapi angel belum ada kabar. Mia yang terlihat panik mondar-mandir didepan rumah. Ibu paham betul kegelisahan mia, seorang ibu yang memendam rasa cinta teramat dalam untuk anaknya
“Mi, sudah larut malam ayo masuk nak!” tegur ibu
“ Tapi angel belum datang bu, dari pagi anak itu tak tahu rimbanya dimana”
“Kamu sudah menghubungi teman-temannya?”
“Mia bahkan tak satupun tahu teman angel bu. Mia tersadar bu seharusnya mia yang merawat angel, jadi tidak seperti ini”
“Sudah nak, waktu akan menjelaskan itu, sudah ayo masuk di desa ini lagi musimnya demam berdarah nanti kita jadi makanan nyamuk nak”
Ibu dan mia masuk ke rumah beberapa menit berselang suara mobil berhenti di depan rumah mia. Mia cepat – cepat memlihat jendela siapa yang datang, dilihatnya angel bersama seorang lelaki yang lebih tua darinya tapi wajah lelaki terlihat samar-samar ketika mia berusaha membuka pintu rumahnya lelaki itu sudah pergi tinggal angel yang dihadapan mia.
Mata mia tajam memandangi angel, luapan emosi yang dipendamnya melimpah ruah.
“Dari mana kamu?” bentak mia.
“Dari rumah teman” jawab angel enteng.
“Oh jadi teman kamu bapak-bapak tadi”
“Kak “ bentak angel.
“Kenapa , malu? Angel sekarang kamu baru berusia 16 tahun dan lelaki itu mungkin dia sudah memiliki anak dan istri di rumahnya.”
“Kak, angel tahu siapa yang pantas untuk angel, dan angel tahu yang tulus mencintai angel”
“Mencintai ? kamu pikir apa itu cinta! Angel kakak peringati kamu jangan pernah menyetuh namanya cinta kamu belum tahukan akibatnya seperti apa.”sembari menunjuk angel dengan jari telunjuk.
“kenapa? Kakak punya masalah dengan kak Bram lansung sekarang kak mia meluapkannya ke angel” angel tersenyum sinis.
“Angel kakak ini sudah banyak makan asam garam, kamu seharusnya mendengarkan kakak lansung kemana baju sekolahmu? Penampilan kamu sudah seperti kupu-kupu malam.”
Angel mengeluarkan baju sekolahnya dilemparnya dihadapan mia.
“Itukan mau kakak, kak angel lelah harus dijerat di dalam kandang terus. Angel ingin melihat betapa indahnya dunia ini. Sangat pantas kakak diabaikan oleh kak Bram penampilan kakak saja seperti pembantu.”
Angel masuk ke rumah meninggalkan mia. Mia yang masih tersulut emosi menendang pintu rumahnya. Rasa sakit kakinya tak sebanding dengan rasa sakit karena perkataan angel.
Angel yang kini berada di kamarnya merasa berbunga-bunga.  Senyum di wajahnya terpancar, bunga-bunga asmara itu sudah tumbuh dalam hatinya. Sosok lelaki yang berumur lebih tua daripadanya tak menjadi masalah. Bukannya cinta tak mengenal usia itulah dalam benak anggun.
Di lain sisi mia yang masih menyimpan amarah kepada anggun hanya bisa bertanya-tanya siapa sosok lelaki yang membuat anggun berubah sikap. Rasa penasaran tersebut terus menghantuinya. Kini air matanya mengalir mengingat sikap yang sama persis pernah ia lakukan terhadap ibunya.
            Mia yang dulu selalu berusaha menutup telingga ketika ibunya membicarakan hubungannya dengan Alfath, tanggis itu semakin pecah dilihatnya foto ibu yang merangkulnya sambil tersenyum. Betapa bahagia sosok ibu dan anak di foto itu.
“Tuhan mengapa aku baru tersadar atas sikapku selama ini, aku manusia yang penuh dengan dosa tak sedikitpun aku melihat ibu sebagai  ibuku sendiri” kesah mia.
Di datanginya kamar ibunya yang tertidur pulas. Di pandanginya wajah tua itu. Pemikiran mia terus berlalu lalang sepintas ia melihat didalam benaknya tubuh ibu yang tak bisa digerakan lagi wajahnya pucat pasih dan denyut nadinya tak terdengar lagi.
“Mi..........” tegur ibu yang terbangun dari tidurnya.
Mia menangis memeluk erat tubuh ibunya.
“Kamu kenapa nak?”
“Ibu....... Mia ingin minta maaf atas sikap mia selama ini” dengan nada yang terputus-putus.
“Sikapmu yang mana nak?” sembari mengelus rambut mia.
“Sikap mia yang selalu membantah ibu, sikap mia yang selalu mengecewakan ibu. Hari ini mersakan betapa pedihnya hati seorang ibu mendengar ucapan anaknya sendiri. Mia menyesal bu, tidak mendengarkan ibu.”
“Nak, ibu ketika melihatmu terlahir didunia saja ibu sangat bahagia, ibu selalu bersyukur kepada tuhan memiliki kamu. Ibu tahu suatu saat nanti kamu akan menyadari itu karena ibu percaya kamu anak yang baik dan mungkin ini waktunya.
“Bu, mia tidak tahu harus berkata apa mia sangat bersyukur memiliki ibu”
Ibu tersenyum manis.
“Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu mi,
9
Waktu terus berputar langit yang cerah menghiasi pagi itu kali ini mia harus pergi ke jakarta untuk menemui Bram suaminya. Sudah 2 minggu mia menenangkan pikirannya di rumah ibunya kali ini harus menyelesainkan rumah tangganya yang sudah di ujung tanduk. Ia tak bisa terus menerus membohongi suaminya dan ia telah memutuskan untuk berbicara jujur kepada suaminya.
Sepanjang jalan menuju rumahnya ia terus berlatih untuk meminta maaf kepada suaminya mencoba memilih kata-kata yang akan diucapkan nantinya penumpang yang lain memandanginya sambil tersenyum.
“Kasian yah masih muda sudah gila” kata salah satu penumpang yang duduk di ujung.
“Sepertinya dia gila karena suaminya lihat saja daritadi berbicara sendiri sambil meminta maaf kepada suaminya” jawab penumpang yang lain.
Mia yang mendengar ocehan penumpang tersebut bukannya merasa terngangu malah menambah tingkah yang lain. Ia menyanyi sendiri di dalam bus tersebut kadang-kadang ia tertawa kecil, namun semua itu bukan karena mia sudah gila tapi karena  rasa senangnya yang begitu besar akan bertemu suaminya.
Mia sudah membayangkan rumah tangga mereka akan kembali lagi seperti awal mia berpacaran dengan Bram penuh romantis, penuh tawa dan penuh dengan cinta. Bus yang mia tumpangi sudah sampai menuju terminal.
Mia yang sudah berada di jakarta bergegas menuju ke rumahnya,namun rumah itu terasa sepi. Mia berusaha menelpon Bram tapi tak kunjung diangkatnya. Saat mia ingin pergi mengunjungi Bram dikantornya tiba-tiba ada seorang wanita yang membuka pintu untuknya. Betapa kagetnya mia dirumahnya kini ada seorang wanita.
“Kamu siapa?” tegur mia dengan matanya yang tajam.
“Aku lusi calon istri mas Bram, kamu mia kan kenapa masih berani kerumah ini?” senyum lusi dengan sinis.
“Ini rumah saya dengan mas Bram. Kamu yang seharusnya pergi dari rumah ini. Dasar wanita tidak tau malu”
“Tidak tau malu? Kamu itu sudah membohongi mas Bram masih saja terus menghantui kehidupan mas Bram seharusnya kamu berkaca buka topeng yang kamu gunakan dan asal kamu tau sebentar lagi mas bram akan menceraikan kamu jelaslah dia memilih perempuan yang sempurna bukan prempuan yang sudah tak perawan ketika ia menikah.”
“Apa maksud kamu berbicara seperti itu” sahut zain yang baru datang.
“Zain? Kamu kok disini?”
“Aku tadi ke kantor Bram tapi Bramnya tidak ada aku kira ada Bram dirumah, nah kamu ngapain bawa koper segala lansung prempuan ini ngapain di rumah kamu mi”
“Aku baru pulang dari Bandung zain”jawab mia.
“Jelaslah dia itu seharusnya ada di bandung saja tidak perlu ke jakarta, kalau dia disinipun hanya jadi parasit untuk apa” jawab sambil berlagak sombong.
“Tutup mulut kamu, kamu ini siapa saya mengenal mia sangat baik mungkin kamu yang parasit untuk hubungan orang lain. Mi emang kamu ada masalah apa dengan Bram?”
“Aku dan Bram” sambil terbata-bata.
“Dia itu sudah membohongi suaminya sendiri, dia itu sudah tak perawan lagi ketika menikah dengan Bram,hmm dasar perempuan murahan”
“Mi, itu benar” tanya zain sambil memandangi mia.
“Iya zain tapi aku punya alasan untuk itu, aku sudah memutuskan untuk jujur kepada Bram hari ini, tapi belum sempat bertemu dengan Bram aku malah menghadapi prempuan yang tak jelas ini.”
Zain menarik tangan mia ke dalam mobil meninggalkan lusi seorang diri. Lusi merasa menang langkahnya untuk menjadi istri Bram kini sedikit lagi. Bukan hal yang mustahil bagi lusi untuk menyoingkirkan saingannya ia akan menghalalkan semua cara untuk mendapatkan tujuannya, meskipun ia sadar betul Bram masih mencintai Mia namun tak penting rasa cinta bagi lusi yang terpenting adalah ia bisa memiliki Bram.
Mia dan Zain berhenti di tengah jalan.
“Mi, kamu jujur dengan aku jadi selama ini kamu itu” belum sempat zain berbicara mia sudah memotongnya.
“Iya zain, tapi itu masa lalu aku. Mia yang sekarang bukan mia yang dulu zain. Iya memang aku sempat jatuh ke jurang yang gelap tapi aku mencoba untuk bangkit zain.”
Zain terhentak mendengar perkataan mia. Lelaki itu tak bisa berbicara banyak mengenai ini.
“Zain kamu mau kan bantu aku berbicara dengan Bram aku tak ingin pernikahan aku hancur begitu saja apalagi sekarang ada prempuan lain yang mendekatinya.”
Zain terdiam tak mengubris perkataan mia ia masih tak percaya wanita yang sempat ia cintai tak seperti yang ia pikirkan.
“Zain” Bentak mia.
“Iya mi, aku percaya kamu wanita yang baik. Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Aku akan bantu kamu bicara dengan Bram tapi aku mohon jangan bohongi bram lagi ia mencintai kamu aku mengenal saudaraku tak mungkin dia melihat wanita lain selain kamu.”
“Makasih zain aku tak akan mengulangi kesalahan aku lagi. Andaikan Bram sepertimu zain ” mia membalik badannya ia berusaha menyembunyikan pedih hatinya.
Mia dan Zain terus menyusuri jakarta.
“Mi, coba hubungi Bram. Selama kamu di bandung kamu tetap memberi kabar kepadanya kan?”
Mia mengeleng. “Aku takut zain” jawab mia.
“Apa yang kamu takutkan Bram itu suami kamu seharusnya kamu tetap memberi kabar sepatah dua patah kepadanya.”
“Aku takut zain, Bram tidak ingin melihat aku lagi bahkan sebelum aku pergi ke bandung aku sudah menuliskan surat untuknya tapi selama aku di bandung dia tidak ada menjemput aku.”
“Kamu ingin mempertahankan rumah tangga ini kan mi.”
“Iya zain.”
“Berarti kamu harus berjuang untuk itu. “
Tiba-tiba hp mia berbunyi.
“Mi, Bram ada disini.”terdengar suara ibu yang begitu panik.
“Bram ada disana? Ibu serius kan.”
“Iya mi, kamu harus lihat penampilan bram?”
“Emang Bram kenapa bu?”
“Bram terlihat seperti orang frutasi mi, ibu kasian melihatnya.”
“Iya bu mia akan kesana.”
“Zain ayo cepat ke bandung”ajak mia.
”Memang ada apa?” jawab zain
“Bram ada di rumah ibuku zain, sudah sekarang kamu putar balik mobilnya kita harus kesana sekarang.”
Mobil zain terus melaju dengan kencang, kecepatan mobilnya terus bertambah. Jantung mia berdegup kencang wajahnya tampak ketakutan tapi ia berusaha untuk menutupinya dari zain. Zain terlihat serius mengendrai mobilnya hampir saja tukang becak di depan kami di tabraknya. Warga yang melihat kami melintaspun harap-harap cemas. Sesampainya di Bandung mia lansung keluar dan muntah-muntah. Zain yang melihatnya hanya tersenyum.
“Astaga baru segitu, ternyata mia itu seorang penakut yah”
“Astaga zain memang kamu pikir nyawa aku berapa kamu itu mau membunuhku yah”
“Kamu mau cepat ketemu bramkan? Ya itu solusinya?”
Mia menatap sosok bram yang berbicara dengan ibunya dari kejauhan. Mia dan zainpun mendekati mereka.
“Iya bu, saya ingin bercerai dengan mia”
“Apa tidak bisa nak bram pikirkan terlebih dahulu, pernikahan kalian baru seumur jagung masa lansung mau bercerai. Apa tidak bisa di bicarakan baik-baik.”
Mia tersentak, Ia tak percaya Bram jauh-jauh dari Jakarta hanya ingin bercerai dengan mia. Padahal mia sudah memutuskan untuk jujur mengungkapkan masa lalunya.
“Mas kamu beneran ingin bercerai denganku?”
Bram dan ibunya menghadap menghadap kearah mia dan zain.
“Iya tolong kamu tanda-tangani surat ini secepatnya terserah kamu mau datang ke pengadilan atau tidak yang terpenting aku sudah kasih tau, saya izin dulu bu pulang ke jakarta” sambil meninggalkan secarik kertas dan pena.
“Mas “ sambil memegangi tangan Bram. Airmata mia menetes perempuan itu tak sanggup jika harus bercerai dengan suaminya.
“Mas, aku percaya kamu tidak mudah melupakan aku dan aku tau kamu tidak mudah juga untuk membuka pintu hati kamu jadi aku ingin kamu jujur terhadap perasaan kamu. Jika karena masalah itu aku sekarang bisa menjelaskannya ke kamu aku hanya butuh waktu dan waktu itu sekarang. Aku mohon jujur terhadap perasaan kamu” lanjut mia.
Ibu yang melihat mia seolah tak tega air mata ibu menetes begitupun zain ia hanya terdiam melihat kisah cinta keduanya.
“Aku tak perlu banyak bicara kamu hanya harus hadir di pengadilan nanti.”Bram melepaskan tangan mia dan melangkah pergi.
Seketika tubuh mia lunglai. Kakinya terasa tak mampu menahan berat tubuhnya. Ia berlutut dan berteriak mas maafkan aku. Namun Bram tak mempedulikannya. Mobil Bram melesat begitu saja zain ingin mengejar Bram namun ia tak tega melihat kondisi mia saat ini.












10
Haripun mulai gelap. Mia terbaring di tempat tidurnya sambil mengucapkan nama Bram. Ibu yang melihat kondisi anaknya ini hanya bisa menanggis. Di lain tempat Angel asyik bermadu kasih dengan seorang lelaki yang lebih tua darinya.Lelaki itu memanggi rambut angel dan terus memandanginya.
“Kamu itu sangat mirip dengannya” kata lelaki tersebut.
“Siapa dia?” jawab angel.
“Wanita yang sangat aku cintai bahkan tidak akan pernah aku lupakan namun aku pernah melakukan kesalahan yang besar kepadanya tak mungkin aku bersamanya lagi.”
“Jadi kakak tidak mencintainya angel, kakak hanya mencintai dia,lalu memang angel harus ada disini” sambil memasang wajah cemberut.
Kakak itulah panggilan anggel untuk lelaki yang ia cintainya itu walaupun terdengar aneh untuk orang lain. Bagaimana tidak percintaan mereka terpaut 15 tahun. Sosok lelaki yang seharusnya pantas ia panggil om bahkan mungkin ayah.
“Tingkahnya bahkan sangat mirip dengannya” batin lelaki itu. “Tidak perempuan itu sudah menggangap kakak mati bahkan sudah menghapus nama kakak dimemorinya” jawab lelaki itu.
“Baguslah, kakakkan hanya milik angel”
“Iya anak manis.” Sambil mencubit pipi angel.
“Anak ? angel ini bukan anak kakak seharusnya kakak punya nama panggilan sayang untuk angel.”
“Dasar kamu ini banyak maunya.”
“Lihat saja angel akan membuat kakak jatuh cinta kepada angel dan tidak akan berpaling dari angel” jawab angel dengan senyum centilnya.
“Sudah ayo kakak antar kamu pulang”
“Kenapa harus pulang angel benci rumah itu sudah seperti neraka bagi angel apa-apa tidak boleh, pualang malam dimarahin, berbuat ini disalahin pokoknya semuanya dipermasalahkan.”keluh angel.
“Sudah ayo pulang nanti kakak di marahin kakak kamu loh sama ibu kamu.” Sambil menarik tangan angel menuju mobil.
Sorot lampu mobil mengedipkan mata zain yang duduk termenung di depan rumah mia. Ia melihat sosok perempuan yang berseragam SMA turun dari mobil lalu perempuan itu menuju kepadanya.
“Wah ada cowok ganteng kakak ada perlu apa? angel siap membantu.”
Zain memandangi dari atas sampai bawah.”Kamu anak SMA?” tanya zain.
“Iya aku masih SMA” jawab Angel
“Dengan lipstik merah menyala seperti itu dan rok mini ini penampilan anak SMA?”
“Eh kak ganteng sih boleh tapi mulutnya sama saja seperti ibu dan kak mia.”
“Kamu adiknya mia?”
“Ya kenapa?”
“Kamu bahkan tidak mirip dengan ibu kamu, kamu itu mirip dengan lelaki yang tadi mengantarmu pulang”
Angel sumringgah. “Kakak beneran, kata orang memang jika jodoh wajah akan mirip satu sama lain.”Angel terus melihat fotonya dan foto lelaki yang ia cintai itu.
Zain mengeleng-geleng  melihat tingkah laku anak sekarang yang sunguh berbeda dengan zamannya. Ibu yang keluar dari kamar mia melihat angel dengan rok mininya.
“Angel”Bentak ibu.
Angel membalik badannya. Foto yang ia gemgang tiba-tiba terjatuh dan tepat di kaki ibu. Ibu membungkukan badan yang sudah tua. Diambilnya foto tersebut sebelum ibu melihatnya angel cepat-cepat mengambilnya bahkan membuat ibu hampir terjatuh.
“Itu foto siapa ? gel”Tanya ibu.
“Foto orang yang angel cintai.”
“A........L..... ibu berusaha membaca tulisan di belakang foto tersebut namun mata tua ibu tidak bisa melihat tulisan keseluruhannya.”
Angelpun bergegas pergi dari ibu ia tak ingin terus disediki oleh ibu terlalu jauh. Kisah percintaan angel terus berlanjut kearah yang lebih jauh angel selalu berusaha berpenampilan seperti perempuan yang pernah dicintai oleh kekasihnya itu. Lelaki yang bersamanya angel tersebut semakin tak bisa melupakan perempuan yang pernah ia cintai. Ia sadar betul rasa cintanya bukan untuk angel, namun ia hanya ingin terus melihat perempuan yang pernah dicintainya dalam kepribadian dan tubuh angel,berbeda dengan mia yang semakin larut dengan kesedihannya. Sidang perceraian pertamanya tak ia datangi mia memutuskan untuk menetap di bandung dan tak ingin menginjakkan kakinya ke jakarta. Zain yang mendengar keputusan mia itu tak dapat berbuat banyak.
Ibu mia terus menyemangati mia bahkan ibu berpesan agar mia menghadari sidang perceraian selanjutnya bagaimanapun ia harus berpisah dengan Bram dengan cara yang baik. Namun, hati wanita tak sekuat saeperti baja ia begitu rapuh didalamnya.


11
Tepat 3 hari lagi  tanggal 17 Agustus  Angel genap berusia 17 tahun ibu sudah menunggu tanggal ini, ibu mengingatkan mia untuk mengungkap kebenaran yang ia sembunyikan sesuai janjinya berapa tahun silam. Mia pun merasa tak ingin menyimpan rahasia ini lagi cukup lama karena kebohongannya itu membuat rumah tanggganya hancur seperti saat ini.
Angel yang sudah menanti tanggal ulang tahunnya ini  tak sabar menerima hadiah dari kekasihnya. Ibupun nampak bersemangat ia sudah merencanakan pesta ulang tahun untuk angel walaupun ia setiap hari marah melihat penampilan angel namun tak pernah ada rasa benci dihatinya.
            Hari yang ditunggu-tunggu tiba  pagi-pagi mia  sudah dengan wajah yang berlumur dengan tepung. Kali ini ia berlagak seperti chef internasional yang sedang berkompetisi meraih gelar terbaik. Ditempat lain ibu sedang sibuk membereskan rumah di bantu dengan zain yang lansung ke bandung ketika mia memintanya.
            Sudah hampir setengah hari mia masih berkelut dengan tepung percobaannya membuat kue tak kunjung berhasil ada yang gosong, ada yang tak mengembang, bahkan ada pula kue yang dibuat mia dengan rasa yang bercampur aduk rasa manis,asin,asam menjadi satu.
            Zain berinisiatif menawarkan diri untuk membantu namun mia menolaknya bahkan zain berapa kali zain meminta mia untuk membeli kue di toko saja daripada memaksakan diri namun mia tetap pada pendiriannya ia tak ingin di bantu oleh siapapun ia hanya ingin kuenya bisa membuat angel bahagia. Zain yang menatap mia melihat rasa cinta dan sayang mia untuk angel yang begitu besar.
            Berbeda di tempat lain sosok yang angel mencintai angel sedang membuat puisi untuknya. Ia tuliskan kata demi kata di sepucuk surat bewarna merah muda bahkan ia sudah menyiapkan kado yang sama seperti yang ia pernah berikan kepada wanita yang dulunya ia cintai.
            Saat angel pulang semua orang berlagak tak mengingat apapun. Kehadiran angelpun tak dihiraukan angel tampak kesal terhadap sikap kakak dan ibunya itu, yang membuatnya bertambah kesal tak ada sepatah kata selamat ulang tahun yang diterimanya hari ini mulai dari teman-temannya di sekolah, orang-orang di rumah bahkan kekasih hatinya sendiri.
            Saat malam hari tiba tampak semua kesibukan terjadi di malam itu ibu sengaja menyuruh angel pergi berbelanja dengan daftar belanja yang begitu banyak agar angel pulang sedikit lebih lama.angel  terus mengeluh sepanjang jalan karena beban belanjaan yang berat tiba angel melihat mobil kekasihnya yang menuju rumahnya. Angelpun nampak senang ia pun mengeluarkan jurus seribu langkah untuk menuju rumahnhya. Lelaki yang angel cinta itu mengetuk pintu berapa kali namun tak ada yang menjawabnya volume musik yang dihidupkan zain membuat semua orang yang ada disana tak mendengar apapun.
            Angel yang sudah sampai di depan rumahnya tersenyum.Ia bersikap seperti tak mengenali lelaki itu.
“Mencari siapa yah pak?, ada yang ulang tahun yah hari ini wah kadonya besar sekali.”
Lelaki itu mengenali suara perempuan itu ia membalikan badannya dan menyanyikan lagu untuknya sambil memetik gitar.
Aku jatuh cinta kepada dirimu
Sunguh sunguh cinta oh apa adanya
Zain mematikan volume musik yang ia pasang. Mia  mendengar suara lagu Roulette dari depan rumah ia teringat akan seseorang. Ia berusaha mengingatanya dan saat pikirannya membayangkan satu orang ia lansung berlari menuju kedepan namun tak ada siapun di depan rumahnya. Mia menghelus-helus dada, ia mencoba menghapus pikiran yang telintas di benaknya.
“Kak mia” panggil angel dari belakang.
Mia membalikan badannya,betapa kagetnya ia melihat Alfath berdiri dihadapannya. Ia mulai lunglai kakinya terus melangkah mundur. Alfath terpaku melihat sosok wanita yang selalu ditunggunya.
“Mi,apa kabar?”
“Sayang, kamu kenal sama kakak aku” tanya angel yang masih binggung melihat keduanya.
“Sayang, Angel kamu ngapain pangil dia sayang” bentak mia.
“Kenapa? Dia pacar angel kak.”
“Prak” tangan Mia melesat ke pipi angel. “ Kamu bilang dia pacar kamu? Dia ayah kamu angel” Mia menangis         .
Ibu dan zain keluar dari rumah mendengar kegaduhan yang ada diluar.
“Mi jadi ini anak kita” sahut Alfath sambil menarik tangan mia.
Untuk kedua kalinya tangan mia kali ini menampar pipi Alfath. “Kamu orang yang paling aku benci, kamu yang sudah menghancurkan hidup aku, sekarang kamu mau menghancurkan hidup anak kamu. Sosok laki-laki macam apa kamu itu” Mia terus menangis rasanya ia tak mampu lagi menahan beban dalam hidupnya.
“Mi, kamu percaya dengan aku walaupun air di laut berubah warna aku tak pernah sedikitpun melupakanmu. Aku selalu menunggumu, aku berpacaran dengan angel karena ia mirip denganmu, karena melihatnya seolah aku melihatmu. Percayalah mi aku selalu mencintaimu.” Alfath kini berlutut di hadapan mia.
Angel yang mendengar perkataan Alfath merasa terlukai bukannkah seharusnya hari ini hari yang menyenangkan untuknya namun kenyataan pahit yang harus diterimanya.
“Alfath aku mohon kepadamu aku sudah menghapus namamu dalam ingatanku aku sudah mengkubur kenangan masa lalu kita.Jadi, untuk apa....”
“Cukup, cukup kak teriak angel.
“Angel tidak tahu harus memangil kakak apa kakak atau Ibu dan selama 17 tahun ini angel selalu iri dengan anak-anak yang diluar sana yang bisa memeluk ayahnya kapan saja, namun apa kak angel harus memendam semua perasaan itu karena angel sadar angel tidak memilki ayah lagi dan kakak dan ibu merahasiakan ini dari angel selama ini” air mata angel menetes.
“Selama ini angel mencintai ayah angel sendiri, sosok yang selalu  ada di dalam mimpi angel, sosok yang angel cintai derngan setulus hati dan hari ini angel sadar sosok itu tak pernah mencintai angel.”
Angel kini berhadapan dengan mia. “Ibu......”
Mia menatap angel penuh kerinduan 17 tahun lamanya suda ia berharap untuk dipanggil dengan nama itu.
“Cuih.... kamu pikir kamu pantas dianggap ibu, ibu macam apa yang membiarkan anaknya sendiri, ibu macam apa yang menitipkan anaknya kepada neneknya bagimu aku anak haramkan.” Angel senyum sinis.
“Angel” bentak ibu mia yang tak tahan mendengar perkataan cucunya ini.
“Angel ibu mengandungmu selama 9 bulan nak dan ibu sangat menunggu hari ini nak, ibu rindu dipanggil ibu olehmu. Ibu mempertaruhkan nyawa ibu sendiri untuk mempertahankanmu. Ibu maaf nak ibu terlalu egois ibu terlalu mementingkan masa depan ibu tanpa memikirkanmu.”
“Maaf kalian pikir angel ini apa? patung? Boneka? Angel punya hati nenek kenapa nenek juga membohongi angel bukankah nenek yang merawat angel selama ini kenapa tidak ada satupun orang yang mempedulikan angel”
“Angel” bentak alfath. “Kamu seharusnya menghormati ibu kamu.”
Prak..... kali ini tangan angel yang melesat di pipi Alfath.”Anda sadar, anda penyebab semua masalah ini.” angelpun pergi meninggalkan semua orang yang ada di rumahnya.
            “Angel .......”teriak mia.
Malam itu hujan turun dengan deras. Mia terus menatap jendela berharap angel kembali kerumahnya. Ibu mia terus menengkan anaknya itu. Zain yang melihat semua kejadian malam itu menghubungi Bram untuk menceritakan semuanya. Sedangkan alfath yang merupakan pangkal dari semua itu tak merasa bersalah sedikitpun ia hanya memikirkan perasaannya terhadap mia, mengetahui mia yang sebentar lagi akan bercerai dengan suaminya membuatnya semakin bersemangat mengejar cinta mia kembali.
“Angel.....angel ......” mia terus menyebut nama angel didalam tidurnya.
Ibu terus mengusap kening anak itu. Ibu yang melihat kondisi anaknya itu tak tahu harus berbuat apa lagi. Kini tinggal penyesalan yang ada.
2 Bulan sudah angel tak kembali kerumah. Kini mia sering menyediri ia tak lepas dari boneka, boneka itu yang menemani hari-harinya. Bram yang melihat kondisi mia memutuskan membatalkan perceraian mereka dan membatalkan pernikahannya dengan Lusi. Tiap harinya Bram merawat mia menyuapinya makan, dan menghiburnya, namun mia yang sekarang bukan mia yang dulu tatapannya kosong ia hanya terus memanggil nama anaknya angel. Kadang ia menangis menatap bonekanya, kadang juga ia tertawa sendiri.








12
Bulan berganti bulan, seorang pengantar pos datang memberikan sebuah surat kepada mia yang duduk diluar.
“Permisi ada surat....” tegurnya
Mia tak mempedulikan tukang pos tersebut ia terus berbicara dengan bonekanya.
“Biar saya saja pak yang menerimanya.” tegur Bram.
Selesai menandatangai surat persetujuan tersebut Bram membuka surat tersebut membaca kata demi kata.
Ibu, angel kini sudah beranjak usia 18 tahun. Ibu kini angel sedang mengandung cucu untuk ibu. Mungkin ibu kaget mendengar berita ini maafkan angel bu. angel melakukan kesalahan angel tidak bisa menjaga diri angel dengan baik. Angel termakan bujuk rayu lelaki hidung belang. Lelah rasanya menanggung semua ini sendiri bu, angel ingin bercerita kepada ibu namun angel malu melihat ibu kembali. Angel sekarang tahu bu bagaimana sedihnya ibu selama mengandung angel. Ibu apa ibu tahu nama yang bagus untuk cucu ibu ini.  Angel sangat mengharapkan kehadiran ibu.

                                                                                                                                                                                                                        ANGEL
Mia menangis, ia meminta Bram untuk mengantarkannya ke rumah sakit namun betapa kagetnya mia ketika ia melihat tubuh kaku angel.
“Maafkan kami bu, anak ibu tidak bisa terselamatkan. Angel terlalu muda untuk melahirkan sehingga mengalami pendarahan hebat, kami sudah berusaha semampu kami” kata dokter yang berada diruangan operasi tersebut.
Mayat mia dibawa ke ruang jenazah kini tinggal bayi munggil yang sangat mirip dengan wajah angel. Mia menatapnya lirih mia menangis ketika melihat senyum kecil di wajah bayi tersebut.
“Mi, kamu mau kasih nama bayi ini siapa? Tegur Bram.
“Angel Rimayanti, gabungan namaku dengan nama angel”
Sejak Angel di kuburkan. Kondisi mia semakin membaik, ia merawat bayi angel itu seperti anaknya sendiri. Brampun merasa kebahagiannya kembali lagi. Keluarga kecil tersebut mulai merajut kebahagian yang telah lama pudar setidaknya kali ini tak ada lagi kebohongan diantaranya.
Tamat
“Jangan pernah menciptakan kebohongan sekecil apapun itu, karena ia bisa membuatmu jatuh ke jurang yang dalam”
SINDI NOPITA AGUSTINA J

Komentar