SIAPA AKU ?
SIAPA AKU ?
1
Sepercik cahaya memasuki lorong
jendelaku, awan masih malu – malu menunjukan dirinya, mataku yang masih sayu
kupaksa untuk menatap langit tetapi kali ini aku lebih memilih untuk menarik
selimutku kembali.
“Mi........Mia......... ada yang
datang.” Teriak ibu
“Siapa bu ?.” jawabku pelan
“Ini teman kamu Alfath.”
“Alfath?.”
Pikiranku lansung semberawut entah yang
mana yang pertama yang ingin ku lakukan.
“Ahhhh benar – benar mengapa sepagi ini
sudah datang Alfath oh Alfath” kerutuku
Cepat- cepat aku menemui Alfath dengan
penampilanku seadanya karena aku tak menginginkan lelaki pujaanku itu menunggu
lama.Ya, Alfath adalah bagian hidup baruku ia yang telah mengubah tangisku
menjadi tawa, sepiku menjadi berwarna, dan mengoreskan cinta bagiku.
“Alfath.............. ayo cepat ke
sekolah” ajakku
“Mi.......”(Alfath memandangiku dari
atas ke bawah sambil menahan tawanya )
“Kamu lihat apa ? memang ada yang salah
?.” sembari melihat penampilanku
“lihat ke bawah deh.”
“Astaga” teriakku. Ternyata aku
menggunakan sepatu dengan warna yang
berbeda.
“Ahhh betapa malunya aku di hadapan
lelaki pujaanku aku bersikap seperti
itu.”
Sepanjang jalan aku hanya terdiam sunguh
malu jika mengingat kejadiaan tadi rasanya aku ingin menghapus hari ini.
“Sudah jangan dipikirkan semua orang
pernah mengalami seperti itu kok.” Seru Alfath membuka pembicaraan .
“Semua orang? Tidak aku rasa Cuma
diriku.” (sambil memasang muka masam)
“Kamu marah?”
“Marah? Aku hanya heran melihatmu yang
tertawa bahagia padahal itukan sangat memalukan. ”
“hahahaha Mia bagiku kamu menggunakan
apapun itu tetap cantik.” Sambil memandangiku.
Dag – dig – dug hatiku berdesir,
jantungku berdetak seperti sedang lari maraton. Tuhan, diakah takdir bagiku, entahlah tetapi ku
berharap begitu. Seusai pulang sekolah
aku duduk di depan rumah sambil senyum – senyum sendiri.
“Mi............ ibu ingin bicara”
seketika lamunanku lansung buyar
“Apa bu”
“Alfath ? kamu pacaran dengannya?”
“iya bu”. Jawabku malu-malu
“Mi kamu anak ibu satu-satunya , ibu
tidak memiliki siapa-siapa lagi selain kamu,
almarhum ayah kamu selalu berpesan agar ibu menjaga kamu.”.
“Emang Mia salah bu?”
“Tidak kamu tidak salah, tetapi cinta
yang kamu rasakan saat ini cinta sesaat,
Kamu masih kelas 1 SMA.”
“Tidak bu, Mia yakin Alfath itu takdir
Mia.” dengan nada sedikit meninggi.
”Mi,Cinta kamu itu nak cinta yang masih
mengebu ibu tak ingin cinta itu nanti hanya menjadi abu. Kamu tahu memadamkan
cinta yang kecil itu lebih mudah daripada memadamkan cinta yang berkorbar.Ibu
tidak ingin kamu jatuh ke jurang yang lebih dalam.”
Ibu pergi meninggalkanku dengan rasa
kesalnya. Aku masih saja mengeleng-geleng kepalaku menurutku pemikirkan ibu
terlalu tidak masuk akal bagaimana bisa cintaku terhadap Alfath ia artikan
cinta yang mengebu.
2
6
tahun yang datang.
“Ibu.......ayo lari ayo! Ahh ibu tidak
mau main sambil Angel lagi”
Anak kecil itu memasang muka masam
sedangkan ibu separuh baya yang bermain dengan si kecil itu sudah nampak
kelelahan.
“Mi.....Mia”
“Iya bu” seru mia
“Kamu temenin adikmu bermain dulu nak ibu
sudah lelah”
“Iya bu, Angel ayo main sama kakak aja”
“Ahh ibu, ayo kak mia “
Angel sangat bahagia bisa mengahabiskan
waktu dengan mia, begitu sebaliknya.
“Kak mia kok ibu jahat sama angel?”
sambil memasang muka cemberut.
“Jahat kenapa ?”
“Ibu selalu berhenti bermain sama Angel,
apa ibu tidak sayang Angel?”
Mia tertawa kecil, “Angel itu disayang
kok sama ibu.Bagi ibu angel adalah malaikat dan kekuatan bagi ibu,Jadi Angel
gak boleh sedih lagi’’
(Wajah
mia tiba-tiba berubah, air matanya mengalir ia merasa tersayat mengelurkan
kata-kata tadi)
“Kakak kenapa nangis?”saambil mengusap
pipi mia.
“Angel, orang dewasa memang suka nangis
karena suatu alasan.”
“Kalau angel sudah dewasa angel nggak
mau nangis sayang air matanya”
Mia tertawa geli mendengar perkataan
Anggel itu.
(Di
dalam batinnya mia berucap kuharap sampai dewasa nanti, engkau tidak akan
meneteskan airmata karena apapun itu termasuk karenaku)
Mentari kembali keperaduaannya, kini
tinggal aku ditemani suara nyanyian jangkrik dan tetesan hujan yang membasahi
jendela kamarku, sembari duduk menikmati hujan kucoba membuka tumpukan buku
yang masih tertata rapi dikamarku,aku menemukan secarik kertas yang dibalut
dengan warna merah muda kubaca perlahan-lahan.
Aku mencintaimu sederhana
Dengan kata yang tak sempat
diucapkan kayu kepada api
Yang menjadikannya abu
Aku ingi mencintaimu sederhana
Dengan isyarat yang tak disampaikan
Awan kepada hujan yang
menjadikannya tiada
(Aku
Ingin, Supardi Djoko Darmono)
Alfath
Surat tersebut mengingatkanku kejadian 6
tahun yang lalu. Saat itu aku terus melihat jam yang sudah menunjukan pukul 3
sore sambil bolak-balik menunggu Alfath
yang tak kunjung datang. Ketakutanku bertambah, saat langit berganti warna
menjadi hitam dan rintik-rintik hujan mulai menetes.
Hampir setengah jam sudah aku menunggu
Alfath,tetapi belum juga ada tanda kedatangannya.Aku tetap memilih berada di
taman tesebut karena hujan semakin deras dan tak mungkin aku kembali kerumah.
5 menit berselang, aku melihat sosok
lelaki dari kejauhan menggunakan dahan pisang sebagai payung. Ia terus berjalan
mendekatiku dan melambaikan tangannya tetapi tak ku gubris.
“Mia...maafin aku.Aku telat berapa
jam?”(dengan nada panik)
Mia
hanya terdiam seribu bahasa.
“Mi................ Aku telat karena aku
harus bantuin pak Jaka terlebih dahulu tetapi aku sudah disini sekarangkan aku
terus mikirin kamu, aku tidak peduli hujan deras, aku juga gak peduli kalau aku
bisa sakit karena ini, Cuma satu yang aku pikirin perasaan kamu.”
Mia tetap tak mau membuka
mulut,kehadiran Alfath ibarat angin berlalu baginya dan kini ia berdiri
merasakan hujan sambil memejamkan mata.
“Kamu tahu kenapa hujan diciptakan Tuhan
?” sambil memandangi mia tapi tetap tak ada jawaban.
“Agar kita menikmati rintikan tiap
detiknya. Aku juga belajar dari hujan saat ia turun kehadirannya diharapkan
sebagian orang tapi banyak juga yang mengeluh,padahal hujan hanya ingin dunia
tersenyum sama denganku yang ingin selalu membuatmu tersenyum.
Alfath lagi-lagi ingin membuat mia
berbicara, Mia sadar Alfath kini berdiri disebelahnya tapi ia ingin Alfath
terus seperti ini menjadi hujan dalam hidupnya.
Hujanpun berhenti, mia segera mengambil
tasnya dan melangkah pergi tanpa berpamitan ataupun mengucapkan sepatah kata
untuk Alfath. Di tengah perjalanan mia membuka tasnya untuk mengambil telepon
seluler dan jatuhlah sebuah kertas yang dibalut warna merah muda yang berisikan
puisi pujangga ternama Supardi Djoko Darmono yang mengambarkan isi hati Alfath.
Mia tersenyum membacanya dan menuliskan
pesat singkat untuk Alfath ‘maaf’ dan berapa detikpun ia menerima balasan ‘aku
hanya berusaha mengertimu’.
“Mi......”teriak ibu. Membuyarkan
lamunanku.
“iya bu”sahutku.
“Cepat sini,cepat .......mi’
“Iya bu,sabar.....”
“Cepat kamu duduk”(sambil menarik
tanganku)
“Ada apa bu?”
“kamu diterima nak kerja di Jakarta”
“Jakarta” aku mencoba mengingat-ingat
tetapi aku yakin aku tak pernah menuliskan apapun untuk dikirimkan ke Jakarta.
“Bu, mia tidak pernah nulis apapun
mungkin salah kirim”
Ibu terdiam sejenak.”Ibu yang
mengirimkannya mi. Ibu yang mengambil surat lamaran kamu dan mengirimkannya.
“untuk apa bu?,mia betah disini mia
ingin bersama ibu dan tetap menjaga Angel,”
“Iya ibu tahu , tapi ini kesempatan kamu
nak,ibu tidak ingin hidup kamu jalan di tempat.Masalah Angel biar ibu yang
mengurusnya dari kecil Angel sudah dengan ibu kamu tidak perlu khawatir.Mi
....ibu ingin kamu bahagia,tolong dengarkan ibu (sambil memegangi tanganku).
Suara ibu menjadi sedikit lebih kecil
dari sebelumnya
“Ibu hanya ingin kamu
melupakannya,mengubur masa lalumu dan mengobati pedihmu. Ibu tahu kamu sering
menangis dan gelisah dalam tidurmu.Mi ayo bangkit jadi mia yang ibu
banggakan.”Ibu menunduk berusaha menyembunyikan tangisnya
Aku menatap ibu dengan pilu hanya ibu
yang 6 tahun ini menemaniku mengerti semua kondisi.
“Iya bu mia mau kerja di Jakarta”(aku
dan ibupun berpelukan)
3 hari kemudian aku berpamitan dengan
ibu dan Angel,sulit rasanya meninggalkan kedua orang yang aku cintai ini namun
apa yang bisa ku perbuat aku harus membuka lembaran hidup baruku.Aku berjanji
dengan diriku sendiri aku akan menjadi mia yang baru.
“Kak mia mau pergi yah?”
“Iya tapi kak mia janji akan kembali
lagi, kak miakan harus main sama Angel
lagi”
Aku menatap Angel dengan penuh
kesedihan.
3
Sesampaiku
di Jakarta,aku rasakan hiruk-piruk kota metropolitan itu, deretan kendraan yang
berjejer bagaikan kumpulan semut yang sedang mencari makanan mungkin benar
dunia ini kejam bayangkan saja di kota metropolitan ini aku melihat kebanyakan
orang yang sibuk dengan dunianya sendiri entah sms,teleponan, dan kegiatan
lainnya.
Terik mentari cukup menyengat rusukku,
aku berkeliling untuk mencari tempat baru yang akan ku tinggalkan tetapi cukup
susah yang kurasakan karena Jakarta sunguh kota yang padat. Sampai sore harinya
aku menemukan tempat tinggal yang mungil,bersih,dan nyaman untukku seorang.
12 Januari 2012
Mentari sudah terbit dari arah timur aku
bergegas menuju tempat baruku bekerja, sesampaiku di halte aku binggung naik kendraan bewarna apa, banyak kendraan
yang berlalu-lalang ada yang merah, kuning, trans jakarta, dan taksi. Batinku
memilih warna kuning, beberapa menit satu per satu penumpang turun tetapi aku
tak kunjung menemukan alamat yang ingin kutuju. Mungkin ini maksud ‘malu
bertanya sesat di jalan’. Sial............ sudah 22 tahun umurku tetap saja
kesialan itu masih ada sepertinya aku harus mandi kembang 7 warna untuk
menghilangkan kesialan itu.
08.00 Wib di kantor
“Mbak permisi saya Mia Riyanti, saya
menerima surat pemberitahuan bahwa saya diterima di kantor ini.” tegurku
“Tunggu
yah ...... mba saya cek terlebih dahulu” jawab resepsonis itu dengan
ramah.
“iya silahkan.Bagaimana mbak?”
“Maaf mba yang ada Mia Rimayanti,mungkin
mbanya salah.”
“Bagaimana salah saya sudah jauh-jauh
dari Bandung ke Jakarta Cuma untuk ini, seharusnya kantor ini bertanggung jawab
inikan kantor besar seharusnya lebih teliti untuk yang seperti ini.” wajahku
lansung lesu, baju inipun basah karena keringat yang berjujuran.
Aku duduk termenung di depan kantor
terbayang di benakku wajah ibu yang mengharapkanku menambah kepedihanku.
Sepanjang jalan aku melihat penjual kaki lima yang menawarkan makanan yang
mengiurkan. Akhirnya aku duduk di bangku tukang bakso karena terlihat sepi tak
ada pengunjung sama seperti yang aku rasakan saat ini.
“Makan bakso dek.” Tegur tukang bakso
itu.
“iya bang pedas yah”
“iya. Kenapa dek? Tidak dapat kerjaan
yah ? memang sekarang itu susah cari kerja.”
Aku hanya senyum tipis.
“Adek darimana?.”
“Bandung bang, sebenarnya saya sudah
diterima tapi ternyata salah nama”
“Bagaimana bisa ?”
“Kantornya bang kurang teliti.”
“Memang ya dek, orang kaya suka
semena-mena hatinya terbuat dari batu.”
“Tapi dek itu seharusnya tidak boleh
sudah melanggar UU kalau kamu mau itu bisa dituntut dek.”(aku melonggo
mendengarnya)
Tukang bakso tadi menjelaskan panjang
lebar tentang UU yang ia maksud. Aku sedikit paham dan baru menyadari tukang
bakso ini bukan sembarang tukang bakso ia adalah seorang sarjana hukum. Inilah kehidupan kadang takdir
berkata lain ia tak bekerja di meja hijau melainkan bekerja untuk gerobak hijaunya.
Perkataan tukang bakso tersebut serasa
menamparku seharusnya aku lebih berusaha agar kantor tadi mau menerimaku atau
meminta maaf kepadaku.
Setelah hari itu kuputuskan untuk kembali
lagi ke kantor tersebut, kali ini aku ingin menutut hakku.
Keesokan harinya......
Aku sudah menunggu 1 jam di depan
gerbang kantor tersebut sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Setiap orang yang
berjalan melihatku sambil tersenyum akupun tak canggung membalas senyuman itu
karena menurutku senyum itu ibadah.
Tettt.....Tet.................
Tiba-tiba berhenti sebuah mobil sedan.
“Maaf pengemis dilarang masuk mbak?”
seru lelaki tinggi berwajah sawo matang yang menggunakan jas hitam mahal itu.
“Pengemis? Pak saya ini bukan pengemis.”
Aku mengeluarkan dompetku tapi sialnya
di dompetku hanya ada KTP dan uang 20000. Aku berusaha mencari lagi di kantong
bajuku jatuhlah uang 500 rupiah dan 200 rupiah dari sakuku. Aku lansung
menginjak uang tersebut untuk menutupi rasa maluku.
“Minggir” seru lelaki itu.
“Kamu tahu uang 500 rupiah dan 200
rupiah ini jika dibandingkan dengan isi dompet saya tidak ada apa-apanya bahkan
untuk membeli jas hitam ini saja tidak bisa.” Dengan tatapan tajam.
Lelaki itu menarik tanganku dan
meletakkan uang 700 rupiah tadi. Aku masih heran melihat lelaki itu bukan
permintaan maaf yang kuterima malah penghinaan. Emosiku meledak lansung saja
kuambil sepatu untuk melemparnya.
Prak.........Prak
Celaka bukan lelaki berjas hitam itu
yang terkena melainkan lelaki tegap berkulit putih yang merintih kesakitan.
“Maaf.......Maaf saya tidak sengaja.”
“Tidak apa- apa, besok lebih hati-hati lagi
yah”
Sungguh menakjubkan aku mendengarnya, hatinya
selembut bak salju sungguh berbeda dengan lelaki yang berjas hitam tadi. Lelaki
itupun pergi meninggalkanku tanpa ku tahu namanya.
Akupun kembali ketujuan awalku
mendapatkan pengakuan maaf dari kantor tersebut. Aku teringat dengan lelaki
berjas hitam itu, penampilannya menunjukan seorang bos, kurasa ialah pemilik
perusahaan ini yang seharusnya bertanggung jawab atas nasibku ini.Tanpa pikir
panjang lagi aku lansung menerobos untuk mencarinya.
“Permisi pak.”
“Kamu lagi, kamu mau apa sekarang?
Sekuriti....sekuriti” teiaknya
“Pak jangan saya mau bicara baik-baik
sama bapak” dengan nada sedikit memelas
“Memang kamu mau bicara apa oh
jangan-jangan kamu mau minta 300 rupiah untuk melengkapi uang kamu biar seribu
gitu ? mau beli apa? permen kasian....yah”
Aku meredam kemarahanku kalau bukan ia
pemilik perusahaan ini tak ingin sedikitpun ku menghormatinya.
“Aduh gimana yah, saya tidak ada uang
recehan, tapi syukur kamu ketemu saya ini untuk kamu(sembari mengeluarkan
dompetnya dan mengambil uang bergambar pangeran antasari).
Wajahku kini semakin merah padam kurasa
lelaki ini tak pernah diajarkan sopan-santun oleh kedua orang tuanya atau ia
yang menutup hatinya untuk kebaikan dan bukan hanya mulutnya saja yang seperti
bisa ular tetapi senyum yang ia pancarkan membuat semua orang yang melihatnya
seperti ingin memukulinya. Aku mengelus-ngelus dadaku mencoba sabar dan tetap
tersenyum walau senyum yang kupancarkan senyuman palsu.
“Maaf pak saya kesini bukan untuk itu
jika bapak berpikir saya hanya ingin uang bapak, bapak salah besar!.Saya kesini
mau komplen atas kinerja perusahaan bapak ini bagaimana bisa sebuah perusahaan
yang besar dengan bangunan yang menjulang tinggi melakukan kesalahan nama
pegawai yang ingin diterimanya. Asal bapak tahu saya dari Bandung kesini dan
akhirnya saya tidak diterima karena hanya salah nama. Sangat miris sekali
kantor ini dipimpin oleh orang yang tidak tahu sopan santun dan berhati batu
dan semua itu tercermin ketika saya melihat bapak.”
Aku tersenyum menang, wajah lelaki itu
berubah seakan singa yang melihat mangsanya seperti ia ingin melumatku sampai
habis.
“Sekuriti................sekuriti”
dengan nada yang keras
“wow bahkan sekarang saya menemukan
sifat bapak lagi yaitu pengecut, seorang pengecut tidak akan mampu menghadapi
masalah yang ia hadapi ia akan berlari sejauh mungkin.”
“Jadi sekarang mau kamu apa?” bentak
lelaki itu.
Aku menjelaskan panjang lebar tentang UU yang dikatakan tukang bakso itu. Lelaki
berwajah sawo matang tersebut semakin terpojok, kini aku rasa semakin dekat aku
bisa bekerja dikantor ini. Benar saja aku diterima olehnya.
Aku lansung jingkrak-jingkrak kegirangan
kusalami kedua tangan lelaki itu bahkan yang membuatku lebih bahagia aku
ditempatkan menjadi sekretaris.
4
Seminggu
berlalu aku menjalani training dan memngetahui bahwa aku adalah sekretaris pak
Bram, orang kebanyakan mengatakan bahwa Pak Bram adalah sosok lelaki yang baik
hati dibalik wajahnya.Ini menambah semangatku di pikiranku tergiang-giang sosok
lelaki tegap berwajah putih yang pernah kulempari sepatu, aku berharap ia
adalah bosku.
Pagi harinya aku dikenalkan dengan
atasanku.
“Perkenalkan pak, saya Mia Riyanti
sekretaris baru bapak mohon bimbingannya pak”
Betapa terkejutnya aku ketika lelaki itu
memalingkan tubuhnya. Pak Bram adalah lelaki yang ku temui beberapa hari ini,
lelaki yang memiliki sifat angkuh dan sombong itu. Aku mencoba menatapnya
lekat-lekat mengingat orang di sekitar kantor mengenal Pak Bram sebagai sosok
yang baik hati apa ini dikatakan baik hati? Aku hanya bisa menelan ludah
melihat sosok yang ada di depanku saat ini.
Lelaki itu menatapku dengan tajam lalu
tersenyum. Kurasa ia sudah merencanakan semua ini apa yang diinginkannyadariku,
banyak pertanyaan menghantuiku.
Sehariku bekerja dengannya ibarat
sebulan lamanya, aku seorang sekretaris tetapi bekerja layak OB membuat kopi
untuknya, membersihkan meja kerjanya, dan dengan jari manisnya itu ia
semena-mena terhadapku.
Hari demi hari berganti setiap malam
seusai bekerja tulangku rasanya ingin copot dari tubuh ini. Disuatu malam aku
tertatih aku tak mampu lagi berjalan pulang aku duduk di trotoar jalan untuk
mengambil nafas. “Betapa bahagianya aku jika ada pangeran yang berbaik hati
menolongku” batinku.
Tiba-tiba sorotan lampu mobil
menyilaukan mataku.
“Mia”
Aku mencoba menatapnya. Ahh Pak Bram
Tuhan mengapa harus ia yang melihatku.
“Iya pak.”
“Kamu sakit?”
“iya
pak, saya tidak enak badan.”
“Saya kira kamu tidak bisa sakit” senyum
tipis
“Robot saja bisa rusak pak apalagi
manusia.”
“ya sudah sini saya antar”
“Tidak perlu pak rumah saya jauh”
“Jauh ? seberapa jauh? Ayo cepat” sambil
menarik tanganku.
“Pak, bapak itu mau ngantar manusia
bukan hewan peliharaan jangan asal tarik tangan orang.”
“Maaf.... ini pertama kalinya saya
ngantar seorang wanita”
Aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
“Makanya pak jangan galak bapak itu
harus belajar tersenyum dengan orang lain karena menurut saya bapak itu tidak
jelek cuma kurang ganteng aja ”godaku.
Lelaki itu memasang wajah cemberut.
“Saya Cuma becanda pak jangan dimasukin
hati.”
“Saya itu tidak terlalu memikirkan cinta
menurut saya nomor 1 itu pekerjaan.”
“Nah lo bapak mau jadi bujang lapuk”
“Tenang kan sudah ada kamu.”
Aku dan pak Bram tertawa terbahak-bahak,
kali ini pemikiranku sedikit berubah tentang sosok lelaki yang satu ini.
Beberapa menit berlalu kami sudah sampai di rumahku.
“Makasih pak saya masuk duluan.”
“iya mi....”
“Jangan
panggil saya bapak jika di luar kantor kita masih seumuran kok ya beda tipis
saya masih 25 tahun tidak pantaskan jika dipangil bapak.” Sambil mengedipkan
matanya
Aku hanya mengacungi kedua jempolku.
Sebulan sudah aku bekerja kedekatanku
dengan Bram semakin bertambah. Di kantor Bram sangat memprihatikanku bahkan
kadang karena perhatian tersebut banyak orang yang membicarakan kami aku
sedikit terngangu dengan semua itu tapi aku berusaha menutup telingga anggap
saja angin berlalu.
Suatu hari aku mengambil cuti karena
penatnya bekerja, aku pergi ke rumah sakit untuk memeriksa keadaanku yang
semakin hari kurasa semakin menurun. Sesampainya di rumah sakit aku bertemu
dengan seseorang yang yang tak asing bagiku.
“Eh kamu...” samil memukul pundaknya,
“Aduh,,,,maaf siapa yah” sambil merintih
kesakitan.
“Aku yang pernah melemparimu dengan
sepatu. Ingat?”
“Ouh iya, tenaga kamu itu seperti cowok
yah kemarin lempar sepatu sekarang pukul pundak orang.”
“Maaf-maaf kenalin aku Mia” sambil
menggulurkan tanganku.
“Aku zain.”
“Kamu sedang apa disini?”
“Aku dokter disini. Kamu sendiri sakit
apa?”
“Aku Cuma kecepaian aja. Lansung kamu
kok pernah di kantor Bram?”
“Ouh itu aku sepupunya Bram. Kamu
siapanya Bram?”
“Aku sekretaris Bram”
Nada hpku berdering sebuah pesan singkat
dari bram.
Mi,,
kamu sakit ? sakit apa? sudah minum obat? Sudah ke dokter belum? Sudah makan atau kamu mau dibelikan sesuatu?
aku ke rumahmu sekarang yah.
Aku sedikit binggung ingin menjawab apa
pertanyaan Bram bertubi-tubi untukku.
“Sms dari....”
“Bram” potongku.
Aku menulis pesan singkat untuk Bram.
Aku
di rumah sakit sekarang dan aku bertemu dengan Zain,sepupumu disini.
“Maaf mia aku harus kembali lagi
bertugas titip salam untuk Bram yah”
“Ouh iya”
Zainpun meninggalku tapi mataku masih
tetap tertuju padanya lelaki itu terlihat ramah dengan semua orang senyum
manisnya, sikapnya yang begitu sopan, kurasa wanita yang memilikinya sangat
beruntung. Aku masih penasaran terhadap sosok lelaki itu diam-diam aku
mengikutinya. Ia masuk ke kamar pasien, ada sosok anak perempuan kecil yang
begitu senang melihat kehadirannya.
“Pak dokter. Kok lama datangnya.” Sahut
anak kecil itu.
“Iya tadi pak dokter ketemu seseorang.”
“Pacar pak dokter?”
“Bukan, anak kecil kok tahu
pacar-pacaran ini untuk kamu supaya cepat sehat”. Sembari memberi lolipop untuk
si keci itu.
Aku menatap sikap Zain yang begitu baik,
anak kecil itu mengingatku dengan Angel sepertinya aku merindukan angel.
“Teman pak dokter perempuan yah?”
“iya”
“Itu....”sambil menunjukku yang
mengintip lewat jendela.
Aku melambai-lambaikan tanganku dan
hendak pergi. Aku tak tahu harus menjawab apa jika Zain menanyaiku.
“Mi....” teriak Bram. “Kamu sakit apa?
kok bisa sampai masuk rumah sakit?.Bram begitu panik menatapku.
“Tidak, aku tidak sakit Cuma kelelahan.”
“Bram” Sahut Zain berjalan menuju kami.
“Hai Zain, Apa kabar lama tidak bertemu
denganmu.”
“Alhamdullilah sehat. Mi tadi mau
ngapain ngintip lewat jendela.”
“Aku.....(aku dengan nada terbata-bata
sambil memikirkan jawaban yang pantas untuk aku jawab)
“Kalian sudah saling kenal ? tanya Bram.
“Sudah mia ini waktu itu ingin melempari
seseorang sepertinya sedang emosi tapi malah aku yang terkena”
“Memang kamu ingin melempar siapa mi.”
Tanya Bram lagi
“Kamu” jawabku spontan.
Aku baru sadar atas jawabanku. Bram
sepertinya tidak terima atas jawabanku ia pergi meninggalku dengan zain.
“Mi,,,,kamu beneran waktu itu mau
melempari Bram?”
“Iya aku waktu itu emosi zain”
“Lansung kamu biarin Bram pergi begitu
saja” sahut zain.
Aku lansung berlari mengejar Bram tapi
sayang aku telat mengejarnya. Cepat-cepat aku menulis pesan singkat untuknya.
Bram,
aku minta maaf waktu itu aku terbawa emosi dengan sikapmu. Aku mohon maaf
sekali lagi.
Aku masih menunggu balasan dari Bram.
Aku duduk di depan rumah sakit tersebut aku tak mengira Bram akan sakit hati
atas pernyataanku. Zain yang dari tadi menemaniku mencoba menghiburku. Aku
tertawa bersama dengan Zain melupakan masalahku dengan Bram.
5
Keesokan harinya.....
“Bram” tegurku.
“Kamu tidak punya sopan santun terhadap
atasanmu panggil saya bapak, kamu pikir kamu siapa bisa memanggil itu
seenaknya.”
Bram kembali ke pribadi yang pertama ku
kenal, bersikap semaunya dan kasar terhadap orang lain. Aku hanya terdiam melihat
Bram. Sepulang kerja aku sudah menunggu Bram di depan mobilnya.
Lelaki itu melihatku dan berusaha
menjauhiku.
“Bram,,,,aku minta maaf waktu itu jujur
aku emosi dengan sikap kamu yang sombong, angkuh.... belum sempat aku
melanjutkannya Bram pergi meninggalkanku.
“Bram”teriaku.
“Kamu pikir aku marah karena itu, iya
aku sombong, aku kasar dan menurut kamu zainkan yang lelaki yang baik hati dan
ramah. Kamu pikir aku pergi meninggalkan kamu di rumah sakit nggak mi aku
khawatir dengan kamu tapi apa kamu tertawa-tawa dengan Zain seperti melupakan
aku. Sudah anggap saja tidak ada Bram di kehidupan kamu.”
Aku tertegun mendenggarnya.
“Bram kamu cemburu dengan Zain?” tanyaku
dengan nada ingin tahu.
Bram tak kunjung menjawab tubuhnya kaku,
badannya serasa membeku,aku ingin tertawa melihat ekspresi Bram.
“Cemburu, tidak aku tidak cemberu”
“Bram, aku minta maaf denganmu masalah
itu Zain hanya menghiburku ia tahu jika aku sedang sedih.”
“Kamu sedih karenaku ?” Tanya Bram
sedikit menyelidik.
“Iya aku sedih karenamu aku takut jika
kamu terluka padahal kamu sudah rela-relain ke rumah sakit.”
Bram tertawa terbahak-bahak mendengar
ucapanku.
“Kamu itu jadi orang jujur banget sih”
sambil mencubit pipiku.
Pipiku memerah. Perasaan cinta 6 tahun
yang lalu yang telah ku kubur kembali ke permukaan hanya saat ini bukan Alfath
yang ku cintai melainkan Bram tapi ku coba meyakinkan hatiku bahwa Bram adalah
lelaki yang tepat bagiku. Aku tak ingin cintaku kembali menjadi abu.
Setelah kejadian itu hubunganku dengan
Bram semakin baik. Kamipun melewati hari bersama-sama kembali. Disaat liburan Bram mengajakku ke pantai di
wilayah Bandung. Pantai itu mengingatkanku dengan Alfath banyak kenangan
didalamnya.
“Alfath kita mau kemana sih”
“Udah tenang aja” sambil memangangi
mataku.” Tara...... lihat deh mi indahkan pantainya.”
“alfath kita ngapain kesini.” Tanyaku.
Alfath mengambil gitarnya menyanyikan
sebuah lagu yang pernah dipopulerkan oleh Roulete.
Awalnya
ku tak mengerti apa yang sedang kurasakan
Segalanya
berubah dan rasa rindu itu pun ada
Sejak
kau hadir di setiap malam di tidurku
aku
tahu sesuatu sedang terjadi padaku
Aku
jatuh cinta kepada dirimu
Sunguh
sunguh cinta oh apa adanya
Waktu itu aku terkesima melihat sosok
Alfath di pantai inilah alfath menyatakan cinta kepadaku.
“Mi....mia?” tegur Bram membuyarkan
lamunanku
“Eh, iya Bram .”
“Kamu kenapa?”
“Aku hanya teringat teman aku saat aku
kesini dengannya”
“Mi.... hari ini aku ingin membuat
sebuah pengakuan untukmu, 18 Agustus 2018
pukul 4 sore lewat 5 menit ini aku ingin mengatakan ‘Aku Jatuh Cinta
kepada mu’ iya aku bukan sosok lelaki yang romantis seperti yang kamu harapkan,
aku bukan seorang pangeran tetapi aku akan menjadi lelaki yang mencintaimu
sampai akhir hayatku.” Sambil mengengam tanganku.
“Bram, aku bukan seorang putri, aku banyak
memilki kekurangan yang tak pernah orang ketahui, aku bukan wanita yang
sempurna seperti kebanyakan lelaki idamkan. Aku hanya tidak ingin kamu kecewa.”
“Mi, aku tidak berpikir kekuranganmu
menurut aku kamu wanita dengan sejuta kelebihan. Aku tidak ingin tahu kamu
pernah berpacaran dengan siapa, aku tak mempersalahkan jika aku bukan yang
pertama untukmu tapi ku mohon jadikan aku yang terakhir untukmu.”
Aku menangis mendengar perkataan Bram.
Lelaki ini begitu mencintaiku tapi aku tak mampu jujur terhadap perasaanku
sendiri, luka yang digoreskan Alfath begitu membekas. Saat ini aku belum ingin
membuka hatiku untuk lelaki lain.
“Maaf Bram, aku belum bisa membuka
hatiku ini.” jawabku
“Aku akan selalu menunggumu mi, aku akan
berusaha untuk menyakinkan hatimu.”Aku hanya tersenyum melihat lelaki yang di
depanku ini. Ia belum mengerti betapa pedihnya cinta itu.
Aku dan Bram yang masih berada di
Bandung menyempatkan diri untuk mengunjungi Ibu dan Angel. Rumah munggil itu
tampak sepi dari keramaian.
“Ibu,,,,,,, Angel......... mia pulang”.
Tak ada satupun sahutan yang menjawabku.
“Mi.... ibu kamu lagi pergi mungkin”
seru Bram.
“Tunggu yah Bram aku masuk dulu.”
Aku masuk ke dalamnya ku pandangi wanita
yang separuh baya tersebut duduk di kursi tua miliknya sembari membaca lembaran
surat.
“Ibu....” panggil ku lirih. Wanita
separuh baya itu memperbaiki kacamatanya pengelihatannya yang sudah tampak tak
jelas membuatnya susah untuk melihat .
“ Kamu anak ibu, Miakan?”
“Iya bu”. Aku lansung memeluk ibu.”Angel
mana bu?”
“Angel sedang bermain dengan temannya
nak kamu rindu dengan Angel yah nak?” ibu mengusap rambutku.
”iya bu, mia juga rindu sama ibu, ibu
sedang membaca apa ?”. Ibu lansung menyembunyikan lembaran kertas yang
dibacanya tadi.
Aku memandangi ibu dengan penuh curiga.
Aku melihat amplop yang bertuliskan nama Alfath.
“Ibu itu surat dari Alfath?.” Ibu jawab
mia bentaku. Ibu hanya menganguk.
“Ibu kok tidak memberitahu mia
bagaimanapun mia harus tahu, selama ini mia mencari keberadaan Alfath dan ibu hanya jadi patung
yang menutup mulut ini dengan rapat, ibu tahukan Alfath ayah dari Angel anak
mia bu”
“Mi tutup mulutmu! ibu tidak ingin
menyembunyikan ini tapi ibu harus melindungimu melindung Angel. Untuk apa nak
kamu mencari lelaki itu ia ayah dari anakmu tapi ingat mi dia yang membuat
hidupmu seperti ini.” bentak ibu.
6 tahun
yang lalu.
Saat aku masih duduk di kelas 1 SMA aku
sangat mencintai Alfath begitu juga ia, ibu selalu menasehatiku tetapi aku
menutup mata dan telingaku. Aku yang sedang mabuk asmara terbawa dengan rasa
hawa nafsu yang begitu besar. Sampai akhirnya aku melakukan kesalahan, hamil di
luar nikah.
Ya. Angel adalah anak buah cinta kami ia
bukan adikku tapi ia adalah anakku. Anak yang ku kandung selama 9 bulan dengan
penuh kepedihan karena aku tak bisa mengakuinya sebagai anak. Dunia memang
kejam ia membunuh seorang dengan perlahan, bahkan yang menambah kepedihanku
Alfath.
“Alfath aku hamil, anak kamu.” pengakuan
pahit tersebut harus ku ucapkan.
“Kamu hamil?.” Alfath tertawa terbahak-bahak
“mi kamu becanda kan?”
“Aku serius ini anak kamu.”
“jadi...? aku harus bagaimana?”
“kamu harus bertanggung jawab, kamu
harus nikahi aku.”
“Mi kamu gila kita masih kelas 1 SMA aku
anak tunggal anak satu-satunya harapan keluargaku bagaimana bisa aku nikah
denganmu, Mi aku mohon kamu gugurkan anak ini? kita harus melanjutkan studi
kita mi aku harus mendapatkan gelar sarjana baru aku mau menikah mi.”
Aku lesu melihatnya. ”Kamu bilang
gugurkan? Hati kamu terbuat dari apa Alfath aku mencintaimu dengan sepenuh
hatiku”
“Iya mi aku juga mencintai kamu tapi aku
tidak bisa menerima anak ini.”
Alfath meninggalkanku untuk selamanya ia
pindah sekolah untuk melanjutkan pendidikannya sedangkan aku harus mengandung
angel. Ibu yang melihat kondisiku membawaku ke desa yang terpencil tak
berpehuni, ibu tak ingin satu orangpun tahu keadaanku.
Iya aku yang menciptakan kepidihanku
sendiri. Andai aku tidak terlalu cinta kepada Alfath, andai Alfath menikahiku
kini semua tinggal pengadaian. Sampai akhirnya aku melahirkan sosok perempuan
kecil yang tak berdosa itu aku memberi namanya Angel karena ia malaikat bagiku.
Ibu yang selalu merawatku mengajakku
untuk pindah ke Bandung, tempat yang saat ini kami diami dengan satu syarat aku
harus mengakuinya sebagai adikku bukan anakku. Semua syarat itu untuk
menghindariku agar tidak dihina orang lain.
Aku mengambil surat yang dibaca ibu
tadi. Aku membaca kata demi kata yang tertulis di dalamnya.
Bagaimana
kabarmu Mi? aku disini sudah mendapatkan gelar sarjanaku tetapi aku tak pernah
hidup dengan ketenangan semua rasa bersalahku menghantuiku mi. Mi aku selalu
mencarimu sungguh sulit untuk mendapatkan alamat ini.
Aku
minta maaf mi atas apa yang aku lakukan padamu 6 tahun silam. Aku minta maaf
aku tak bisa menjadi ayah yang baik untuk anak kita? Oh ya apakah anak kita
sudah tumbuh besar? Siapa namanya? Aku minta maaf karena aku belum bisa
mengunjungimu tapi aku berjanji dengan diriku sendiri aku akan tetap
mencintaimu aku akan kembali dengan rasa cintaku.
Salam
rindu dari sosok yang selalu mencintaimu
Alfath.
Selain surat itu alfath juga menuliskan
puisi untukku.
Tersenyumlah
saat kau mengingatku
Karena
saat itu aku sangat merindukanmu
Dan
menangislah saat kau mengingatku
Karena
saat itu kau tak berada disampingmu
Tetapi
pejamkanlah mata indahmu itu
Karena
saat itu aku berada di dekatmu
Karena
aku telah berada di hatimu untuk selamanya
Tak
ada yang tersisa lagi untukku
Selain
kenangan-kenangan indah bersamamu
Hati,cinta
dan rinduku adalah milikmu
Cintamu
tak kan pernah membebaskanku
Mana
mungkin aku terbang mencari cinta yang lain
Cintamu
akan tetap tinggal bersama sayapku hingga kematian
Aku yang membaca surat itu lansung
memerasnya dan membuangnya. Semudah itukah dia menulis surat ini dalam batinku.
Kini cintaku terhadap Alfath telah berubah menjadi benci, benci yang tak mampu
dihapus dengan untaian kata indah, benci yang membuatku berada tanpa ada
seberkas cahaya. Aku lansung memeluk ibu dan menyembunyikan teteskan airmataku,
batinku tak mampu menahan kepedihanku.
“Mi....” tegur Bram yang sudah menunggu
lama di luar.
“Bram ....maaf aku lupa mengajak kamu
masuk ” sambil mengusap air mataku.
Lelaki itu mendekati kami dan menyalami
ibu.
“Siapa ini mi? Tanya ibu sambil melirik
ke arah Bram.
“Ini bram bu, bos mia di jakarta.”
“Astaga ibu kira kamu kesini sendiri
nak, kamu tidak bilang ada bos kamu disini. Bapak mau makan apa pak? makanan
disini tidak kalah pak dengan dengan makanan di jakarta kok pak.”
“Ibu jangan repot-repot saya bisa makan
apa saja selama itu sama mia.”
Ibu melihatku dengan tatapan layaknya
detektif.
“Ibu saya ingin meminta restu, saya
mencintai mia”. Aku lansung mencubit Bram.
Ibu tertawa geli melihat tingkah kami,
tanpa malu Bram menunjukan kemampuannya melakukan pekerjaan rumah, rumah ibu
yang tadinya penuh dengan debu kini terlihat lebih layak untuk disebut rumah.
Bram juga mampu membuat ibu tertawa dengan guyonannya. Aku terus menatap dari
kejauhan, lelaki itu telah mencuri hatiku dan ibuku.
“Kak mia..... panggil anak kecil dengan
penampilan kotor saat itu.
“Angel....”
“Kak mia angel kangen dengan kakak”
sambil mendekatiku.
“Eitss kakak mia tidak mau memeluk
angel, kok bajunya kotor banget lansung bau asam lagi”.Perempuan kecil itu
lansung cemberut.
“Jadi kak mia dari jakarta Cuma mau
bilang angel bau?”.
“Udah sana mandi” sambil mendorong tubuh
angel ke kamar mandi.
Beberapa menit berlalu, aku yang tengah
asyik berbicara dengan ibu dan Bram terkejut melihat penampilan angel.
“Angel mau kemana nak? Tegur ibu.
“Main bola bu, teman-teman angel sudah
menunggu di lapangan”.
Aku masih saja tercengang melihat
penampilan angel, perempuan kecil itu memakai baju bola yang di belakangnya
bertuliskan nama Cristian Ronaldo dan tak kalah hebatnya ia menggunakan sepatu
bola layaknya pemain bola profesional.
“Angel baru pulang mau main lagi, angel
gak kangen sama kak mia?” seruku
Angel tetap berdiri di tempatnya seperti
engan menatapku sepertinya ia masih
marah karenaku.
“Kata kak mia angel bau, ya udah angel
gak mau dekat-dekat sama kak mia.”
Aku lansung menghampiri perempuan kecil
itu dan mengendongnya. Ia memberontak tak terima.
“Angel jangan marah dong sama kak mia,
kak mia kangen sama angel” sembari mengusap rambutnya.
“Ini adikmu mi?”tegur Bram.
“Iya, ayo angel kenalan sama kakak ini.”
“Hai adik manis siapa namanya?” sembari
mengulurkan tangan.
“Kak mia, angel manis yah?” tanya angel
padaku.
“Iyalah, angelkan adiknya kak mia,
kakaknya aja cantik masa adiknya nggak.” dengan senyum bangga
“tapi adiknya lebih cantik kok daripada
kakaknya” sahut bram dengan senyum sinisnya. Angel pun ikut menertawaiku.
Hari itu ku habiskan di rumah ibuku.
Kulihat Bram yang penuh kasih sayang terhadap Angel, lelaki itu menunjukan
kepegawainnya bermain sepakbola. Aku melihat mereka layaknya seorang ayah dan
anak.
“Kak mia, angel kalah sama kak Bram skornya
2-0. Kak mia ayo ajarin angel main sepakbola”. Sambil menarik bajuku.
“Angel kamukan perempuan masa iya main
sepakbola seharusnya kamu itu bermain sama anak perempuan main boneka,main
masak-masakan.”
“Angel gak suka kak main kayak gitu.”
“Sudah nanti kakak bram ajarkan yah
kalau kesini lagi”
Angin berhembus tenang mentari kembali
keperaduannya. Aku dan Bram bergegas pergi ke jakarta. Sebelum melangkah pergi
dari rumah ibuku. Ibu sempat berbicara empat mata denganku.
“Mi, ibu ingin kamu menikah dengan Bram.
Ibu melihat sosok Bram penuh kasih sayang ia bisa menerima angel dengan sepenuh
hati nak. Saat ini kamu butuh pendamping hidup dan semua itu ada pada Bram”.
Selama perjalanan aku terus memandangi
Bram, sosok yang duduk di sampingku. Wajahnya tak menunjukan kekecewaan
terhadap penolakanku, bahkan ia selalu berusaha membuatku tertawa entah karena
tingkahnya yang lucu maupun ucapannya yang menirukan tokoh kartun.
“Bram, aku ingin berbicara denganmu.”
“nah lo, kitakan sudah berbicara
daritadi.”
“Tapi kali ini aku serius Bram bukan
becanda, mungkin kedengarannya aneh tapi aku berharap kamu bisa menerimanya.”
“memangnya ada apa ?.”
“Bram, aku memikirkan ucapanmu tadi sore
ketika di bandung dan aku mau ......”
“Pembicaraan yang mana, memang ada hal
yang penting yah yang aku bilang ke kamu?” belum sempat aku melanjutkan
perkataanku bram sudah memotongnya.
Aku menatap lelaki itu seperti tak
terjadi apa-apa antara aku dengannya, Ia seolah mengidap penyakit amnesia. Aku
menggaruk-garuk rambutku yang tak terasa gatal. Aku binggung untuk
mengungkapkannya apakah secepat itu Bram menghapus perasaannya untukku padahal
belum 24 jam.
“Mi,,, jadi kamu mau bicara apa?”.
“Aku lupa mau berbicara apa?”dengan nada
yang ketus.
“Awas nanti menyesal.” Bram berusaha
mengodaku.
Aku hanya sibuk sendiri dengan handpone
selulerku melihat pesan masuk di dalamnya
padahal di Handphoneku tak ada
satupun pesan, bahkan hal konyol yang ku lakukan aku menghidupkan nada dering
hpku dan seolah-olah aku sedang di telpon oleh seorang. Suasana di dalam mobil
semakin hening, Bram nampak serius mengendrai mobilnya.
“ Mi,,,, tadi kamu di telpon oleh siapa?
Kamu lagi dekat dengan seseorang yah? Kelihatannya sangat akrab”
Aku tersenyum di dalam hatiku ternyata
Bram memandangi tingkahku.
Aku berusaha memikirkan satu nama yang
akan ku jadikan kambing hitam “hmmmmb Ouh itu zain, sepupu kamu.” Jawabku dengan
ragu- ragu.
“Ouh dia bilang apa?”
“Memang aku harus bilang ke kamu gak
kan.”
Bram lansung menghentikan mobilnya di
tengah ramainya kendraan yan berlalu lalang di ibukota.
“Bram ini belum di rumahku, mobilnya
mogok yah”
“Tidak aku sengaja, ayo turun aku mau
pergi mencari pacar baru untukku maaf yah mi.”
Aku tercenggang mendengarnya. lelaki itu
kembali menunjukan sikap sombongnya dengan senyum sinis yang mematikan. Aku
turun dari mobil Bram dan kini aku hanya melihat mobil Bram melaju dengan pesat
dari kejauhan. Aku menunggu kendraan yang lewat tetapi tak ada satupun yang
ada, malah aku ditemani dengan nyamuk yang sangat merasa lapar dan aku menjadi
makanan empuk untuknya.
Setengah jam berlalu tetap tak ada
kendraan yang berhenti aku mencoba menghubungi Bram,tetapi niat itu ku urungkan
melihat sikapnya yang begitu
menyebalkan. Mataku yang sudah sayu membuatku tertidur di pingiran trotoar.
*****tetttttt.... bunyi klakson mobil
yang kuat membangunkanku dari tidurku.
“Ayo cepat masuk” tegur lelaki itu.
Aku mengusap-ngusap mataku untuk melihat
siapa yang menghampiriku.Ternyata ia adalah Bram.
“ Kamu ngapain kembali lagi sudah dapat
pacar baru?” tanyaku.
“Dasar kamu kira aku serius, aku bukan
orang yang gampang menyatakan cinta untuk orang lain lalu melupakannya.”
“Jadi kamu kenapa?”
“Aku ke rumah Zain”
“Zain, Untuk apa ?”
“Kata kamu orang yang menelpon kamu tadi
orang yang penting untuk kamu jadi aku memastikan perasaan zain untukmu.”
“Kamu cemburu.”
“Kenapa harus cemburu, zain tadi tidak
menelpon kamu kan kamu bohong sama aku kan.”
Aku terdiam kebohonganku terunggap, aku
tak tahu lagi harus memberi alasan apa algi.
“Jadi orang yang kamu anggap penting di
hidupmu siapa?.” Tanya Bram dengan nada datar.
“ entah, aku binggung lelaki itu kadang
bersikap seperti pangeran yang membuatku layaknya putri tapi kadang lelaki itu seperti orang yang ingin membunuhku dengan sikapnya.”
“Lalu kamu ingin lelaki seperti apa?”.
“Aku tak pernah meminta seorang pangeran
karena ku tahu aku bukan seorang putri aku hanya menginginkan lelaki yang
mencintaiku sepenuhnya bukan cinta yang tergantung pada waktu. Bram aku mau
kamu lelaki itu adalah kamu, aku akan mencoba membuka hatiku untukmu mungkin
akan terasa lama jadi aku mohon jangan pernah ubah persaanmu untukku. ”
Aku menoleh kehadapan Bram ternyata ia
sedang asyik mendengarkan lagu dan memakai handset. Aku menghela napas berat
dan menghelus-elus dada.
“Bram, kamu tidak dengarkan aku
daritadi”
Bram melepaskan handset yang ada di
telinganya.” Apa mi, kamu bicara denganku.”
“ouh tidak, aku gak bicara apa-apa”
Sesampaiku di rumah aku lansung turun
dari mobil Bram, mataku yang sudah sayu membuat langkahku gontai untuk jalan kerumah.
“ Mi,,,,,, aku akan meyakinkan hatimu
untuk memilihku” teriak Bram.
Aku menolehnya, Bram ternyata
mendengarkan apa yang aku bicarakan hatiku terasa bergoncang perasaan ini
kembali setelah 6 tahun lamanya, perasaan itu bernama ‘CINTA’ .
6
Sesudah kejadian itu aku semakin dekat
dengan Bram ibarat garpu dan sendok yang saling membutuhkan. Sampai suatu hari,
Bram harus pergi meninggalkanku untuk bekerja di luar daerah. Lelaki itu selalu
menyembunyikan masalah yang ia hadapi, mulutnya seolah tertutup jika aku tanya
tentang nasib perusahaan. Akupun tak bisa menghentikannya itu semua untuk
perusahaan yang ia bangun dengan jerih payah. Bahkan yang membuatku sedih Bram
berpamitan hanya melalui pesan singkat.
Mi, aku harus pergi ke luar daerah
untuk jangka waktu yang belum ditentukan. Aku akan bekerja disana untuk
mengembalikan perusahaanku.
Ketika Bram sedang dirundung kesedihan
dan penatnya ia bekerja di luar daerah ia menemukan sosok wanita baru bernama
Lusi. Wanita itu adalah anak dari pejabat yang tersohor di tempat Bram bekerja.
Bram dapat berkenalan dengan lusi karena ada campur tangan ayah lusi. Ayah lusi
sangat terobsesi terhadap Bram bukan karena bram sangat baik hati ataupun
lainnya tapi karena iya terlahir dari keluarga yang kaya raya juga. Ayah lusi
menjadikan Bram sebagai sasaran empuk untuk mengembangkan perusahaannya dengan
memanfaatkan paras cantik anaknya, Apalagi Bram sedang di gunjang masalah
kesempatan besar untuk ayah lusi untuk menjatuhkannya.
Disuatu malam anak dan ayah itu
membicarakan rencana mereka.
“Lusi, ayah bicara empat mata denganmu.”
“Apa ayah?”
“Ayah ingin kamu mendekati Bram.”
“Bram? Siapa itu yah.”
“Sudah kamu jangan banyak nanya kamu
hanya harus mendekati dia.”
“Ayah lusi sama sekali tidak mengenalnya
untuk apa lusi mendekati lelaki yang sama sekali lusi tidak kenal.”
“Ayah tidak ingin mendengar alasan kamu,
yang terpenting bagi ayah kamu harus mengambil hatinya kalau kamu tidak suka
dengannya itu urusan belakang kamu tahu kan ayah menghidupi kamu secara
berkecukupan apa kamu ingin kita menjadi gelandangan dan apa kamu ingin ayah
mencabut semua fasilitas untukmu.”
“Ayah, lusi bukan boneka ayah.”
“Lusi kamu anak ayah kalau kamu masih
mau ayah anggap anak ayah kamu harus menuruti ayah.”
Lusi yang merasa tak memiliki pilihan
mengikuti kemauan ayahnya ia secara perlahan mendekati Bram, Tapi tak mudah
mendekati lelaki itu Bram yang memiliki sifat keras kepala tak mudah ditaklukan
dengan seorang perempuan apalagi hati Bram sudah diisi oleh kehadiran Mia.
Hari berganti hari hubungan mia dan bram
semakin menjauh, Bram yang sibuk dengan perusahaannya tak pernah menghubungi
mia. Mia semakin merasa sendiri bahkan kadang mia berpikir untuk berpaling hati
dari Bram karena di saat yang bersamaan zain juga berusaha mendekati mia.
Suatu hari mia terbaring lemah di tempat
tidur perempuan itu sedang terkena penyakit tipes tubuhnya lunglai tak mampu
untuk digerakkan. Iapun memilih untuk menutupi penyakitnya dari Bram. Mia tak
kunjung sembuh bukan hanya penyakit tipes saja yang ia hadapi tapi kerinduannya
terhadap Bram juga memicunya penyakitnya.
“Mi kamu harus makan dulu kamu harus
minum obat ini” seru zain yang kebetulan dokter di rumah sakit itu.
“Zain bram tidak pernah menghubungimu
yah?.”
“Tidak, aku memang sepupunya tetapi aku
tak begitu akrab dengannya.”
Mia yang mendengar perkataan zain
lansung lesu.
“Mi, kamu tidak usah memikirkannya yang
terpenting kamu harus memperhatikan kesehatanmu.”
Di lain sisi Bram juga lagi menjalin kedekatan dengan
Lusi. Keindahan taman dan sejuknya suasana sore waktu itu membawa kedua insan
itu lupa akan waktu. Hati bram yang terbuat dari batu mulai sedikit goyah akan
kebaikan lusi terhadapnya. Lusi yang sudah membantu Bram akhir – akhir ini.
lusi jugalah yang memperhatikian Bram dari pola makannya, bahkan hampir 24 jam
perempuan itu menaruh perhatian kepada Bram.
“Bram “ tegur lusi.
“iya....?”
“Aku ingin jujur terhadapmu setelah aku
mengenalmu ada suatu rasa di dalam hatiku yang aku sendiri binggung untuk
mengartikan perasaan itu, tetapi semakin hari semakin kita dekat aku merasa
perasaan itu ada karena aku mulai menyukaimu”
“Lusi kamu becanda kan? kita bahkan
belum mengenal satu sama lain pertemuan kita juga belum sebulan lansung kamu
sudah menyatakan cinta untukku.”
“Iya aku tahu ini aneh untuk kamu, tapi
apa bedanya jika aku mengenalmu 1 bulan dengan 1 tahun tidak ada perubahankan,
Bram cinta itu datang sesuka hatinya. Aku hanya ingin mengungkapkan
perasaanku.”
Tiba – tiba telepon Bram berdering.....
“Halo zain ada apa.....?”
“Bram kapan kamu kembali ke Jakarta?”
“Aku belum tahu zain memang ada apa?”
“Kamu tahu mia sedang sakit disini dan
dia hanya memikirkan kamu, aku binggung bagaimana aku akan bersikap.”
“kamu serius? Iya zain aku akan
berangkat ke Jakarta malam ini juga”
“ok Bram terimakasih kamu sudah mau
mendengarkanku.”
Bram yang mendengar kabar bahwa mia
sedang sakit lansung pergi ke Jakarta meninggalkan Lusi, padahal Bram belum
menjawab perasaan lusi untuknya.
“Bram kamu mau kemana” teriak lusi.
Bram tetap melaju dengan pesat tanpa
mempedulikan panggilan lusi.
Di rumah sakit sudah ada zain yang
menunggu kedatangan Bram. Zain
mondar-mandir di depan kamar tempat mia dirawat. Melihat kondisi mia yang
semakin hari tidak kunjung membaik zain menjadi semakin khawatir. Zain tahu
betul bukan hanya penyakit mia yang membuatnya lemah tetapi rasa rindunya
kepada Bram.
“ Zain mia bagaimana? Dia dirawat di
ruang mana?” dengan nada yang terputus-putus.
“Bram kamu sabar dulu kamu kan baru sampai ke Jakarta.”
“Sudah kamu jangan mempedulikan aku
sekarang dimana mia ?“ bentak Bram
“Mia ada di dalam, tetapi dia sedang
tidur jadi lebih baik kamu jangan bangunin dia dulu nanti pagi terserah kamu
ingin berbicara apa dengannya .”
Bram lansung masuk kedalam ruangan mia
dirawat, dilihatnya tubuh perempuan yang dicintainya itu lunglai tak berdaya.
Dipandangi wajah mia lekat-lekat Bram menangis selama ini ia merasa
bersalah membiarkan mia merasakan
sakitnya sendiri. Tangis Bram semakin pecah ia tergiang atas apa yang sudah ia
lakukan, mendekati wanita lain disaat mia membutuhkannya. Bram semakin merasa
bersalah diluar zain terus memandangi Bram dan mia.
Kurasa aku tak memiliki celah untuk
mengisi hatimu Bram ia lelaki yang pantas mendapatmu, batin zain.
Cahaya mentari yang sudah terbit,
membangunkan mia dari tidurnya dilihatnya Bram tertidur pulas di sofa kamar
tempat ia dirawat. Mia tersenyum bahagia melihat sosok yang dirindukan selama
ini kembali disisinya.
“Mi sekarang sudah jam berapa, kok kamu tidak
membangunkanku?”
“Maaf Bram, aku kasian melihatmu yang
tertidur pulas aku tidak ingin mengangumu.”
“Bagaimana keadaanmu?”
“Tubuhku sudah terasa membaik mungkin
hari ini aku sudah diperbolehkan pulang ke rumah.”
“Mi, mengapa kamu tidak memberitahuku dari
awal, kenapa kamu malah diam syukur zain menelponku.”
“Zain? Maaf aku pikir kamu sedang sibuk
dengan urusan perusahaanmu aku juga tidak ingin menambah bebanmu lagipula
selama ini aku dirawat sangat baik oleh zain.”
Bram menampakan wajah cemburu. “Jadi sudah
ada zain yang disampingmu terus saja melupakanku.”
“Bram, aku dengan zain hanya berteman
aku tidak memilki perasaan apapun dengannya.”
Zain yang baru saja ingin masuk ke
ruangan itu mengurungkan niatnya mendengar perkataan mia membuat hatinya teriris.
Sangat baru bagiku untuk mengenal cinta tapi ternyata hari ini aku juga harus
melupakan cinta itu batin zain. Bram yang menyadari kehadiran zain lansung
berusaha mengejarnya ia tak ingin sepupunya ini menaruh dendam dengannya.
“Zain” panggil Bram
Zain menoleh ke arah Bram.
“Zain kamu kok tidak jadi masuk
keruangan mia, apa kamu mendengar perkataan mia tadi ?.”
“Aku tersadar Bram cepat atau lambat aku
akan tetap terima ini juga mungkin tuhan
memberitahuku lebih awal agar aku tak lebih sakit nantinya.”
“Zain , aku ingin berterimakasih
kepadamu selama ini kamu yang merawat mia dengan baik. Aku ingin antara kau,mia
dan aku tetap menjadi teman yang baik. Aku tak ingin kamu merasa benci
terhadapku ataupun mia”
“Iya, aku tahu tapi Bram aku juga butuh
waktu untuk melupakan perasaanku saat ini. Aku belum bisa bertemu dengan mia.”
“Aku mengerti zain kami akan menunggumu
untuk menjadi teman kami.”
“Bram tolong jangan sakiti mia, dia
wanita yang baik kamu lelaki yang beruntung mendapatkannya.”
Bram hanya menjawabnya dengan senyuman.
Brampun kembali ke kamar tempat mia
dirawat tiba – tiba ada sebuah panggilan masuk yang tertuju untuknya. Bram
mengambil telepon selulernya dilihatnya sebuah pangilan masuk dari Lusi, Bram
menekan tanda merah untuk mengakhiri pangilan lusi.
“Bram kamu darimana?”
“Aku Cuma keluar cari angin segar.”
“Ouh yah bagaimana urusanmu di luar
daerah apa sudah selesai”
Telepon Bram kembali berdering. Lusi
lagi-lagi mencoba menghubunginya.
“Kenapa tidak diangkat?”
“Bukan dari siapa-siapa belakangan ini
banyak orang yang aneh yang menelponku.”
“Ouh makanya kamu itu harus baik dengan
semua orang seperti zain.”
“Mi, jangan pernah membandingi aku
dengan siapa-siapa saat aku bersama denganmu berarti saat itu hanya aku yang
ada dipikiranmu.”
Suasana menjadi hening, Bram nampak
seperti orang yang sedang kebinggungan ia tidak ingin mia mengetahui sosok lusi
tapi ia juga tidak ingin perusahaan sampai gulung tikar hanya ayah lusi yang
dapat membantunya.
Di lain sisi lusi yang awalnya hanya
berpura-pura mendekati Bram menaruh perasaan terhadap lelaki yang ia dekati
itu. Bukan karena Bram kaya tapi karena lusi ingin memiliki Bram seutuhnya.
“Ahh mengapa panggilanku terus di
reject. Apa ia sudah melupakanku” Batin lusi yang nampak marah atas sikap Bram.
Lusi lansung pergi menuju ayahnya untuk
memberitahu keluh kesahnya.
“Ayah, lusi ingin bicara lusi jatuh
cinta kepada Bram.”
Ayah lusi yang sibuk dengan kerjaannya
tak menyadari kehadiran putrinya.
“Ayah” bentak lusi.
Ayah lusi tetap dengan dunianya sendiri
ia malah asyik menelpon dengan orang lain, lusi yang melihat itu merasa
diabaikan ia pergi meninggalkan ayahnya.
Kini lusi dalam kesendriannya ia
mengingat terakhir bertemu dengan Bram, Bram menyebut nama mia ketika sedang
menerima telepon, mulai timbul di benak lusi siapa itu mia? Apakah ia kekasih
Bram? 1000 pertanyaan menghampiri Lusi. Lusi pergi mencari Bram di tempat
kerjanya tetapi Bram tak ada disana ia juga sudah menghubungi bram
terus-menerus tapi tak ada jawabnya. Lusipun merasa sangat putus asa.
Bram yang kini sudah kembali ke Jakarta
kembali bersama-sama dengan Mia. Ia berusaha menyembunyikan masalah yang ia
hadapi. Lusi yang masih mengharapkan kehadiran Bram memutuskan pergi ke Jakarta
untuk menemui sosok yang ia cintai itu.
Mia sedikit demi sedikit mulai mencintai
Bram, tetapi perasaan itu tidak ia ungkapan bagaimana pun menurutnya lelakilah
yang harusnya menyatakan cinta dan wanita hanya harus menunggu.
Malam minggu, mia dan bram pergi
bersama, sepanjang jalan banyak pasangan yang yang sedang memadu kasih. Mia dan
bram hanya saling menatap satu sama lain. Tanpa mereka sadari di tempat yang
sama ada lusi yang menghabiskan waktunya di tempat itu juga, tetapi satu sama
lain tak saling bertemu.
“Mi,,,” seru Bram
iya?”
“Enak yah jika memiliki pasangan dalam
hidup kita, bisa saling mengisi satu sama lain, bisa saling berbagi.”
“Kenapa kamu masih memikirkan siapa
pasanganmu ? bukannya pasanganmu sudah berada di dekatmu.”
“Maksud kamu.”
“Tidak sudah abaikan yang tadi aku
ucapkan.” Mia merasa malu-malu atas apa yang ia ucapkan.
Kedua insan itu menghabiskan waktu
bersama. Bintang di langit tersenyum ibarat menyetujui keduanya. Seusai
menghabiskan waktu dengan bram ibu mia menghubungi mia.
“Halo nak, apakah kamu baik-baik saja?”
dengan nada yang pelan.
“Iya bu, mia baik-baik saja ada ada
perlu apa busudah larut malam begini ibu menelpon?”
“Mi.... Alfath kembali menuliskan surat
untukmu. Ibu tidak tahu mau bersikap seperti apa.”
“Alfath? Tapi dia tidak datang
kerumahkan bu.”
“tidak, tapi ibu takut nak jika ia tahu
tentang angel.”
“Ibu tidak usah khawatir mia tidak akan
membiarkan alfath mengetahui angel. selama ini orang hanya mengetahui angel
sebagai adik mia bu tidak mungkin alfath menyadarinya.”
“Mi,,,,, sampai kapan kita harus
berbohong terus nak. Angel harus tahu kebenarannya siapa dirinya sebenarnya,”
“Iya bu, mia tahu itu mia akan
memberitrahu angel saat angel berusia 17 tahun mia pikir itu waktu yang tepat.
“
“Baik, ibu selalu mendukung keputusanmu
mi”
Telepon dari ibu berakhir. Mia teringat
pada sosok Alfath, lelaki yang pernah ia cintai itu memang sangat romantis ia
sering menuliskan surat cinta untuknya.
Mia teringat puisi yang pernah dituliskan alfath untuknya.
Tak
ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
Dirahasaikannya
rintik rindunya
Kepada
pohon berbunga itu
Tak
ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
Dihapusnya
jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu dijalan itu
Tak
ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
Dibiarkan
yang tak berucap
Diserap
akar pohon bunga itu
(Hujan bulan
juni, Supardi Djoko Darmono)
Puisi itu dituliskan Alfath untuk
mengambarkan kerinduannya terhadap mia. Alfath yang pada waktu itu harus mewakili sekolahnya karena terpilih
mengikuti suatu kejuaraan harus menelan perasaan tak bertemu dengan mia. Ya, Alfath adalah
sosok yang mementingkan pendidikannya baginya menjadi orang sukses adalah
pilihan, berbeda dengan mia yang sama seperti murid kebanyakan mengerjakan pr
di sekolah, jika tidak ada guru menghabiskan waktu di kantin sekolah.
Karena perbedaan karakter antara mia dan
alfath inilah yang menambah warna indahnya cinta yang tumbuh diantara mereka.
Alfath harus bermain kucing-kucingan
dengan mia, mencuri waktu untuk bertemu. Tapi hal itu tidak menjadi rintangan bagi
keduanya.
Mia yang teringat kejadian itu tersenyum
sendiri. Perasaan mia memang telah berubah menjadi rasa benci tapi di hati
kecilnya ia masih menaruh harapan kepada Alfath, cinta pertamanya itu.
Kini sudah 2 tahun mia mengenal bram.
Bram telah memutuskan untuk melamar mia sebagai istrinya dan Bram juga
memutuskan hubungan dengan Lusi, ia tak ingin merasa berdosa karena memikirkan
perempuan selain mia.
Di sore hari yang indah, Bram mengajak
mia ke sebuah pantai yang berada di wilayah selatan jakarta. Suara ombak serasa
menyemangati Bram untuk melamar mia waktu itu pantai yang nan indah itu menjadi saksi bisu hubungan keduanya.
Bram mulai memainkan sebuah lagu untuk mia.
Ku
kan selalu ada di dekatmu
Aku
kan selalu menemani harimu
Kau
harus tahu betapa aku mencintaimu
Mia tertegun menyaksikan apa yang ada di
hadapannya.
“Mi,,, ketika aku memilihmu untuk
menjadi istriku sunguh sulit, aku mencoba menyakinkan hatiku sendiri, sungguh
aku bukan lelaki yang sempurna aku hanya seorang lelaki yang memiliki sejuta
kekurangan tetapi aku yakin kamu mampu menyempurnakanku aku tak pernah ragu
untuk mengatakan aku cinta kepadamu. Mi aku yakin kamu memiliki perasaan yang
sama denganku aku akan berusaha memberikan cintaku sepenuhnya untukmu, aku akan
belajar menjadi seperti yang kamu inginkan.”
Mia menangis melihat Bram yang berlutut di hadapannya. Mia
menyadari betul bagaimana perasaan Bram untuknya.
“Bram apakah kamu berjanji akan menerima
semua kekuranganku.”
Bram menganguk tanda setuju.”Apapun itu
aku akan berusaha menerimanya”
Setelah beberapa menit menunggu jawaban
dari mia akhirnya mia memutuskan untuk menerima Bram sebagai calon suaminya.
Lelaki berwajah sawo matang tersebut teriak kegirangan mengingat ketika ia
menyatakan cinta kepada mia setahun yang lalu ditolak oleh mia. Kegirangan
lelaki tersebut membuat mia yang melihatnya ikut tertawa. Ya kini dua insan
tersebut akan memulai hidup baru mereka sebagai sepasang suami istri.
Berita pernikahan Bram terdengar kepada
orang terdekatnya ibu mia, angel, dan zain . Berita tersebut membawa
kegembiraan tersendiri untuk mereka. Zain yang pernah mencintai mia kini bisa
merelakannya, tapi hal itu tidak dengan Lusi. Perempuan yang terus mengejar
Bram itu merasa berat untuk melepaskan Bram, ada sebuah kebencian sendirian di
dalam hatinya terhadap mia.
Rencana untuk menjatukan perusahaan
Brampun mengalami kebuntuan. Ayah lusi yang hanya memikirkan kekayaan tak
sedikitpun memikirkan perasaan anaknya ini. Lusi yang merasa sendiri semakin
depresi perempuan itu tak tahu harus bersikap apalagi, cintanya yang telah pupus
membuatnya pincang untuk menjalani kehidupan ini. Bahkan Lusi sering mencoba
untuk mengakhiri hidupnya, Bram yang mendengar kabar tentang lusi merasa
prihatiin sekali waktu ia mengunjungi rumah lusi.
“Lusi aku ingin minta maaf jika semua
ini karena ku, aku tak pernah berniat menyakiti siapapun.”
Lusi yang nampak murung tak menjawab
perkataan Bram. Perempuan itu benar – benar hilang gairah hidup.
“Lusi, kamu bisa mendapatkan yang lebih
baik dariku, banyak lelaki di luar sana yang mungkin mencintaimu.” Seru Bram
untuk kedua kalinya.
Lusi tak bergeming sedikitpun. Ia tetap
mengunci mulutnya. Bram yang melihat kondisi lusi semakin prihatin tapi ia tak
mungkin menerima lusi karena ia akan menikah dengan mia. Bram yang merasa lusi
tak mau mendengarnya akhirnya memilih untuk melangkah pergi. Belum sempat ia
melangkah lebih jauh dari Lusi, lusi
membuka mulutnya.
“ Mungkin kamu pikir aku bodoh menunggu
lelaki yang meninggalkanku begitu saja selama 2 tahun, mungkin kamu pikir aku
gila saat melihat kondisiku saat ini tapi pernahkah kamu berpikir mengapa aku
begini? aku jatuh cinta kepada lelaki yang bernama Bram dan kini ia akan akan
menikah dengan perempuan lain. Lalu apa arti penungguanku selama ini. Lalu
kenapa kamu tidak pernah menceritakan kepadaku jika kamu mencintai perempuan
lain.” Lusi meneteskan airmatanya.
“Maaf jika dari awal aku tak pernah
jujur padamu, maaf jika aku tak mempedulikanmu tapi aku tak bisa menerimamu
kembali sebelumku mengenalmu aku telah jatuh cinta kepada calon istriku saat
ini. Lus, kamu harus sadar kadang cinta tak harus memiliki .”
Lusi senyum sinis. “Cinta tak harus
memiliki? Lalu kenapa tuhan menciptakan cinta jika ada yang tersakiti, Lalu mengapa tuhan mengenalmu
padaku?”
“Lus, di setiap pertemuan pasti ada
perpisahaan, disetiap yang namanya cinta pasti ada rasa sakit. Aku ingin kamu
melupakanku kita masih bisa berteman.”
“Berteman kamu bilang? Apa dengan
berteman bisa mengubahmu menjadi cinta kepadaku”.
Bram terdiam. Ia tak tahan lagi melihat
sikap lusi, ia pun pergi meninggalkan lusi sendirian. Lusi kini hanya bisa
melihat bayang Bram yang tertelan oleh waktu.
7
Hari yang ditunggu pun tiba mia dan bram
melansungkan pernikahan mereka. Semua
yang datang terkesima akan kecantikan mia dan bram yang terlihat gagah
hari itu. Pernikahan tersebut membuat yang melihatnya akan merasa iri dan ingin
menikah.
“ Pasangan yang serasi yah yang satu
cantik yang satu ganteng paket komplet lah” begitulah pemikiran orang yang
keluar dari pernikahan mia dan bram. Angel yang melihat mia dan bram menikah
merasa ikut bahagia. Angel yang kini sudah beranjak remaja memendam keingginan
untuk mengikuti jejak seperti kakaknya.
“Angel, kamu ngapain disini senyum –
senyum sendiri”. Tegur ibu.
“Kak mia cantik yah bu.”
“ iya kakak kamu memang cantik ketika
ibu melahirkannya saja ibu bahagia karena dianugarehi dia.”
“Angel ingin seperti kakak”
Ibu lansung mencubit Angel. “Husss kamu
masih kecil juga udah mau nikah aja”
“ihh ibu sakit ya bukan sekarang nanti
ketika angel sudah besar”
“Sudah-sudah ayo kita ke tempat kak mia
aja daripada kamu bicaranya ngelatur gitu.”
Pernikahan Bram dan mia berlansung
meriah. Pernikahan mereka berlansung 2 hari 2 malam tanpa ada henti. Pernikahan
itu terus mengalir doa untuk mereka. Lusi yang enggan hadir ke pernikahan bram
dan mia pun berubah pikiran. Ia ingin
melihat bram untuk terakhir kalinya, walau harus menahan pedih di hatinya.
Zainpun nampak hadir di pernikahan keduanya.
“ Selamat yah Bram, kamu beruntung bisa
mendapatkan mia.”
“Terimakasih zain”
Mia tersenyum kepada zain, begitu juga
keduanya.
Seusai pernikahan mereka mia menerima
sebuah surat dari seseorang.
Selamat
atas pernikahanmu, aku ingin sekali untuk memberi selamat secara lansung namun
aku belum bisa menemuimu saat ini. Tuhan sangat tidak adil yah aku disini sudah
menunggumu selama bertahun-tahun dan balasannya aku harus menerima kabar bahwa
engkau sudah menikah.
Aku
ingin tak menangis ketika menulis surat ini, namun aku tak bisa
menyembunyikannya. Aku selalu berjanji padamu bahwa aku akan menunggumu, aku tak
pernah berbohong akan itu. Cinta bertahun-tahun yang aku simpan untukmu tak
pernah berkurang sedikitpun. Aku ingin engkau tahu itu.
Alfath.
Mia terhentak membaca surat itu timbul
seribu pertanyaan yang menghantuinya. Bagaimana bisa Alfath mengetahui keberadaanku
saat ini, bagaimana bisa ia mengetahui kabar bahwa aku sudah menikah.
Pertanyaan itu terus menghantui mia dan yang membuat mia semakin takut tentang
angel. Bagaimana jika Alfath mengetahui keberadaan siapa sebenarnya angel.
Ketakutan mia tak mampu ia sembunyikan., ibu mia yang mengerti akan tingkah
anaknya merasa ada yang aneh terhadap sikap putrinya itu.
“Mi, kamu kenapa nak?”
“ibu,,,” jawab mia dengan terbata-bata.
“iya kenapa nak?”
“Bu, alfath mengirimkan mia surat bu,
mia takut bu jika alfath mengetahui jika angel bukan adik mia.”
“Apa ? Alfath untuk apa lelaki itu
mengangu hidupmu lagi? Bagaimana bisa dia mengetahui keberadaanmu nak?”
“Mia tidak tahu bu, mia tidak bisa
berpikir apa- apa mia takut ”
“Sudah kamu jangan takut ibu akan
menjaga angel”
“Ibu janjikan sama mia siapapun itu yang
mendekati angel ibu harus tahu jangan sampai Alfath mengambil angel dari mia
bu.”
“Iya ibu janji” Mia pun jatuh ke pelukan
ibu.
Beberapa tahun kemudian Angel tumbuh
menjadi remaja yang cantik. Angel yang
kini sudah duduk di bangku SMA tak pernah diizinkan oleh ibunya untuk pergi
sendirian, ibu sangat protektif terhadap angel ia tak ingin angel mengulangi
kesalahan seperti mia. Angel yang mulai jenuh terhadap siakp ibunya mulai
berbohong, kadang pulang sekolah ia tak lansung pulang ia menghabiskan waktunya
bersama teman – temannya. Hal tersebut disadari oleh ibu. Saat angel pulang
sekolah pun ibu lansung memarahinya.
“Angel kamu kemarin habis
darimana?”Bentak ibu.
“Sekolah bu, kan ibu Cuma izinkan angel
pergi sekolah dan diam di rumah itu kan mau ibu”
“Angel ,,,,,, kamu ini bicara apa ibu berbuat ini hanya untuk kebaikan kamu.”
“kebaikan? Ibu pikir itu namanya
kebaikan, bu angel saat ini sudah besar zamannya angel berbeda dengan zamannya
ibu yang harus diam di rumah.”
Tangan ibu mendarat di pipi angel. Angel
lansung merah padam ia tak menyangka ibunya akan bersikap seperti itu. Ibu pun
merasa bersalah terhadap sikapnya.
“Bu, selama angel lahir sampai sekarang
angel merasa aneh dengan ibu angel sendiri dan kini ibu menampar angel. Ibu itu
jahat ibu selalu bilang ayah angel sudah meninggal dunia tapi ibu tak pernah
melihatkn fotonya bahkan angel sendiri tidak tahu nama ayah angel. Ketika teman
angel bangga memiliki ayah, angel merasa malu bu. Ibu tahu teman angel
mengatakan angel itu anak haram karena tidak mengetahui ayahnya sendiri ? benar
bu , jawab” bentak angel.
Ibu menangis mendengar perkataan Angel.
“Bu, cepat jawab” angel
mengoyang-goyangkan tubuh ibu yang sudah tua itu. Ibu pun jatuh pingsan dan
harus dibawa ke rumah sakit. Dirumah sakit ibu yang terbaring lemah tak
mendapatkan perhatian dari siapapun. Angel malah memanfaatkan kesempatan ini
untuk menghabiskan waktu bersama teman- temannya. Teman Angel pun memberikan
pengaruh buruk untuk angel ia mengajari angel untuk merokok.
Mia yang mendengar ibunya di rumah sakit
lansung menuju kesana ia mencari keberadaan angel yang tak menemani ibunya.
“Suster, tadi ada anak yang rambutnya
panjang kesini tidak”
“Maaf mba, sepertinya tidak ada. Ibu ini kasian sekali harus hidup
sebatang kara kalau saya jadi anaknya saya akan merawat ibu saya di sisa
hisupnya” jawab suster tersebut.
“Terimakasih sus.”
“Iya, permisi mba”
Mia duduk disamping ibu ia melihat wajah
ibu yang kini sudah menua, wajahnya yang terdapat keriputan tak mampu
membohongi usianya, rambut ibupun mulai memutih tubuhnya yang dulu tegap kini
mulai membungkuk. Mia menghelus-helus rambut ibu.
“Kak mia?” Angel kaget melihat kakaknya
yang sudah duduk di samping ibu.
“Kamu darimana angel? Sambil menahan
emosinya.
“Angel baru keluar sebentar kok kak.”
“Sebentar? Memang kamu pikir kakak tidak
tahu, daritadi tidak ada yang menjaga ibu, kamu sekarang sudah pintar berbohong
yah?”
“Kak, selama ini Angel hanya bisa di
rumah menggurung diri dengan kesendrian anggel, ibu selalu marah jika angel
keluar wajarlah jika sekarang memanfaatkan waktu untuk ke luar.”
“Wajar? Saat ibu sedang terbaring di
rumah sakit lalu kamu pergi keluyuran itu wajar kamu bilang.”
“Kak angel bukan anak kecil yang harus
ikut aturan ibu, angel bukan robot.”
“Angel asal kamu tahu ibu bersikap
seperti itu karena kakak yang minta.”
“Kakak yang minta? Untuk apa”
“Kakak tidak ingin kamu seperti kakak.”
“Memang kakak kenapa ?”
Mia terdiam membisu seribu bahasa.
“Kakak tidak bisa menjawab kan, kakak
sama saja kayak ibu selalu bohong sama angel, selama ini angel tidak pernah
tahu siapa sosok ayah angel ayah kita kak kalian memang berhati batu.”
“Angel kamu sedang berbicara dengan
siapa ? jaga sopan santunmu. Ayah kita itu sudah meninggal kamu jangan
memikirkan dia.”
“Meninggal ? tapi kok angel tidak pernah
melihat makam ayah, melihat fotonya saja tidak pernah.”
Mia kembali terdiam.
“Kakak sama ibu sama-sama pembohong.”
Bentak angel,
Angel lansung pergi meninggalkan mia
yang sedih mendengar perkataan angel. Sebuah pepatah mengatakan ‘Air akan jatuh
ke pelimbahan juga’ begitu yang dirasakan mia saat ini. Sikap angel
mengingatkannya atas sikap ia kepada ibunya beberapa tahun yang lalu.
Ibu yang terbaring lemah, mulai bisa
membuka matanya. Sedikit- dikit ia mulai menggerakan jemarinya.
“ Mia, kamu disini nak”, tegur ibu
“Iya bu. Kok ibu bisa masuk rumah sakit
?”
“Ibu sudah tua nak wajar ini penyakit
orang tua kamu jangan khawatir.”
“Bu ada apa dengan angel kenapa ia
bersikap aneh seperti itu?”
“Iya ini salah ibu, ibu yang tidak
memberikan angel kebebasan nak?’
“Iya mia tahu ibu melakukan ini untuk
kebaikan angel , mia minta maaf bu atas sikap angel”
“Iya ibu sudah memaafkannya, kamu sudah
tenang saja angel pasti akan berubah. Bram tidak sama kamu?”
“Bram lagi sibuk bu, mungkin lain hari
ia akan menyeguk ibu.” Mia terlihat seperti menutup-nutupi sesuatu.
Setelah beberapa hari ibu dirawat di
rumah sakit. Akhirnya ibu diperbolehkan pulang mia pun kembali ke Jakarta. Mia yang baru sampai di Jakarta lansung di
marahi oleh suaminya, Bram.
“Darimana kamu? Pergi ke bandung lagi?”
tanya Bram
“Iya mas, ibu sakit kamu kok tidak pergi
kesana padahal ibu mencarimu.”
“Ouh .....” jawab bram dengan singkat.
Kondisi pernikahan mia dan Bram sedang
dirundung masalah. Bram merasa dibohongi oleh istrinya itu sedangkan mia tak
mampu untuk mengungkapkan kebenarannya. Setiap malam Bram selalu pulang larut
malam, mia yang sudah menunggunya diabaikannya begitu saja. Kemarahan bram
bukan tanpa sebab lelaki itu tak terima cintanya yang suci untuk mia tapi tak
dibalas sepantasnya. Miapun kerap kali menangis, disuatu malam perdebatan
antara istri dan suami itu begitu alot.
“Mas, kamu kenapa selalu pulang malam?”
“aku sibuk dikantor.” Jawab bram singkat
“Tapi aku lihat kantor sudah tutup 3 jam
yang lalu, lalu kamu ada dimana.”
“Diam yah mi, kamu itu sudah bohongi
aku, lalu kenapa aku tidak boleh berbohong dengan kamu?”
“Mas aku tidak pernah bermaksud
membohongimu.”
“Lalu apa? aku mendapatkan sebuah sampah yang dibuang orang lain, lalu kamu
tidak pernah cerita apapun itu kepada ku. Kamu pikir aku senang, mi jika cinta
sudah ditaburi kebohongan bukan namanya cinta.”
“Mas belum saatnya aku cerita.”
“Sampai kapan kamu menutupi ini sampai
semua orang tahu bahwa perempuan yang aku nikahi ini tidak perawan lagi”
“Mas” bentak mia.
“Mi, jangan salahkan aku jika aku
mencari yang lebih sempurna darimu. Ingat itu!”
Mia menangis malam itu. Ia ingin
menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya beberapa tahun yang lalu, semua
kenangan pahit yang ia kubur dalam-dalam ternyata tercium baunya. Bram sangat
marah wanita yang ia cintai ternyata membohonginya. Bahkan kini bram sudah
berani bermain wanita lain didepan mia, ia sering membawa perempuan masuk ke
dalam rumah mia. Mia hanya bisa menjadi penonton di dalam rumahnya sendiri. Ia
tak pernah rela jika suaminya diambil oleh orang lain tapi ia juga tak mampu
menjelaskan yang sebenarnya.
Setiap malam, mia hanya bisa memandangi
foto pernikahan mereka. Pernikahan yang begitu membuat mia bahagia kini tak
bersisa. Kadang Bram tak pulang ke rumah jika mencoba mengajaknya bicara ia
hanya mengatakan sibuk bekerja.
“Mas, aku ingin bicara” ajak mia.
“apalagi?”
“Mas kamu tidak memikirkan perasaan aku,
kamu membawa perempuan murahan itu kerumah kita” sembari menunjuk prempuan
berparas cantik yang bersama bram.”
“Murahan? Lalu kamu tidak. Sana
bercermin dulu sebelum kamu bicara.” Sambil mendorong tubuh mia.
“Mas aku ini istri kamu. Kamu tidak
boleh bersikap seperti ini mas sama aku.”
“sudah aku tidak mau kamu bicara apa-apa
lagi lebih baik kamu pergi sana bersama pria-pria yang pernah menyetuhmu.”
Setiap hari itulah yang di terima mia.
Ia selalu dikucilkan oleh suaminya sendiri. Semua ini karena kesalahan yang
pernah ia perbuat di waktu SMA. Di tengah kesedihan selalu ada zain yang
menjadi sahabat bagi mia. Lelaki itu yang selalu menjadi tempat bersandar mia
di kala sedih. Mia selalu menceritakan masalah rumah tangganya kepada zain,
zain yang mendengar cerita perempuan yang pernah dicintainya itu tak rela
terhadap sikap bram.
Suatu hari bram yang sedang sibuk
mengetik, lansung dikagetkan oleh kedatangan zain. Sebuah pukulan lansung
mendarat di pipi Bram.
“Apa-apaan sih kamu datang-datang
lansung pukul orang?” bentak bram.
“Masalah mia? Aku sudah bilangkan ke
kamu jangan pernah sakiti perempuan itu. Kamu ini lelaki macam apa yang tega
membuat wanita menangis.”
“Dia itu perempuan seperti apa? ouh jadi
dia cerita ke kamu masalah rumah tangga kami lalu dia cerita ke kamu ketika dia
menikah denganku dia sudah tak perawan lagi?”
Zain terkejut mendengarnya.
“Aku tidah bodoh zain, coba kamu
bayangkan orang yang kamu cintai berbohong kepadamu apa yang kamu rasakan
sakit?”
“Bram mungkin mia punya alasan untuk
itu.” Mencoba menenangkan bram.
“Zain jika dia punya alasan kenapa aku
tidak pernah diberi tahu, mengapa dia diam mengunci mulutnya. Zain dia itu sama
saja seperti sampah yang berserakan di luar sana.”
“Bram aku tahu mia dia perempuan yang
baik-baik, kamu jangan lansung mengambil sebuah kesimpulan.”
“Aku malah curiga denganmu kamu
jauh-jauh kesini Cuma untuk belain perempuan itu. Kamu masih cinta kepadanya”
bentak bram.
“Bram kamu ini bicara apa. aku ini
sepupumu aku hanya tidak bisa nmelihat mia menangis setiap hari karena
tingkahmu.”
“Ouh ya sudah kamu saja yang menikahi
dia biar mia itu bahagia.”
“Bram kamu akan menyesal nanti jika mia
meninggalkanmu dia benar-benar mencintaimu.”
Bram pergi begitu saja, lelaki itu
tetap pada pendiriannya tak ada kata
maaf untuk orang yang pernah menyakitinya. Kini bahkan Bram berpikiran negatif
terhadap mia, ia mengira istrinya tersebut berpaling darinya. Zain yang
pernah memukulinya menjadi sasaran
kecemburuan Bram, ia menuduh Zain dan mia selingkuh dibelakangnya.
8
Pernikahan
antara bram dan mia ibarat sedang di ujung tanduk, tak ada kata penyelesaian di
antara keduanya. Mia yang sudah mulai bosan berkelahi dengan bram kadang
memilih untuk diam.” Waktu yang akan menjawab semuanya” batin mia, Tapi bram
merasa diam mia berarti ia tak menyesali perbuataanya. Padahal di setiap
malamnya mia selalu menangis ia mencurahkan isi hatinya kedalam sebuah buku
catatan, perempuan itu selalu dihantui oleh rasanya bersalahnya.
Akhirnya diam-diam mia meninggalkan
rumah ia kembali ke bandung untuk menenangkan pikirannya. Hanya sebuah pucuk
surat yang ditinggalkan untuk bram.
Dear
suamiku,
Maafkan
aku, atas sikapku selama ini, aku tak ingin berbohong padamu tapi aku butuh
waktu untuk menjelaskan semua ini. Ketika engkau melamarku aku sangat bahagia
ketika engkau mengatakan akan menerima semua kekuranganku. Inilah salah satu
kekuranganku, mungkin akan sulit untukmu menerima ini. Tapi aku sangat berharap
engkau kembali menjadi bram yang dulu.
Kau
mengatakan aku seorang pembohong ya aku akui aku pembohong. Namu perlu kau
sadari aku tak pernah bohong ketika aku mengatakan cinta padamu, aku tak pernah
bohong jika selama ini aku menyukaimu, aku tak bohong!.
Aku
sadari jika aku bukan perempuan sempurna tapi bukankah kau pernah mengatakan
kita berdua yang akan membuat cinta itu sempurna. Aku berusaha menutupi
kesedihanku bram namun saat ini aku butuh waktu untuk kembali padamu. Aku tak
mampu bertahan dengan bram saat ini aku sangat merindukan sosok bram yang dulu.
Istrimu
tercinta
Mia
Bram yang sudah berada di rumah mencari
keberadaan istrinya. Seminggu ini bram tak pernah berbicara dengan bram tapi
malam ini berbeda entah angin apa yang membawa bram ingin berbicra dengan mia.
“Mi,,,,,,,,,,,,,,,,,,,mia “ seru Bram
dengan nada keras
Tak kunjung ada jawaban, rumah itu
terasa sunyi tanpa kehidupan.
“Dasar istri macam apa yang suaminya
pulang tidak disambut dengan baik” gerutu Bram.
Bram yang nampak tak tahan menunggu
kedatangan mia mencari disekitar
rumahnya satu per satu ia masuki dari dapur rumah, toilet, hingga akhirnya ia
masuk ke dalam kamar mia. Pasangan suami istri itu sejak bertengkar tak lagi
satu ranjang kepahitan itulah yang membuat mia tak tahan untuk tinggal bersama
Bram.
Dicari-carinya mia di dalam kamar itu,
dibukanya lemari tak satupun baju mia tersisa, bram menemukan surat yang
dituliskan untuknya. Ia membacanya perlahan-lahan, namun hati bram tak terketuk
kebenciannya tak terhapuskan sedikitpun. Bram lansung meremas – remas kertas
tersebut. “Biarkan saja ia pergi bahkan ke ujung dunia sekalipun aku tak akan
mempedulikannya” batin Bram.
Telepon Bram berdering diterimanya
sebuah pesan dari Lusi, wanita yang pernah mencintai bram, bahkan saat ini ia
tetap mencari Bram keretakan rumah tangga Bram dengan mia menjadi angin segar
baginya.
Bram
aku ingin bertemumu kembali esok kuharap kau hadir di taman.
Bram yang membaca pesan singkat tersebut
merasa sedikit ragu untuk menemui lusi kembali ia tak ingin menyakiti perasaan
perempuan tersebut bahkan di hati kecil bram masih memikirkan perasaan mia.
Masalah mia bertambah, bukan hanya
masalah rumah tangganya yang ia harus pikirkan tetapi Angel. Angel yang sudah
beranjak remaja mulai bersikap seenaknya, ia kerap pulang larut malam bahkan
masih memakai seragam SMA nya. Penampilan angelpun tak seperti usianya
perempuan itu sudah menghiasi wajahnya dengan bedak tebal dan lipstik merah
menyala.
Jam sudah menunjukan pukul 22.00 tapi
angel belum ada kabar. Mia yang terlihat panik mondar-mandir didepan rumah. Ibu
paham betul kegelisahan mia, seorang ibu yang memendam rasa cinta teramat dalam
untuk anaknya
“Mi, sudah larut malam ayo masuk nak!”
tegur ibu
“ Tapi angel belum datang bu, dari pagi
anak itu tak tahu rimbanya dimana”
“Kamu sudah menghubungi teman-temannya?”
“Mia bahkan tak satupun tahu teman angel
bu. Mia tersadar bu seharusnya mia yang merawat angel, jadi tidak seperti ini”
“Sudah nak, waktu akan menjelaskan itu,
sudah ayo masuk di desa ini lagi musimnya demam berdarah nanti kita jadi
makanan nyamuk nak”
Ibu dan mia masuk ke rumah beberapa
menit berselang suara mobil berhenti di depan rumah mia. Mia cepat – cepat
memlihat jendela siapa yang datang, dilihatnya angel bersama seorang lelaki
yang lebih tua darinya tapi wajah lelaki terlihat samar-samar ketika mia
berusaha membuka pintu rumahnya lelaki itu sudah pergi tinggal angel yang
dihadapan mia.
Mata mia tajam memandangi angel, luapan
emosi yang dipendamnya melimpah ruah.
“Dari mana kamu?” bentak mia.
“Dari rumah teman” jawab angel enteng.
“Oh jadi teman kamu bapak-bapak tadi”
“Kak “ bentak angel.
“Kenapa , malu? Angel sekarang kamu baru
berusia 16 tahun dan lelaki itu mungkin dia sudah memiliki anak dan istri di
rumahnya.”
“Kak, angel tahu siapa yang pantas untuk
angel, dan angel tahu yang tulus mencintai angel”
“Mencintai ? kamu pikir apa itu cinta!
Angel kakak peringati kamu jangan pernah menyetuh namanya cinta kamu belum
tahukan akibatnya seperti apa.”sembari menunjuk angel dengan jari telunjuk.
“kenapa? Kakak punya masalah dengan kak
Bram lansung sekarang kak mia meluapkannya ke angel” angel tersenyum sinis.
“Angel kakak ini sudah banyak makan asam
garam, kamu seharusnya mendengarkan kakak lansung kemana baju sekolahmu?
Penampilan kamu sudah seperti kupu-kupu malam.”
Angel mengeluarkan baju sekolahnya
dilemparnya dihadapan mia.
“Itukan mau kakak, kak angel lelah harus
dijerat di dalam kandang terus. Angel ingin melihat betapa indahnya dunia ini.
Sangat pantas kakak diabaikan oleh kak Bram penampilan kakak saja seperti
pembantu.”
Angel masuk ke rumah meninggalkan mia.
Mia yang masih tersulut emosi menendang pintu rumahnya. Rasa sakit kakinya tak
sebanding dengan rasa sakit karena perkataan angel.
Angel yang kini berada di kamarnya
merasa berbunga-bunga. Senyum di
wajahnya terpancar, bunga-bunga asmara itu sudah tumbuh dalam hatinya. Sosok
lelaki yang berumur lebih tua daripadanya tak menjadi masalah. Bukannya cinta
tak mengenal usia itulah dalam benak anggun.
Di lain sisi mia yang masih menyimpan
amarah kepada anggun hanya bisa bertanya-tanya siapa sosok lelaki yang membuat
anggun berubah sikap. Rasa penasaran tersebut terus menghantuinya. Kini air
matanya mengalir mengingat sikap yang sama persis pernah ia lakukan terhadap
ibunya.
Mia
yang dulu selalu berusaha menutup telingga ketika ibunya membicarakan
hubungannya dengan Alfath, tanggis itu semakin pecah dilihatnya foto ibu yang
merangkulnya sambil tersenyum. Betapa bahagia sosok ibu dan anak di foto itu.
“Tuhan mengapa aku baru tersadar atas
sikapku selama ini, aku manusia yang penuh dengan dosa tak sedikitpun aku
melihat ibu sebagai ibuku sendiri” kesah
mia.
Di datanginya kamar ibunya yang tertidur
pulas. Di pandanginya wajah tua itu. Pemikiran mia terus berlalu lalang
sepintas ia melihat didalam benaknya tubuh ibu yang tak bisa digerakan lagi
wajahnya pucat pasih dan denyut nadinya tak terdengar lagi.
“Mi..........” tegur ibu yang terbangun
dari tidurnya.
Mia menangis memeluk erat tubuh ibunya.
“Kamu kenapa nak?”
“Ibu....... Mia ingin minta maaf atas
sikap mia selama ini” dengan nada yang terputus-putus.
“Sikapmu yang mana nak?” sembari
mengelus rambut mia.
“Sikap mia yang selalu membantah ibu,
sikap mia yang selalu mengecewakan ibu. Hari ini mersakan betapa pedihnya hati
seorang ibu mendengar ucapan anaknya sendiri. Mia menyesal bu, tidak
mendengarkan ibu.”
“Nak, ibu ketika melihatmu terlahir
didunia saja ibu sangat bahagia, ibu selalu bersyukur kepada tuhan memiliki
kamu. Ibu tahu suatu saat nanti kamu akan menyadari itu karena ibu percaya kamu
anak yang baik dan mungkin ini waktunya.
“Bu, mia tidak tahu harus berkata apa
mia sangat bersyukur memiliki ibu”
Ibu tersenyum manis.
“Ibu selalu mendoakan yang terbaik
untukmu mi,
9
Waktu
terus berputar langit yang cerah menghiasi pagi itu kali ini mia harus pergi ke
jakarta untuk menemui Bram suaminya. Sudah 2 minggu mia menenangkan pikirannya
di rumah ibunya kali ini harus menyelesainkan rumah tangganya yang sudah di
ujung tanduk. Ia tak bisa terus menerus membohongi suaminya dan ia telah
memutuskan untuk berbicara jujur kepada suaminya.
Sepanjang jalan menuju rumahnya ia terus
berlatih untuk meminta maaf kepada suaminya mencoba memilih kata-kata yang akan
diucapkan nantinya penumpang yang lain memandanginya sambil tersenyum.
“Kasian yah masih muda sudah gila” kata
salah satu penumpang yang duduk di ujung.
“Sepertinya dia gila karena suaminya
lihat saja daritadi berbicara sendiri sambil meminta maaf kepada suaminya”
jawab penumpang yang lain.
Mia yang mendengar ocehan penumpang
tersebut bukannya merasa terngangu malah menambah tingkah yang lain. Ia
menyanyi sendiri di dalam bus tersebut kadang-kadang ia tertawa kecil, namun
semua itu bukan karena mia sudah gila tapi karena rasa senangnya yang begitu besar akan bertemu
suaminya.
Mia sudah membayangkan rumah tangga
mereka akan kembali lagi seperti awal mia berpacaran dengan Bram penuh romantis,
penuh tawa dan penuh dengan cinta. Bus yang mia tumpangi sudah sampai menuju
terminal.
Mia yang sudah berada di jakarta
bergegas menuju ke rumahnya,namun rumah itu terasa sepi. Mia berusaha menelpon
Bram tapi tak kunjung diangkatnya. Saat mia ingin pergi mengunjungi Bram
dikantornya tiba-tiba ada seorang wanita yang membuka pintu untuknya. Betapa
kagetnya mia dirumahnya kini ada seorang wanita.
“Kamu siapa?” tegur mia dengan matanya
yang tajam.
“Aku lusi calon istri mas Bram, kamu mia
kan kenapa masih berani kerumah ini?” senyum lusi dengan sinis.
“Ini rumah saya dengan mas Bram. Kamu
yang seharusnya pergi dari rumah ini. Dasar wanita tidak tau malu”
“Tidak tau malu? Kamu itu sudah
membohongi mas Bram masih saja terus menghantui kehidupan mas Bram seharusnya
kamu berkaca buka topeng yang kamu gunakan dan asal kamu tau sebentar lagi mas
bram akan menceraikan kamu jelaslah dia memilih perempuan yang sempurna bukan
prempuan yang sudah tak perawan ketika ia menikah.”
“Apa maksud kamu berbicara seperti itu”
sahut zain yang baru datang.
“Zain? Kamu kok disini?”
“Aku tadi ke kantor Bram tapi Bramnya tidak
ada aku kira ada Bram dirumah, nah kamu ngapain bawa koper segala lansung
prempuan ini ngapain di rumah kamu mi”
“Aku baru pulang dari Bandung zain”jawab
mia.
“Jelaslah dia itu seharusnya ada di
bandung saja tidak perlu ke jakarta, kalau dia disinipun hanya jadi parasit
untuk apa” jawab sambil berlagak sombong.
“Tutup mulut kamu, kamu ini siapa saya
mengenal mia sangat baik mungkin kamu yang parasit untuk hubungan orang lain.
Mi emang kamu ada masalah apa dengan Bram?”
“Aku dan Bram” sambil terbata-bata.
“Dia itu sudah membohongi suaminya
sendiri, dia itu sudah tak perawan lagi ketika menikah dengan Bram,hmm dasar
perempuan murahan”
“Mi, itu benar” tanya zain sambil memandangi
mia.
“Iya zain tapi aku punya alasan untuk
itu, aku sudah memutuskan untuk jujur kepada Bram hari ini, tapi belum sempat
bertemu dengan Bram aku malah menghadapi prempuan yang tak jelas ini.”
Zain menarik tangan mia ke dalam mobil
meninggalkan lusi seorang diri. Lusi merasa menang langkahnya untuk menjadi
istri Bram kini sedikit lagi. Bukan hal yang mustahil bagi lusi untuk
menyoingkirkan saingannya ia akan menghalalkan semua cara untuk mendapatkan
tujuannya, meskipun ia sadar betul Bram masih mencintai Mia namun tak penting
rasa cinta bagi lusi yang terpenting adalah ia bisa memiliki Bram.
Mia dan Zain berhenti di tengah jalan.
“Mi, kamu jujur dengan aku jadi selama
ini kamu itu” belum sempat zain berbicara mia sudah memotongnya.
“Iya zain, tapi itu masa lalu aku. Mia
yang sekarang bukan mia yang dulu zain. Iya memang aku sempat jatuh ke jurang
yang gelap tapi aku mencoba untuk bangkit zain.”
Zain terhentak mendengar perkataan mia.
Lelaki itu tak bisa berbicara banyak mengenai ini.
“Zain kamu mau kan bantu aku berbicara
dengan Bram aku tak ingin pernikahan aku hancur begitu saja apalagi sekarang
ada prempuan lain yang mendekatinya.”
Zain terdiam tak mengubris perkataan mia
ia masih tak percaya wanita yang sempat ia cintai tak seperti yang ia pikirkan.
“Zain” Bentak mia.
“Iya mi, aku percaya kamu wanita yang
baik. Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Aku akan bantu kamu
bicara dengan Bram tapi aku mohon jangan bohongi bram lagi ia mencintai kamu
aku mengenal saudaraku tak mungkin dia melihat wanita lain selain kamu.”
“Makasih zain aku tak akan mengulangi
kesalahan aku lagi. Andaikan Bram sepertimu zain ” mia membalik badannya ia
berusaha menyembunyikan pedih hatinya.
Mia dan Zain terus menyusuri jakarta.
“Mi, coba hubungi Bram. Selama kamu di
bandung kamu tetap memberi kabar kepadanya kan?”
Mia mengeleng. “Aku takut zain” jawab
mia.
“Apa yang kamu takutkan Bram itu suami
kamu seharusnya kamu tetap memberi kabar sepatah dua patah kepadanya.”
“Aku takut zain, Bram tidak ingin
melihat aku lagi bahkan sebelum aku pergi ke bandung aku sudah menuliskan surat
untuknya tapi selama aku di bandung dia tidak ada menjemput aku.”
“Kamu ingin mempertahankan rumah tangga
ini kan mi.”
“Iya zain.”
“Berarti kamu harus berjuang untuk itu.
“
Tiba-tiba hp mia berbunyi.
“Mi, Bram ada disini.”terdengar suara
ibu yang begitu panik.
“Bram ada disana? Ibu serius kan.”
“Iya mi, kamu harus lihat penampilan
bram?”
“Emang Bram kenapa bu?”
“Bram terlihat seperti orang frutasi mi,
ibu kasian melihatnya.”
“Iya bu mia akan kesana.”
“Zain ayo cepat ke bandung”ajak mia.
”Memang ada apa?” jawab zain
“Bram ada di rumah ibuku zain, sudah
sekarang kamu putar balik mobilnya kita harus kesana sekarang.”
Mobil zain terus melaju dengan kencang,
kecepatan mobilnya terus bertambah. Jantung mia berdegup kencang wajahnya
tampak ketakutan tapi ia berusaha untuk menutupinya dari zain. Zain terlihat
serius mengendrai mobilnya hampir saja tukang becak di depan kami di tabraknya.
Warga yang melihat kami melintaspun harap-harap cemas. Sesampainya di Bandung
mia lansung keluar dan muntah-muntah. Zain yang melihatnya hanya tersenyum.
“Astaga baru segitu, ternyata mia itu
seorang penakut yah”
“Astaga zain memang kamu pikir nyawa aku
berapa kamu itu mau membunuhku yah”
“Kamu mau cepat ketemu bramkan? Ya itu
solusinya?”
Mia menatap sosok bram yang berbicara
dengan ibunya dari kejauhan. Mia dan zainpun mendekati mereka.
“Iya bu, saya ingin bercerai dengan mia”
“Apa tidak bisa nak bram pikirkan
terlebih dahulu, pernikahan kalian baru seumur jagung masa lansung mau
bercerai. Apa tidak bisa di bicarakan baik-baik.”
Mia tersentak, Ia tak percaya Bram
jauh-jauh dari Jakarta hanya ingin bercerai dengan mia. Padahal mia sudah
memutuskan untuk jujur mengungkapkan masa lalunya.
“Mas kamu beneran ingin bercerai
denganku?”
Bram dan ibunya menghadap menghadap
kearah mia dan zain.
“Iya tolong kamu tanda-tangani surat ini
secepatnya terserah kamu mau datang ke pengadilan atau tidak yang terpenting
aku sudah kasih tau, saya izin dulu bu pulang ke jakarta” sambil meninggalkan
secarik kertas dan pena.
“Mas “ sambil memegangi tangan Bram.
Airmata mia menetes perempuan itu tak sanggup jika harus bercerai dengan
suaminya.
“Mas, aku percaya kamu tidak mudah
melupakan aku dan aku tau kamu tidak mudah juga untuk membuka pintu hati kamu
jadi aku ingin kamu jujur terhadap perasaan kamu. Jika karena masalah itu aku
sekarang bisa menjelaskannya ke kamu aku hanya butuh waktu dan waktu itu
sekarang. Aku mohon jujur terhadap perasaan kamu” lanjut mia.
Ibu yang melihat mia seolah tak tega air
mata ibu menetes begitupun zain ia hanya terdiam melihat kisah cinta keduanya.
“Aku tak perlu banyak bicara kamu hanya
harus hadir di pengadilan nanti.”Bram melepaskan tangan mia dan melangkah
pergi.
Seketika tubuh mia lunglai. Kakinya
terasa tak mampu menahan berat tubuhnya. Ia berlutut dan berteriak mas maafkan
aku. Namun Bram tak mempedulikannya. Mobil Bram melesat begitu saja zain ingin
mengejar Bram namun ia tak tega melihat kondisi mia saat ini.
10
Haripun mulai gelap. Mia terbaring di
tempat tidurnya sambil mengucapkan nama Bram. Ibu yang melihat kondisi anaknya
ini hanya bisa menanggis. Di lain tempat Angel asyik bermadu kasih dengan
seorang lelaki yang lebih tua darinya.Lelaki itu memanggi rambut angel dan
terus memandanginya.
“Kamu itu sangat mirip dengannya” kata
lelaki tersebut.
“Siapa dia?” jawab angel.
“Wanita yang sangat aku cintai bahkan
tidak akan pernah aku lupakan namun aku pernah melakukan kesalahan yang besar
kepadanya tak mungkin aku bersamanya lagi.”
“Jadi kakak tidak mencintainya angel,
kakak hanya mencintai dia,lalu memang angel harus ada disini” sambil memasang
wajah cemberut.
Kakak itulah panggilan anggel untuk
lelaki yang ia cintainya itu walaupun terdengar aneh untuk orang lain.
Bagaimana tidak percintaan mereka terpaut 15 tahun. Sosok lelaki yang
seharusnya pantas ia panggil om bahkan mungkin ayah.
“Tingkahnya bahkan sangat mirip
dengannya” batin lelaki itu. “Tidak perempuan itu sudah menggangap kakak mati
bahkan sudah menghapus nama kakak dimemorinya” jawab lelaki itu.
“Baguslah, kakakkan hanya milik angel”
“Iya anak manis.” Sambil mencubit pipi
angel.
“Anak ? angel ini bukan anak kakak
seharusnya kakak punya nama panggilan sayang untuk angel.”
“Dasar kamu ini banyak maunya.”
“Lihat saja angel akan membuat kakak
jatuh cinta kepada angel dan tidak akan berpaling dari angel” jawab angel dengan
senyum centilnya.
“Sudah ayo kakak antar kamu pulang”
“Kenapa harus pulang angel benci rumah
itu sudah seperti neraka bagi angel apa-apa tidak boleh, pualang malam
dimarahin, berbuat ini disalahin pokoknya semuanya dipermasalahkan.”keluh
angel.
“Sudah ayo pulang nanti kakak di marahin
kakak kamu loh sama ibu kamu.” Sambil menarik tangan angel menuju mobil.
Sorot lampu mobil mengedipkan mata zain
yang duduk termenung di depan rumah mia. Ia melihat sosok perempuan yang
berseragam SMA turun dari mobil lalu perempuan itu menuju kepadanya.
“Wah ada cowok ganteng kakak ada perlu
apa? angel siap membantu.”
Zain memandangi dari atas sampai
bawah.”Kamu anak SMA?” tanya zain.
“Iya aku masih SMA” jawab Angel
“Dengan lipstik merah menyala seperti
itu dan rok mini ini penampilan anak SMA?”
“Eh kak ganteng sih boleh tapi mulutnya
sama saja seperti ibu dan kak mia.”
“Kamu adiknya mia?”
“Ya kenapa?”
“Kamu bahkan tidak mirip dengan ibu
kamu, kamu itu mirip dengan lelaki yang tadi mengantarmu pulang”
Angel sumringgah. “Kakak beneran, kata
orang memang jika jodoh wajah akan mirip satu sama lain.”Angel terus melihat
fotonya dan foto lelaki yang ia cintai itu.
Zain mengeleng-geleng melihat tingkah laku anak sekarang yang
sunguh berbeda dengan zamannya. Ibu yang keluar dari kamar mia melihat angel
dengan rok mininya.
“Angel”Bentak ibu.
Angel membalik badannya. Foto yang ia
gemgang tiba-tiba terjatuh dan tepat di kaki ibu. Ibu membungkukan badan yang
sudah tua. Diambilnya foto tersebut sebelum ibu melihatnya angel cepat-cepat mengambilnya
bahkan membuat ibu hampir terjatuh.
“Itu foto siapa ? gel”Tanya ibu.
“Foto orang yang angel cintai.”
“A........L..... ibu berusaha membaca
tulisan di belakang foto tersebut namun mata tua ibu tidak bisa melihat tulisan
keseluruhannya.”
Angelpun bergegas pergi dari ibu ia tak
ingin terus disediki oleh ibu terlalu jauh. Kisah percintaan angel terus
berlanjut kearah yang lebih jauh angel selalu berusaha berpenampilan seperti
perempuan yang pernah dicintai oleh kekasihnya itu. Lelaki yang bersamanya
angel tersebut semakin tak bisa melupakan perempuan yang pernah ia cintai. Ia
sadar betul rasa cintanya bukan untuk angel, namun ia hanya ingin terus melihat
perempuan yang pernah dicintainya dalam kepribadian dan tubuh angel,berbeda
dengan mia yang semakin larut dengan kesedihannya. Sidang perceraian pertamanya
tak ia datangi mia memutuskan untuk menetap di bandung dan tak ingin
menginjakkan kakinya ke jakarta. Zain yang mendengar keputusan mia itu tak
dapat berbuat banyak.
Ibu mia terus menyemangati mia bahkan
ibu berpesan agar mia menghadari sidang perceraian selanjutnya bagaimanapun ia
harus berpisah dengan Bram dengan cara yang baik. Namun, hati wanita tak sekuat
saeperti baja ia begitu rapuh didalamnya.
11
Tepat 3 hari lagi tanggal 17 Agustus Angel genap berusia 17 tahun ibu sudah
menunggu tanggal ini, ibu mengingatkan mia untuk mengungkap kebenaran yang ia
sembunyikan sesuai janjinya berapa tahun silam. Mia pun merasa tak ingin
menyimpan rahasia ini lagi cukup lama karena kebohongannya itu membuat rumah
tanggganya hancur seperti saat ini.
Angel yang sudah menanti tanggal ulang
tahunnya ini tak sabar menerima hadiah
dari kekasihnya. Ibupun nampak bersemangat ia sudah merencanakan pesta ulang
tahun untuk angel walaupun ia setiap hari marah melihat penampilan angel namun
tak pernah ada rasa benci dihatinya.
Hari yang ditunggu-tunggu tiba pagi-pagi mia
sudah dengan wajah yang berlumur dengan tepung. Kali ini ia berlagak
seperti chef internasional yang
sedang berkompetisi meraih gelar terbaik. Ditempat lain ibu sedang sibuk
membereskan rumah di bantu dengan zain yang lansung ke bandung ketika mia
memintanya.
Sudah hampir setengah hari mia masih
berkelut dengan tepung percobaannya membuat kue tak kunjung berhasil ada yang
gosong, ada yang tak mengembang, bahkan ada pula kue yang dibuat mia dengan
rasa yang bercampur aduk rasa manis,asin,asam menjadi satu.
Zain berinisiatif menawarkan diri
untuk membantu namun mia menolaknya bahkan zain berapa kali zain meminta mia
untuk membeli kue di toko saja daripada memaksakan diri namun mia tetap pada
pendiriannya ia tak ingin di bantu oleh siapapun ia hanya ingin kuenya bisa
membuat angel bahagia. Zain yang menatap mia melihat rasa cinta dan sayang mia
untuk angel yang begitu besar.
Berbeda di tempat lain sosok yang
angel mencintai angel sedang membuat puisi untuknya. Ia tuliskan kata demi kata
di sepucuk surat bewarna merah muda bahkan ia sudah menyiapkan kado yang sama
seperti yang ia pernah berikan kepada wanita yang dulunya ia cintai.
Saat angel pulang semua orang
berlagak tak mengingat apapun. Kehadiran angelpun tak dihiraukan angel tampak
kesal terhadap sikap kakak dan ibunya itu, yang membuatnya bertambah kesal tak
ada sepatah kata selamat ulang tahun yang diterimanya hari ini mulai dari
teman-temannya di sekolah, orang-orang di rumah bahkan kekasih hatinya sendiri.
Saat malam hari tiba tampak semua
kesibukan terjadi di malam itu ibu sengaja menyuruh angel pergi berbelanja
dengan daftar belanja yang begitu banyak agar angel pulang sedikit lebih lama.angel terus mengeluh sepanjang jalan karena beban
belanjaan yang berat tiba angel melihat mobil kekasihnya yang menuju rumahnya.
Angelpun nampak senang ia pun mengeluarkan jurus seribu langkah untuk menuju
rumahnhya. Lelaki yang angel cinta itu mengetuk pintu berapa kali namun tak ada
yang menjawabnya volume musik yang dihidupkan zain membuat semua orang yang ada
disana tak mendengar apapun.
Angel yang sudah sampai di depan
rumahnya tersenyum.Ia bersikap seperti tak mengenali lelaki itu.
“Mencari
siapa yah pak?, ada yang ulang tahun yah hari ini wah kadonya besar sekali.”
Lelaki itu mengenali suara perempuan itu
ia membalikan badannya dan menyanyikan lagu untuknya sambil memetik gitar.
Aku
jatuh cinta kepada dirimu
Sunguh
sunguh cinta oh apa adanya
Zain mematikan volume musik yang ia
pasang. Mia mendengar suara lagu
Roulette dari depan rumah ia teringat akan seseorang. Ia berusaha mengingatanya
dan saat pikirannya membayangkan satu orang ia lansung berlari menuju kedepan
namun tak ada siapun di depan rumahnya. Mia menghelus-helus dada, ia mencoba
menghapus pikiran yang telintas di benaknya.
“Kak mia” panggil angel dari belakang.
Mia membalikan badannya,betapa kagetnya
ia melihat Alfath berdiri dihadapannya. Ia mulai lunglai kakinya terus
melangkah mundur. Alfath terpaku melihat sosok wanita yang selalu ditunggunya.
“Mi,apa kabar?”
“Sayang, kamu kenal sama kakak aku”
tanya angel yang masih binggung melihat keduanya.
“Sayang, Angel kamu ngapain pangil dia
sayang” bentak mia.
“Kenapa? Dia pacar angel kak.”
“Prak” tangan Mia melesat ke pipi angel.
“ Kamu bilang dia pacar kamu? Dia ayah kamu angel” Mia menangis .
Ibu dan zain keluar dari rumah mendengar
kegaduhan yang ada diluar.
“Mi jadi ini anak kita” sahut Alfath
sambil menarik tangan mia.
Untuk kedua kalinya tangan mia kali ini
menampar pipi Alfath. “Kamu orang yang paling aku benci, kamu yang sudah
menghancurkan hidup aku, sekarang kamu mau menghancurkan hidup anak kamu. Sosok
laki-laki macam apa kamu itu” Mia terus menangis rasanya ia tak mampu lagi
menahan beban dalam hidupnya.
“Mi, kamu percaya dengan aku walaupun
air di laut berubah warna aku tak pernah sedikitpun melupakanmu. Aku selalu
menunggumu, aku berpacaran dengan angel karena ia mirip denganmu, karena
melihatnya seolah aku melihatmu. Percayalah mi aku selalu mencintaimu.” Alfath
kini berlutut di hadapan mia.
Angel yang mendengar perkataan Alfath
merasa terlukai bukannkah seharusnya hari ini hari yang menyenangkan untuknya
namun kenyataan pahit yang harus diterimanya.
“Alfath aku mohon kepadamu aku sudah
menghapus namamu dalam ingatanku aku sudah mengkubur kenangan masa lalu
kita.Jadi, untuk apa....”
“Cukup, cukup kak teriak angel.
“Angel tidak tahu harus memangil kakak
apa kakak atau Ibu dan selama 17 tahun ini angel selalu iri dengan anak-anak
yang diluar sana yang bisa memeluk ayahnya kapan saja, namun apa kak angel
harus memendam semua perasaan itu karena angel sadar angel tidak memilki ayah
lagi dan kakak dan ibu merahasiakan ini dari angel selama ini” air mata angel
menetes.
“Selama ini angel mencintai ayah angel
sendiri, sosok yang selalu ada di dalam
mimpi angel, sosok yang angel cintai derngan setulus hati dan hari ini angel
sadar sosok itu tak pernah mencintai angel.”
Angel kini berhadapan dengan mia.
“Ibu......”
Mia menatap angel penuh kerinduan 17
tahun lamanya suda ia berharap untuk dipanggil dengan nama itu.
“Cuih.... kamu pikir kamu pantas
dianggap ibu, ibu macam apa yang membiarkan anaknya sendiri, ibu macam apa yang
menitipkan anaknya kepada neneknya bagimu aku anak haramkan.” Angel senyum
sinis.
“Angel” bentak ibu mia yang tak tahan
mendengar perkataan cucunya ini.
“Angel ibu mengandungmu selama 9 bulan
nak dan ibu sangat menunggu hari ini nak, ibu rindu dipanggil ibu olehmu. Ibu
mempertaruhkan nyawa ibu sendiri untuk mempertahankanmu. Ibu maaf nak ibu
terlalu egois ibu terlalu mementingkan masa depan ibu tanpa memikirkanmu.”
“Maaf kalian pikir angel ini apa?
patung? Boneka? Angel punya hati nenek kenapa nenek juga membohongi angel
bukankah nenek yang merawat angel selama ini kenapa tidak ada satupun orang
yang mempedulikan angel”
“Angel” bentak alfath. “Kamu seharusnya
menghormati ibu kamu.”
Prak..... kali ini tangan angel yang
melesat di pipi Alfath.”Anda sadar, anda penyebab semua masalah ini.” angelpun
pergi meninggalkan semua orang yang ada di rumahnya.
“Angel .......”teriak mia.
Malam itu hujan turun dengan deras. Mia
terus menatap jendela berharap angel kembali kerumahnya. Ibu mia terus
menengkan anaknya itu. Zain yang melihat semua kejadian malam itu menghubungi
Bram untuk menceritakan semuanya. Sedangkan alfath yang merupakan pangkal dari
semua itu tak merasa bersalah sedikitpun ia hanya memikirkan perasaannya
terhadap mia, mengetahui mia yang sebentar lagi akan bercerai dengan suaminya
membuatnya semakin bersemangat mengejar cinta mia kembali.
“Angel.....angel ......” mia terus
menyebut nama angel didalam tidurnya.
Ibu terus mengusap kening anak itu. Ibu
yang melihat kondisi anaknya itu tak tahu harus berbuat apa lagi. Kini tinggal
penyesalan yang ada.
2 Bulan sudah angel tak kembali kerumah.
Kini mia sering menyediri ia tak lepas dari boneka, boneka itu yang menemani
hari-harinya. Bram yang melihat kondisi mia memutuskan membatalkan perceraian
mereka dan membatalkan pernikahannya dengan Lusi. Tiap harinya Bram merawat mia
menyuapinya makan, dan menghiburnya, namun mia yang sekarang bukan mia yang
dulu tatapannya kosong ia hanya terus memanggil nama anaknya angel. Kadang ia
menangis menatap bonekanya, kadang juga ia tertawa sendiri.
12
Bulan
berganti bulan, seorang pengantar pos datang memberikan sebuah surat kepada mia
yang duduk diluar.
“Permisi ada surat....” tegurnya
Mia tak mempedulikan tukang pos tersebut
ia terus berbicara dengan bonekanya.
“Biar saya saja pak yang menerimanya.”
tegur Bram.
Selesai menandatangai surat persetujuan
tersebut Bram membuka surat tersebut membaca kata demi kata.
Ibu,
angel kini sudah beranjak usia 18 tahun. Ibu kini angel sedang mengandung cucu
untuk ibu. Mungkin ibu kaget mendengar berita ini maafkan angel bu. angel
melakukan kesalahan angel tidak bisa menjaga diri angel dengan baik. Angel
termakan bujuk rayu lelaki hidung belang. Lelah rasanya menanggung semua ini
sendiri bu, angel ingin bercerita kepada ibu namun angel malu melihat ibu
kembali. Angel sekarang tahu bu bagaimana sedihnya ibu selama mengandung angel.
Ibu apa ibu tahu nama yang bagus untuk cucu ibu ini. Angel sangat mengharapkan kehadiran ibu.
ANGEL
Mia menangis, ia meminta Bram untuk
mengantarkannya ke rumah sakit namun betapa kagetnya mia ketika ia melihat
tubuh kaku angel.
“Maafkan kami bu, anak ibu tidak bisa
terselamatkan. Angel terlalu muda untuk melahirkan sehingga mengalami
pendarahan hebat, kami sudah berusaha semampu kami” kata dokter yang berada
diruangan operasi tersebut.
Mayat mia dibawa ke ruang jenazah kini
tinggal bayi munggil yang sangat mirip dengan wajah angel. Mia menatapnya lirih
mia menangis ketika melihat senyum kecil di wajah bayi tersebut.
“Mi, kamu mau kasih nama bayi ini siapa?
Tegur Bram.
“Angel Rimayanti, gabungan namaku dengan
nama angel”
Sejak Angel di kuburkan. Kondisi mia
semakin membaik, ia merawat bayi angel itu seperti anaknya sendiri. Brampun
merasa kebahagiannya kembali lagi. Keluarga kecil tersebut mulai merajut
kebahagian yang telah lama pudar setidaknya kali ini tak ada lagi kebohongan
diantaranya.
Tamat
“Jangan pernah menciptakan kebohongan
sekecil apapun itu, karena ia bisa membuatmu jatuh ke jurang yang dalam”
SINDI
NOPITA AGUSTINA J
Komentar
Posting Komentar