Aku Hanya Butuh Semangat



Matahari bangun dari tidurnya, tapi hanya sebagian yang memperlihatkan dirinya . Ia bersembunyi di balik tebalnya awan.Nyanyian merdu dari burung –burung menemani pagi itu.
‘‘indah ......bangun’’ teriak ibu.
‘‘ya, bu sahutku ’’kupaksa mata ini untuk terbuka.
06.15 Aku sarapan dengan sepiring nasi dan lauk seadanya belum habis sampai suapan terakhir aku bergegas menuju sekolah.Sekolahku memang cukup jauh harus melewati tanjakan yang tak ingin ku tau berapa kemiringannya, dan itu harus kutempuh hanya dengan berjalan kaki.Sesampaiku di depan gerbang sekolah tiba-tiba ada suara yang tak asing lagi untukku.
            ‘‘Ndah ...tungguin  aku’’ .
 ‘‘Udah jam berapa ini?” sambil melihat arloji kesayanganku‘‘dasar ratu                   telat’’.
            ‘‘Belum telat kali, ini buktinya aku bisa masuk ’’ dengan napas terengaah- engah.
          ‘‘Kamu kasih apa lagi kesatpam sekolah kita dasar anak bandel lihat napas kamu baru lari 5 m udah segitunya makanya olahraga’’.
          ‘‘Aku udah olahraga tiap hari Ndah,tapi olahraganya lari dari masalah ’’jawab Anet
Pagi itu tawa kami pecah.Tak peduli lagi apakah orang akan terganggu dan berapa banyak orang yang akan melihat kami. Yang kutahu kini aku sedang bersama sahabat terbaikku Anet .Ia adalah sahabat sejak aku Tk sampai saat ini ,menghabiskan waktu bersamanya menurutku itu hal yang terindah walaupun kami berlatar belakang dari keluarga yang berbeda.Anet termasuk orang kaya yang berpengaruh di sekolahku sedangkan aku hanya anak dari pembersih sekolah dan penjual gorengan keliling,kadang aku iri kepada Anet,Tapi pikiran itu selalu kutipis menjauh karena menurutku ketika kami masih menghirup udara yang sama dan menginjak tanah yang sama berarti tak ada perbedaan diantara kami.
            Jarum jam berputar menandakan bergantinya waktu tak terasa jam pelajaran pagi itu semua telah berakhir .Tapi , aku dan Anet  tak kunjung meninggalkan kelas kami  XII IPA 1.
       ‘‘Net kok kamu diam  satu harian ini tidak seperti biasanya kenapa? ada masalah ? atau ada kataku yang menyakiti hatimu?’’. Pertanyaan ku bertubi-tubi rasa khawatir seorang sahabat yang tak dapat kupungkiri .
 ‘‘Gak kok aku baik –baik aja jawabnya singkat dengan senyuman tipis diwajahnya ’’.
            ‘‘Kamu sakit yah ?muka kamu pucat kayak vampir tau’’  ejekku.
 ‘‘Emang muka aku aja yang putih kayak orang korea hehe udah aku baik-baik aja  kok jangan berpikiran macam-macam lebih baik kita pulang aja’’.
Walaupun aku merasa ada yang berbeda dengan Anet satu bulan belakangan ini, tapi aku percaya ia akan menceritakan semuanya kepadaku suatu saat nanti.Kamipun pulang tapi, ditengah perjalanan kami berbelok arah menuju markas besar milik kami berdua, di sebuah danau dengan pemandangan indah  yang tak seorang pun menyadarinya kecuali aku dan Anet.kami pun duduk di pingiran danau dengan angin yang membawa kesejukan sore itu.
‘‘Ndah liat deh pohon disana kokoh dan kuat sedangkan pohon disekelilingnya .............’’
Anet tiba – tiba  membisu sejenak seperti kehilangan seribu bahasa yang tak mampu ia ungkapan.
 ‘‘Kenapa dengan pohon di sekitarnya net?’’tanyaku.
Pohon di sekelilingnya berbeda kering tak bernyawa itu sama seperti kehidupan manusia, pohon yang kokoh menandakan ia memiliki segalanya dan satu persatu dari bagian pohon tersebut akan berguguran ,mungkin kini ia terlihat kokoh tapi semua itu takkan lama  ketika pohon tersebut tak dapat bertahan untuk kehidupannya.
Aku tercengang mendengar penjelasan Anet seperti ada yang ingin ia sampaikan tapi tak dapat kupahami . Aku terus menatap anet dengan penuh tanya ada apa sebenarnya. Apa yang disembunyikan oleh sahabatku ini.
‘‘Ndah pulang yok ?’’tegur Anet  membuyarkan semua pikiranku
‘‘Kamu ngelamun yah Ndah dasar kebiasaan udah deh aku pulang duluan’’
Anet berjalan meninggalkanku di belakang tapi, dari kejauhan aku tetap bisa melihatnya cara jalannya yang tegap, tubuhnya yang menjulang tinggi dan rambut panjangnya yang selalu tergurai, aku selalu bisa mengenalinya.
 Setelah berpisah aku dan anet pulang ke rumah kami masing- masing .Sesampaiku di rumah aku mendengar rintihan seorang, ternyata rintihan tersebut dari kamar ayahku.

‘‘Ayah ...... ayah kenapa jatuh lagi? ,,,ibu kemana ?’’ sambil melihat sekeliling rumah.
 ‘‘Ibu pergi jualan Ndah’’ jawab ayahku.
‘‘Ayah maafin Indah, Indah gak bisa jagain ayah,  gara-gara Indah telat pulang ayah jatuh lagi’’.
‘‘Udah nggak apa-apa kok ,ayah udah biasa  jangan pernah menyalahkan diri sendiri ndah, gak baik indah nggak pernah salah ayah yang salah’’.
 ‘‘Ayah nggak pernah salah yah, ayah selalu jadi ayah yang terbaik buat Indah, ayah ngajarin indah banyak hal, ayah  bahkan rela ngorbanin diri ayah . Indah janji Indah akan mengobati ayah biar ayah seperti dulu lagi,  Indah janji Indah akan jadi dokter, Indah akan buat kehidupan kita nggak seperti ini lagi  yah.Dadaku sesak aku ingin menangis saat itu, tapi aku harus terlihat seperti tegar menghadapi semua ini.
 Ayahku memelukku aku tak dapat menutupi kesedihanku, air mataku mengalir deras. kali ini,  aku terlihat seperti anak berumur 5 tahun yang haus akan kasih sayang seorang ayah.
Kecelakaan  beberapa tahun yang lalu membuat ayahku hanya dapat terbaring lemah ditempat tidur. Kecelaakan itu, membuat tulang belakang ayah ku tak berfungsi seperti dulu ditambah lagi, patah tulang dibagian kaki dan tangannya yang membuat semuanya  mati rasa. Kondisi ekonomi keluargaku saat ini tak mampu mengobati ayah apalagi hanya dari penghasilan ibu sebagai penjual gorengan keliling terpaksa kami hanya dapat memberi ayah obat warung.
 Saat itu aku membulatkan tekad untuk menjadi seorang dokter pikirku hanya 1 ayahku harus sembuh dan dapat berjalan lagi. Kini, semangat itu berkobar. Aku menghidupkan lagu Mariah Careiy lagu kesukaanku, lirik lagunya memiliki makna yang mendalam bagiku.
I believe i can fly yeah
I believe I can fly (I can fly)
 God said I can do it (I can fly)
            Bintang- bintang pada malam itu tampak cerah seperti tersenyum kepadaku ,memberikan semangat.  Kalau aku dapat bersinar seperti mereka walaupun banyak rintangan yang harus kuhadapi.
 Keesokanharinya.
Aku datang ke sekolah dengan penuh semangat yang membara membawa satu tekad dan penuh nekad  untuk menjadi seorang dokter. Aku ingin membuktikan kepada semua orang aku dapat melakukannya dan kini yang ku butuhkan hanyalah semangat.Aku duduk di bangkuku,  aku melirik kiri dan kanan ternyata hanya ada aku di kelas seorang diri, astaga...... ternyata ini masih jam 6.15  pagi. Kali  aku benar-benar terlalu bersemangat tanpa menyadari sekitarku.
Kring...kring ...bel tanda masuk mulai.
Kini, aku tak sendiri lagi ada teman –teman sekelasku tapi teman sebangku Anet, tak kunjung datang.Satu pelajaran berlalu aku sama sekali tidak memperhatikan guru menjelaskan mungkin jiwaku ada di kelas. Tapi, pikiranku melayang kesana kemari memikirkan Anet.
         Ketika waktu istirahat aku memutuskan untuk mencari Anet. Mungkin ia telat lagi dan dihukum sehinga tidak dapat mengikuti satu pelajaran, firasatku kuat menggatakan itu dan ternyata benar, aku melihat sahabatku sedang hormat bendera di tengah teriknya matahari. Aku akui jiwa nasionalisme sahabatku sangat tinggi, ia termasuk siswa yang terdaftar  sering hormat bendera dengan dua tangan di telingganya,itulah  kebiasaan terburuk sahabatku .
       Aku memperhatikan Anet dari kejauhan, ia menyadari keberadaannku dan hanya membalas dengan senyuman. 1 menit 2 menit 5 menit berlalu tiba –tiba  prak......... Anet pingsan segera cepat aku  membawanya ke UKS. Wajahnya  sangat pucat, Tuhan bantulah sahabatku kali ini. Doa itu terus ku ucapkan sambil bolak- balik di depan pintu UKS yang tak kunjung dibuka.
            ‘‘Dok , sahabat saya kenapa ? sakit apa ?sekarang seperti apa keadaannya, dok? jawab dok’’ paksaku.
 Dokter penjaga UKS tersebut hanya diam melihatku.
 ‘‘Ndah aku nggak apa-apa kok.’’ jawab anet dari dalam UKS.
Aku lansung masuk UKS tak mempedulikan lagi dokter penjaga UKS tersebut, dan hampir saja dokter penjaga UKS itu terjatuh karena ulahku.
 ‘‘Haduh Anet, kamu tahu aku itu panik aku takut kamu kenapa-kenapa, kenapa coba bisa pingsan dari daftar telat kamu baru kali aku lihat kamu pingsan’’
      ‘‘Ndah aku cuma nggak sarapan aja kok .Aku baik-baik  aja kok lihat ini sambil berdiri di hadapanku menunjukan ia dalam keadaan baik saja.
      ‘‘Sahabat kamu perhatian yah sampai tidak melihat orang yang berdiri di depannya tadi’’. tegur dokter penjaga UKS  sambil menunjukan senyum sinisnya.                                              ‘‘kalian sahabatan dari kapan ?’’tanya dokter tersebut.
      ‘‘Dari TK dok’’ jawab Anet.
Aku terus menghadap ke bawah, mencari sesuatu yang sebenarnya tak ada. Menggaruk rambutku sebenarnya tak gatal ahhhh aku malu terhadap sikap ku tadi hampir saja membuat orang terjatuh.
‘‘Sayang yah persahabatan selama itu tapi, ada kebongan besar yang disembunyikan’’dokter penjaga UKS melanjutkan pembicarannya.
        Aku menarik tangan Anet untuk cepat keluar tanpa mempedulikan apa yang tadi disampaikan dokter tersebut,  rasa malu tadi menampar keras wajahku bahkan aku lupa meminta maaf sudahlah yang terpenting Anet tidak apa –apa. Aku menggajak anet ke kantin aku tak ingin ia pingsan lagi karena tidak sarapan.
        ‘‘Ndah makasi yah’’ sahut Anet membuka pembicaaraan setelah beberapa menit kami saling terdiam menikmati makanan di hadapan kami masing-masing
       ‘‘Iya itu yang harusnya dilakukan seorang sahabat Net’’
        ‘‘Tapi aku minta, kamu jangan terlalu memperhatikan aku Ndah, kamu punya kehidupan yang lebih baik daripada aku.’’
        ‘‘Maksud kamu?’’
        ‘‘Aku itu nggak apa –apa Ndah, aku baik- baik aja. Aku lihat kamu terlalu menghawatirkan aku seperti tadi, hampir saja membuat orang terjatuh. Kamu janjikan gak akan menghawatirkan aku lagi ?’’
      ‘‘Iya Net’’ jawabku singkat
      ‘‘Oh ya Ndah, kita kan udah kelas XII bentar lagi mau UN langsung kuliah, kamu mau kuliah dimana ?’’
        ‘‘Sepertinya aku kerja dulu net,ekonomi keluargaku sangat buruk saat ini.’’
    ‘‘Yah padahal aku pingin banget kita kuliah ditempat yang sama.ketawa bersama ,belajar bersama pokoknya selalu bersama’’.
    ‘‘Cieee fans berat aku .tenang aja Net kita pasti bisa melakukannya tapi kamu harus bersedia menungguku.’’
‘‘Aku janji aku akan menunggu saat itu ndah’’
       2 bulan menjelang UN sangat terasa, kami harus sering pulang telat dan rasa takut menghadapi ujian tersebut menghampiri semua siswa termasuk aku .Bagaimana tidak 3 tahun belajar hanya ditentukan 6 hari ujian inilah dinamika pendidikan yang kadang tak sejalan dengan dengan pemikiranku.Aku terus  belajar tanpa mengenal waktu mengingat cita-citaku yang begitu tinggi berarti usahaku juga haruslah keras sampai akhirnya tibalah waktu UN kami harus berperang menggunakan pensil dan penghapus untuk mengisi lembaran-lembaran pertanyaan yang harus ditulis dengan tinta emas keberhasilan .
        Setelah UN selesai banyak siswa yang berkonsultasi dengan guru tentang pemilihan tempat kuliah dan segala macamnya, sedangkan aku hanya dapat terdiam melihat semua itu.Tak ada lagi Anet yang menemaniku ia juga sibuk mencari akan kemana ia kuliah sebagai sahabat aku berusaha mengerti keadaan tersebut.
        Setelah kami lulus kini aku benar –benar kehilangan Anet ia pergi tanpa pamitan terlebihi dahulu kepadaku bahkan aku tak tau tempat ia kuliah .Hatiku sangat kacau pikiran terus berkelana sejahat itukah anet padaku?apa arti sahabat untuknya ? takkah ia menggangapku sahabat ?semua pertanyaan itu memenuhi otakku,tak satupun yang dapat kupahami. Ketika aku ingin menghapus semua pertanyaan itu ia akan kembali lagi,lagi dan lagi.Aku menggingat kejadian di kantin saat itu, aku berjanji kepada Anet agar tidak menghawatirkannya. Apa itu arti semua ini ? apa Anet tak mau memiliki sahabat sepertiku yang tak melanjutkan kuliah sepertinya, entahlah banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepada Anet.
         Kondisi ekonomi kelurga semakin memburuk ayahku semakin membutuhkan perawatan tapi lagi-lagi kami tak mampu memenuhinya. Di tengah sunyinya malam aku melihat ibuku kerutan –kerutan diwajahnya mulai terlihat rambutnya berubah warna aku merasa lirih kepada ibu dan ayahku. Akhirnya aku mencari pekerjaan tapi niat untuk kuliah tak pernah padam. Aku berusaha mengajukan beasiswa  ke beberapa universitas tapi tak ada satupun balasan .
        Tiap harinya kini aku harus bekerja sebagai cleaning servis disebuah rumah sakit membersihkan jendela ,lantai,dan lainnya kadang aku harus menahan amarah saat orang tak melihat ku yang sedang mengepel dengan seenaknya jalan kesana kemari. Tapi itu harus tahan aku tak ingin kehilangan pekerjaan. disamping bekerja kadang aku meminjam buku ke seorang dokter. Dokter itu sangat baik kepadaku, banyak pengetahuan yang aku dapatkan setelah beberapa minggu bekerja aku hampir lupa akan tujuan awalku kuliah. Semangatku untuk kuliah mulai padam mungkin aku akan menjadi cleaning servis sampai masa tuaku.
1 bulan bekerja akhirnya aku mendapatkan gaji pertamaku.Gaji itu ku berikan untuk membeli kursi roda untuk ayahku.dengan penuh semangat kubawa kursi roda itu menuju rumah.Tapi ada yang aneh dengan rumahku, rumah yang biasanya sepi seperti tak berpehuni hanya ada ayah seorang diri ditempat tidur. Kini penuh dengan rumunan orang dan  sesak tangis. Cepat-cepat aku masuk kedalam rumah ,aku melihat ayahku yang terbaring tak ada senyuman diwajahnya .tak ada tegurnya yang menyambutku , tak ada lagi sosok ayah untukku.ayah pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya.
            Aku menangis jerit tangisku tak dapat terbendung. Ayah maafkan Indah belum bisa mengobati ayah ,ayah lihat apa yang Indah bawa, Indah bawa kursi roda untuk ayah, Indah  ingin melihat ayah dapat berjalan. Tapi ayahku hanya terdiam, ibuku hanya dapat termenung melihatku. Kini aku benar-benar kehilangan semangat Anet sahabatku tak tau keberadaanya dan kini ayahku pergi meninggalkan untuk selamanya.
        Beberapa hari semenjak kematian ayah aku hanya diam aku tak ingin bicara dengan siapapun ini semua salahku.Ibuku terlihat sangat mengkhawatirkannku tapi aku tak mempedulikannya,yang ku butuh kini hanya semangat .
    ‘‘Ndah apa kamu mau seperti ini terus’’ tanya ibuku. Saat aku duduk termenung di depan rumahku,aku selalu berharap Anet menemuiku dan ayah kembali menemani hariku aku selalu menunggu mereka kembali hadir dikehidupanku.
     ‘‘Indah,17 tahun yang lalu ibu melahirkan anak yang ibu  harapkan dapat jadi kebanggan buat ibu dan ayah.  Anak yang tidak pantang menyerah.Tapi kini anak yang ibu harapkan terlalu lama dalam kesedihan bahkan ia tak mau bangkit ’’.ibu meninggalkanku sendiri mungkin ia enggan berbicara lama padaku hanya seorang patung.Malam harinya, aku sulit tidur dibenakku masih ada perkataan ibu saat di depan rumah.Perkataan ibu menjadi tamparan keras untukku,tapi tak mengubah hidupku.
      Beberapa bulan, aku seperti hidup dalam kegelapan cahaya penerang kehidupannku kini tak ada lagi.Tubuhku mulai kurus,rambutku tak tersusun rapi
Di tengah gelapnya hidupku, ada setitik cahaya yang ku dapatkan dokter ditempatku bekerja, tempat aku meminjam buku selama ini, menawarkan aku kuliah dijurusan kedokteran . Ia melihat beberapa surat yang pernah kuaajukan kebeberapa universitas dan prestasi-prestasi yang aku dapatkan.
      ‘‘Indah saya turut berduka cita atas kepergian ayah kamu, maaf saya baru datang hari ini ,Indah melihat kerja keras kamu selama ini menggungah hati saya semangatmu untuk kuliah menyadarkan saya tentang kehidupan ini harus penuh dengan semangat, saya sudah memikirkan ini dari awal, saya akan membantu biaya kuliah kamu ,tapi kamu masih ingin kuliah kan?’’
       Aku terhentak sejenak  lidahku tak dapat bergerak kata-kata yang ingin kuacapkan tertahan diujung lidahku, tanpa kusadari air mataku menggalir diwajahku , tangisan bahagia sekaligus tamparan keras bagiku, sudah berapa lama aku melupakan Tuhan, yang selalu menemaniku. Sudah berapa lama aku tak mempedulikan ibuku padahal hanya ibuku harta yang kumiliki saat ini. Aku malu kepada diriku sendiri begitu bodohnya aku.
     Anet sekarang kita sama aku dapat kuliah  sepertimu,Anet aku yakin tak ada perbedaan diantara kita,  ketika kita masih menghirup udara yang sama dan menginjak tanah yang sama .Mungkin  waktu sangatlah kejam tak pernah memberikan kita penjelasan akan apa yang terjadi, tapi aku yakin waktu akan menjelaskan kenapa  kau pergi meninggalkan aku sahabatmu.
Agustus 2015
        Aku menjalani hari-hari baruku sebagai anak kuliah. Kujalani semua itu dengan semangat. Ku ingin, ibu melihatku memakai toga dan menerima ijazah kedokteranku, melihat ayah tersenyum bahagia di surga, dan Anet bangga memiliki sahabat sepertiku, semangatku seperti menyala lagi .
        Hari berganti hari kulalui,perjalanan  sebagai seorang dokter tidaklah mudah ,banyak tembok besar yang menghadangku tapi aku selalu berhasil melaluinya. Saat aku semester 4 ada yang aneh dengan tubuhku ketika aku memeriksakan yang terjadi pada tubuhku ternyata aku didiagnosa kanker otak, kanker itu membuat daya ingatku menurun .Kini aku tak dapat melewati tembok itu ,terlalu kuat untuk kuhadapi. Mungkin aku calon seorang dokter yang dapat mengobati orang, tapi aku tak dapat meramalkan dan membaca kehidupan seseorang termasuk kehidupannku.
         Kanker otak membuat aku harus terbaring koma beberapa bulan. Aku dapat hidup hanya dengan bantuan alat medis saat itu, tak tau berapa lama aku akan bertahan.Selama koma aku bertemu dengan ayah, ia dapat berjalan seperti keingginanku ia tersenyum penuh arti kepadaku ada kebanggaan diwajahnya.Tapi perkataannya tak dapat kudengar tubuhnya tak dapat kusentuh.Ternyata itu semua hanya mimpi.
Beberapa bulan,  aku setelah koma. Akhirnya aku dapat melihat lagi keindahan dunia lagi ,walaupun aku tak sepenuhnya bebas dari kanker tersebut. Ketika aku melihat meja di samping tempat tidurku, aku melihat ada sepucuk surat bewarna pink dengan sebuah daun yang layu tak bernyawa, kubaca surat tersebut
Dear indah
Tubuhku mulai gontai. Rambutku mulai jatuh satu-persatu.Indah kanker itu menyerang seluruh tubuhku ,banyak obat yang harus ku minum kadang aku tak sanggup meminumnya dan  memuntahkannya kembali . Indah maafkan aku ,aku tak dapat menepati janjiku untuk menunggumu  kuliah bersama.Maafkan aku tak memberi taumu apa yang terjadi padaku.Indah ingatkah engkau saat di UKS dokter penjaga uks mengetahui jika aku mengidap penyakit leukimia jantungku hampir copot saat bertemu dengannya aku tak ingin ia memberitahukan kepadamu,saat wajahku pucat seperti vampir,saat aku pingsan semua itu gejala aku mengidap penyakit leukimia. Indah aku harus jujur kepadamu aku tak pernah ingin meninggalkanmu, tapi kondisiku semakin buruk aku tak pernah kuliah. Aku pergi untuk kesembuhannku.Hanya satu  semangat yang ku miliki, aku hanya ingin kuliah bersamamu, ketawa bersama,selalu bersama. Indah saat kau membaca surat dariku mungkin aku tak ada lagi hanya namaku yang terkenang. Indah kita berbeda kau seperti pohon yang kuat dan kokoh sedangkan aku hanya pohon yang akan kehilangan satu persatu bagiannya,dan ternyata aku tak dapat mempertahankan kehidupanku.Indah maafkan aku, aku saat menyayangimu aku selalu menggangapmu sebagai sahabat terbaikku.Terimakasih telah menjadi semangat bagiku terimakasih pernah ada dalam kehidupannku.

ANET
Aku tak lansung percaya atas apa yang kubaca tanpa mempedulikan alat medis yang menempel di tubuhku, aku pergi untuk menemui siapa yang menaruh surat tersebut diatas mejaku.Ketika itu aku melihat bola mata yang tak asing lagi untukku, mata itu seperti mata Anet.Ternyata ia adalah ibu Anet, ia menceritakan semuanya padaku.Tanggisku pecah,Anet aku tak pernah menganggap kita berbeda karena menurutku ketika kita menginjak tanah yang sama dan menghirup udara yang sama tak ada perbedaan diantara kita tapi kini ada perbedaan diantara kita tempat kita tak sama lagi.
Keesokannharinya.
Aku pergi kesuatu tempat, ditempat itu aku melihat batu nisan dengan nama sahabatku.Sungguh aku tak mampu melihatnya, Anet mungkinkah aku akan menyusulmu? sampai kapankah aku dapat bertahan dengan kondisiku saat ini? Pertanyaan itu terus  menghantuiku. Tapi aku tetap menjalani hidupku dengan penuh semangat karena hanya semangatlah yang mampu membuatku hidup sampai saat ini.
(Aku hanya manusia biasa, tapi aku dapat melakukan kerja keras diatas rata-rata orang biasa)
The end

Komentar