Aku Hanya Butuh Semangat
Matahari
bangun dari tidurnya, tapi hanya sebagian yang memperlihatkan dirinya . Ia
bersembunyi di balik tebalnya awan.Nyanyian merdu dari burung –burung menemani
pagi itu.
‘‘indah
......bangun’’ teriak ibu.
‘‘ya,
bu sahutku ’’kupaksa mata ini untuk terbuka.
06.15
Aku sarapan dengan sepiring nasi dan lauk seadanya belum habis sampai suapan
terakhir aku bergegas menuju sekolah.Sekolahku memang cukup jauh harus melewati
tanjakan yang tak ingin ku tau berapa kemiringannya, dan itu harus kutempuh
hanya dengan berjalan kaki.Sesampaiku di depan gerbang sekolah tiba-tiba ada
suara yang tak asing lagi untukku.
‘‘Ndah
...tungguin aku’’ .
‘‘Udah jam berapa ini?” sambil melihat arloji
kesayanganku‘‘dasar ratu telat’’.
‘‘Belum
telat kali, ini buktinya aku bisa masuk ’’ dengan napas terengaah- engah.
‘‘Kamu kasih apa lagi kesatpam
sekolah kita dasar anak bandel lihat napas kamu baru lari 5 m udah segitunya
makanya olahraga’’.
‘‘Aku udah olahraga tiap hari Ndah,tapi
olahraganya lari dari masalah ’’jawab Anet
Pagi
itu tawa kami pecah.Tak peduli lagi apakah orang akan terganggu dan berapa
banyak orang yang akan melihat kami. Yang kutahu kini aku sedang bersama sahabat
terbaikku Anet .Ia adalah sahabat sejak aku Tk sampai saat ini ,menghabiskan
waktu bersamanya menurutku itu hal yang terindah walaupun kami berlatar
belakang dari keluarga yang berbeda.Anet termasuk orang kaya yang berpengaruh
di sekolahku sedangkan aku hanya anak dari pembersih sekolah dan penjual
gorengan keliling,kadang aku iri kepada Anet,Tapi pikiran itu selalu kutipis
menjauh karena menurutku ketika kami masih menghirup udara yang sama dan
menginjak tanah yang sama berarti tak ada perbedaan diantara kami.
Jarum
jam berputar menandakan bergantinya waktu tak terasa jam pelajaran pagi itu
semua telah berakhir .Tapi , aku dan Anet
tak kunjung meninggalkan kelas kami
XII IPA 1.
‘‘Net kok kamu diam satu harian ini tidak seperti biasanya kenapa?
ada masalah ? atau ada kataku yang menyakiti hatimu?’’. Pertanyaan ku
bertubi-tubi rasa khawatir seorang sahabat yang tak dapat kupungkiri .
‘‘Gak kok aku baik –baik aja jawabnya singkat
dengan senyuman tipis diwajahnya ’’.
‘‘Kamu
sakit yah ?muka kamu pucat kayak vampir tau’’
ejekku.
‘‘Emang muka aku aja yang putih kayak orang
korea hehe udah aku baik-baik aja kok
jangan berpikiran macam-macam lebih baik kita pulang aja’’.
Walaupun
aku merasa ada yang berbeda dengan Anet satu bulan belakangan ini, tapi aku
percaya ia akan menceritakan semuanya kepadaku suatu saat nanti.Kamipun pulang
tapi, ditengah perjalanan kami berbelok arah menuju markas besar milik kami
berdua, di sebuah danau dengan pemandangan indah yang tak seorang pun menyadarinya kecuali aku
dan Anet.kami pun duduk di pingiran danau dengan angin yang membawa kesejukan
sore itu.
‘‘Ndah
liat deh pohon disana kokoh dan kuat sedangkan pohon disekelilingnya .............’’
Anet
tiba – tiba membisu sejenak seperti
kehilangan seribu bahasa yang tak mampu ia ungkapan.
‘‘Kenapa dengan pohon di sekitarnya net?’’tanyaku.
Pohon
di sekelilingnya berbeda kering tak bernyawa itu sama seperti kehidupan manusia,
pohon yang kokoh menandakan ia memiliki segalanya dan satu persatu dari bagian
pohon tersebut akan berguguran ,mungkin kini ia terlihat kokoh tapi semua itu
takkan lama ketika pohon tersebut tak
dapat bertahan untuk kehidupannya.
Aku
tercengang mendengar penjelasan Anet seperti ada yang ingin ia sampaikan tapi
tak dapat kupahami . Aku terus menatap anet dengan penuh tanya ada apa
sebenarnya. Apa yang disembunyikan oleh sahabatku ini.
‘‘Ndah
pulang yok ?’’tegur Anet membuyarkan
semua pikiranku
‘‘Kamu
ngelamun yah Ndah dasar kebiasaan udah deh aku pulang duluan’’
Anet
berjalan meninggalkanku di belakang tapi, dari kejauhan aku tetap bisa
melihatnya cara jalannya yang tegap, tubuhnya yang menjulang tinggi dan rambut panjangnya
yang selalu tergurai, aku selalu bisa mengenalinya.
Setelah berpisah aku dan anet pulang ke rumah
kami masing- masing .Sesampaiku di rumah aku mendengar rintihan seorang, ternyata
rintihan tersebut dari kamar ayahku.
‘‘Ayah
...... ayah kenapa jatuh lagi? ,,,ibu kemana ?’’ sambil melihat sekeliling
rumah.
‘‘Ibu pergi jualan Ndah’’ jawab ayahku.
‘‘Ayah
maafin Indah, Indah gak bisa jagain ayah,
gara-gara Indah telat pulang ayah jatuh lagi’’.
‘‘Udah
nggak apa-apa kok ,ayah udah biasa
jangan pernah menyalahkan diri sendiri ndah, gak baik indah nggak pernah
salah ayah yang salah’’.
‘‘Ayah nggak pernah salah yah, ayah selalu
jadi ayah yang terbaik buat Indah, ayah ngajarin indah banyak hal, ayah bahkan rela ngorbanin diri ayah . Indah janji
Indah akan mengobati ayah biar ayah seperti dulu lagi, Indah janji Indah akan jadi dokter, Indah akan
buat kehidupan kita nggak seperti ini lagi yah.Dadaku sesak aku ingin menangis saat itu,
tapi aku harus terlihat seperti tegar menghadapi semua ini.
Ayahku memelukku aku tak dapat menutupi
kesedihanku, air mataku mengalir deras. kali ini, aku terlihat seperti anak berumur 5 tahun yang
haus akan kasih sayang seorang ayah.
Kecelakaan
beberapa tahun yang lalu membuat ayahku
hanya dapat terbaring lemah ditempat tidur. Kecelaakan itu, membuat tulang
belakang ayah ku tak berfungsi seperti dulu ditambah lagi, patah tulang
dibagian kaki dan tangannya yang membuat semuanya mati rasa. Kondisi ekonomi keluargaku saat
ini tak mampu mengobati ayah apalagi hanya dari penghasilan ibu sebagai penjual
gorengan keliling terpaksa kami hanya dapat memberi ayah obat warung.
Saat itu aku membulatkan tekad untuk menjadi seorang
dokter pikirku hanya 1 ayahku harus sembuh dan dapat berjalan lagi. Kini,
semangat itu berkobar. Aku menghidupkan lagu Mariah Careiy lagu kesukaanku,
lirik lagunya memiliki makna yang mendalam bagiku.
I
believe i can fly yeah
I believe I can fly (I can fly)
God said I can do it (I can fly)
Bintang- bintang pada malam itu tampak cerah seperti tersenyum kepadaku ,memberikan semangat. Kalau aku dapat bersinar seperti mereka walaupun banyak rintangan yang harus kuhadapi.
I believe I can fly (I can fly)
God said I can do it (I can fly)
Bintang- bintang pada malam itu tampak cerah seperti tersenyum kepadaku ,memberikan semangat. Kalau aku dapat bersinar seperti mereka walaupun banyak rintangan yang harus kuhadapi.
Keesokanharinya.
Aku
datang ke sekolah dengan penuh semangat yang membara membawa satu tekad dan
penuh nekad untuk menjadi seorang dokter.
Aku ingin membuktikan kepada semua orang aku dapat melakukannya dan kini yang
ku butuhkan hanyalah semangat.Aku duduk di bangkuku, aku melirik kiri dan kanan ternyata hanya ada
aku di kelas seorang diri, astaga...... ternyata ini masih jam 6.15 pagi. Kali
aku benar-benar terlalu bersemangat tanpa menyadari sekitarku.
Kring...kring
...bel tanda masuk mulai.
Kini,
aku tak sendiri lagi ada teman –teman sekelasku tapi teman sebangku Anet, tak
kunjung datang.Satu pelajaran berlalu aku sama sekali tidak memperhatikan guru
menjelaskan mungkin jiwaku ada di kelas. Tapi, pikiranku melayang kesana kemari
memikirkan Anet.
Ketika waktu istirahat aku memutuskan
untuk mencari Anet. Mungkin ia telat lagi dan dihukum sehinga tidak dapat
mengikuti satu pelajaran, firasatku kuat menggatakan itu dan ternyata benar, aku
melihat sahabatku sedang hormat bendera di tengah teriknya matahari. Aku akui
jiwa nasionalisme sahabatku sangat tinggi, ia termasuk siswa yang
terdaftar sering hormat bendera dengan
dua tangan di telingganya,itulah kebiasaan terburuk sahabatku .
Aku memperhatikan Anet dari kejauhan, ia
menyadari keberadaannku dan hanya membalas dengan senyuman. 1 menit 2 menit 5
menit berlalu tiba –tiba prak......... Anet
pingsan segera cepat aku membawanya ke
UKS. Wajahnya sangat pucat, Tuhan
bantulah sahabatku kali ini. Doa itu terus ku ucapkan sambil bolak- balik di
depan pintu UKS yang tak kunjung dibuka.
‘‘Dok
, sahabat saya kenapa ? sakit apa ?sekarang seperti apa keadaannya, dok? jawab
dok’’ paksaku.
Dokter penjaga UKS tersebut hanya diam
melihatku.
‘‘Ndah aku nggak apa-apa kok.’’ jawab anet
dari dalam UKS.
Aku
lansung masuk UKS tak mempedulikan lagi dokter penjaga UKS tersebut, dan hampir
saja dokter penjaga UKS itu terjatuh karena ulahku.
‘‘Haduh Anet, kamu tahu aku itu panik aku
takut kamu kenapa-kenapa, kenapa coba bisa pingsan dari daftar telat kamu baru
kali aku lihat kamu pingsan’’
‘‘Ndah aku cuma nggak sarapan aja kok .Aku
baik-baik aja kok lihat ini sambil
berdiri di hadapanku menunjukan ia dalam keadaan baik saja.
‘‘Sahabat kamu perhatian yah sampai tidak
melihat orang yang berdiri di depannya tadi’’. tegur dokter penjaga UKS sambil menunjukan senyum sinisnya. ‘‘kalian
sahabatan dari kapan ?’’tanya dokter tersebut.
‘‘Dari TK dok’’ jawab Anet.
Aku
terus menghadap ke bawah, mencari sesuatu yang sebenarnya tak ada. Menggaruk rambutku
sebenarnya tak gatal ahhhh aku malu terhadap sikap ku tadi hampir saja membuat
orang terjatuh.
‘‘Sayang
yah persahabatan selama itu tapi, ada kebongan besar yang disembunyikan’’dokter
penjaga UKS melanjutkan pembicarannya.
Aku menarik tangan Anet untuk cepat
keluar tanpa mempedulikan apa yang tadi disampaikan dokter tersebut, rasa malu tadi menampar keras wajahku bahkan
aku lupa meminta maaf sudahlah yang terpenting Anet tidak apa –apa. Aku
menggajak anet ke kantin aku tak ingin ia pingsan lagi karena tidak sarapan.
‘‘Ndah makasi yah’’ sahut Anet membuka
pembicaaraan setelah beberapa menit kami saling terdiam menikmati makanan di
hadapan kami masing-masing
‘‘Iya itu yang harusnya dilakukan
seorang sahabat Net’’
‘‘Tapi aku minta, kamu jangan terlalu
memperhatikan aku Ndah, kamu punya kehidupan yang lebih baik daripada aku.’’
‘‘Maksud kamu?’’
‘‘Aku itu nggak apa –apa Ndah, aku baik-
baik aja. Aku lihat kamu terlalu menghawatirkan aku seperti tadi, hampir saja membuat
orang terjatuh. Kamu janjikan gak akan menghawatirkan aku lagi ?’’
‘‘Iya Net’’ jawabku singkat
‘‘Oh ya Ndah, kita kan udah kelas XII
bentar lagi mau UN langsung kuliah, kamu mau kuliah dimana ?’’
‘‘Sepertinya aku kerja dulu net,ekonomi
keluargaku sangat buruk saat ini.’’
‘‘Yah padahal aku pingin banget kita kuliah
ditempat yang sama.ketawa bersama ,belajar bersama pokoknya selalu bersama’’.
‘‘Cieee
fans berat aku .tenang aja Net kita pasti bisa melakukannya tapi kamu harus
bersedia menungguku.’’
‘‘Aku
janji aku akan menunggu saat itu ndah’’
2 bulan menjelang UN sangat terasa, kami
harus sering pulang telat dan rasa takut menghadapi ujian tersebut menghampiri
semua siswa termasuk aku .Bagaimana tidak 3 tahun belajar hanya ditentukan 6
hari ujian inilah dinamika pendidikan yang kadang tak sejalan dengan dengan
pemikiranku.Aku terus belajar tanpa
mengenal waktu mengingat cita-citaku yang begitu tinggi berarti usahaku juga
haruslah keras sampai akhirnya tibalah waktu UN kami harus berperang menggunakan
pensil dan penghapus untuk mengisi lembaran-lembaran pertanyaan yang harus
ditulis dengan tinta emas keberhasilan .
Setelah
UN selesai banyak siswa yang berkonsultasi dengan guru tentang pemilihan tempat
kuliah dan segala macamnya, sedangkan aku hanya dapat terdiam melihat semua
itu.Tak ada lagi Anet yang menemaniku ia juga sibuk mencari akan kemana ia
kuliah sebagai sahabat aku berusaha mengerti keadaan tersebut.
Setelah kami lulus kini aku benar
–benar kehilangan Anet ia pergi tanpa pamitan terlebihi dahulu kepadaku bahkan
aku tak tau tempat ia kuliah .Hatiku sangat kacau pikiran terus berkelana
sejahat itukah anet padaku?apa arti sahabat untuknya ? takkah ia menggangapku
sahabat ?semua pertanyaan itu memenuhi otakku,tak satupun yang dapat kupahami.
Ketika aku ingin menghapus semua pertanyaan itu ia akan kembali lagi,lagi dan
lagi.Aku menggingat kejadian di kantin saat itu, aku berjanji kepada Anet agar
tidak menghawatirkannya. Apa itu arti semua ini ? apa Anet tak mau memiliki
sahabat sepertiku yang tak melanjutkan kuliah sepertinya, entahlah banyak
pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepada Anet.
Kondisi ekonomi kelurga semakin
memburuk ayahku semakin membutuhkan perawatan tapi lagi-lagi kami tak mampu
memenuhinya. Di tengah sunyinya malam aku melihat ibuku kerutan –kerutan
diwajahnya mulai terlihat rambutnya berubah warna aku merasa lirih kepada ibu
dan ayahku. Akhirnya aku mencari pekerjaan tapi niat untuk kuliah tak pernah
padam. Aku berusaha mengajukan beasiswa
ke beberapa universitas tapi tak ada satupun balasan .
Tiap harinya kini aku harus bekerja
sebagai cleaning servis disebuah rumah sakit membersihkan jendela ,lantai,dan
lainnya kadang aku harus menahan amarah saat orang tak melihat ku yang sedang
mengepel dengan seenaknya jalan kesana kemari. Tapi itu harus tahan aku tak
ingin kehilangan pekerjaan. disamping bekerja kadang aku meminjam buku ke seorang
dokter. Dokter itu sangat baik kepadaku, banyak pengetahuan yang aku dapatkan
setelah beberapa minggu bekerja aku hampir lupa akan tujuan awalku kuliah.
Semangatku untuk kuliah mulai padam mungkin aku akan menjadi cleaning servis
sampai masa tuaku.
1
bulan bekerja akhirnya aku mendapatkan gaji pertamaku.Gaji itu ku berikan untuk
membeli kursi roda untuk ayahku.dengan penuh semangat kubawa kursi roda itu
menuju rumah.Tapi ada yang aneh dengan rumahku, rumah yang biasanya sepi
seperti tak berpehuni hanya ada ayah seorang diri ditempat tidur. Kini penuh
dengan rumunan orang dan sesak tangis. Cepat-cepat
aku masuk kedalam rumah ,aku melihat ayahku yang terbaring tak ada senyuman
diwajahnya .tak ada tegurnya yang menyambutku , tak ada lagi sosok ayah untukku.ayah
pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya.
Aku
menangis jerit tangisku tak dapat terbendung. Ayah maafkan Indah belum bisa
mengobati ayah ,ayah lihat apa yang Indah bawa, Indah bawa kursi roda untuk
ayah, Indah ingin melihat ayah dapat
berjalan. Tapi ayahku hanya terdiam, ibuku hanya dapat termenung melihatku. Kini
aku benar-benar kehilangan semangat Anet sahabatku tak tau keberadaanya dan kini
ayahku pergi meninggalkan untuk selamanya.
Beberapa hari semenjak kematian ayah
aku hanya diam aku tak ingin bicara dengan siapapun ini semua salahku.Ibuku
terlihat sangat mengkhawatirkannku tapi aku tak mempedulikannya,yang ku butuh
kini hanya semangat .
‘‘Ndah apa kamu mau seperti ini terus’’
tanya ibuku. Saat aku duduk termenung di depan rumahku,aku selalu berharap Anet
menemuiku dan ayah kembali menemani hariku aku selalu menunggu mereka kembali
hadir dikehidupanku.
‘‘Indah,17 tahun yang lalu ibu melahirkan
anak yang ibu harapkan dapat jadi
kebanggan buat ibu dan ayah. Anak yang
tidak pantang menyerah.Tapi kini anak yang ibu harapkan terlalu lama dalam
kesedihan bahkan ia tak mau bangkit ’’.ibu meninggalkanku sendiri mungkin ia
enggan berbicara lama padaku hanya seorang patung.Malam harinya, aku sulit
tidur dibenakku masih ada perkataan ibu saat di depan rumah.Perkataan ibu
menjadi tamparan keras untukku,tapi tak mengubah hidupku.
Beberapa bulan, aku seperti hidup dalam
kegelapan cahaya penerang kehidupannku kini tak ada lagi.Tubuhku mulai
kurus,rambutku tak tersusun rapi
Di
tengah gelapnya hidupku, ada setitik cahaya yang ku dapatkan dokter ditempatku
bekerja, tempat aku meminjam buku selama ini, menawarkan aku kuliah dijurusan
kedokteran . Ia melihat beberapa surat yang pernah kuaajukan kebeberapa
universitas dan prestasi-prestasi yang aku dapatkan.
‘‘Indah saya turut berduka cita atas
kepergian ayah kamu, maaf saya baru datang hari ini ,Indah melihat kerja keras
kamu selama ini menggungah hati saya semangatmu untuk kuliah menyadarkan saya
tentang kehidupan ini harus penuh dengan semangat, saya sudah memikirkan ini
dari awal, saya akan membantu biaya kuliah kamu ,tapi kamu masih ingin kuliah
kan?’’
Aku terhentak sejenak lidahku tak dapat bergerak kata-kata yang
ingin kuacapkan tertahan diujung lidahku, tanpa kusadari air mataku menggalir
diwajahku , tangisan bahagia sekaligus tamparan keras bagiku, sudah berapa lama
aku melupakan Tuhan, yang selalu menemaniku. Sudah berapa lama aku tak
mempedulikan ibuku padahal hanya ibuku harta yang kumiliki saat ini. Aku malu
kepada diriku sendiri begitu bodohnya aku.
Anet sekarang kita sama aku dapat
kuliah sepertimu,Anet aku yakin tak ada
perbedaan diantara kita, ketika kita
masih menghirup udara yang sama dan menginjak tanah yang sama .Mungkin waktu sangatlah kejam tak pernah memberikan
kita penjelasan akan apa yang terjadi, tapi aku yakin waktu akan menjelaskan
kenapa kau pergi meninggalkan aku
sahabatmu.
Agustus
2015
Aku menjalani hari-hari baruku sebagai
anak kuliah. Kujalani semua itu dengan semangat. Ku ingin, ibu melihatku
memakai toga dan menerima ijazah kedokteranku, melihat ayah tersenyum bahagia
di surga, dan Anet bangga memiliki sahabat sepertiku, semangatku seperti
menyala lagi .
Hari berganti hari kulalui,perjalanan sebagai seorang dokter tidaklah mudah ,banyak
tembok besar yang menghadangku tapi aku selalu berhasil melaluinya. Saat aku
semester 4 ada yang aneh dengan tubuhku ketika aku memeriksakan yang terjadi
pada tubuhku ternyata aku didiagnosa kanker otak, kanker itu membuat daya
ingatku menurun .Kini aku tak dapat melewati tembok itu ,terlalu kuat untuk
kuhadapi. Mungkin aku calon seorang dokter yang dapat mengobati orang, tapi aku
tak dapat meramalkan dan membaca kehidupan seseorang termasuk kehidupannku.
Kanker otak membuat aku harus
terbaring koma beberapa bulan. Aku dapat hidup hanya dengan bantuan alat medis
saat itu, tak tau berapa lama aku akan bertahan.Selama koma aku bertemu dengan
ayah, ia dapat berjalan seperti keingginanku ia tersenyum penuh arti kepadaku ada
kebanggaan diwajahnya.Tapi perkataannya tak dapat kudengar tubuhnya tak dapat
kusentuh.Ternyata itu semua hanya mimpi.
Beberapa
bulan, aku setelah koma. Akhirnya aku
dapat melihat lagi keindahan dunia lagi ,walaupun aku tak sepenuhnya bebas dari
kanker tersebut. Ketika aku melihat meja di samping tempat tidurku, aku melihat
ada sepucuk surat bewarna pink dengan sebuah daun yang layu tak bernyawa,
kubaca surat tersebut
Dear indah
Tubuhku mulai gontai. Rambutku
mulai jatuh satu-persatu.Indah kanker itu menyerang seluruh tubuhku ,banyak
obat yang harus ku minum kadang aku tak sanggup meminumnya dan memuntahkannya kembali . Indah maafkan aku ,aku
tak dapat menepati janjiku untuk menunggumu
kuliah bersama.Maafkan aku tak memberi taumu apa yang terjadi
padaku.Indah ingatkah engkau saat di UKS dokter penjaga uks mengetahui jika aku
mengidap penyakit leukimia jantungku hampir copot saat bertemu dengannya aku
tak ingin ia memberitahukan kepadamu,saat wajahku pucat seperti
vampir,saat aku pingsan semua itu gejala
aku mengidap penyakit leukimia. Indah aku harus jujur kepadamu aku tak pernah
ingin meninggalkanmu, tapi kondisiku semakin buruk aku tak pernah kuliah. Aku
pergi untuk kesembuhannku.Hanya satu semangat yang ku miliki, aku hanya ingin
kuliah bersamamu, ketawa bersama,selalu bersama. Indah saat kau membaca surat
dariku mungkin aku tak ada lagi hanya namaku yang terkenang. Indah kita berbeda
kau seperti pohon yang kuat dan kokoh sedangkan aku hanya pohon yang akan
kehilangan satu persatu bagiannya,dan ternyata aku tak dapat mempertahankan
kehidupanku.Indah maafkan aku, aku saat menyayangimu aku selalu menggangapmu
sebagai sahabat terbaikku.Terimakasih telah menjadi semangat bagiku terimakasih
pernah ada dalam kehidupannku.
ANET
Aku
tak lansung percaya atas apa yang kubaca tanpa mempedulikan alat medis yang
menempel di tubuhku, aku pergi untuk menemui siapa yang menaruh surat tersebut
diatas mejaku.Ketika itu aku melihat bola mata yang tak asing lagi untukku,
mata itu seperti mata Anet.Ternyata ia adalah ibu Anet, ia menceritakan
semuanya padaku.Tanggisku pecah,Anet aku tak pernah menganggap kita berbeda
karena menurutku ketika kita menginjak tanah yang sama dan menghirup udara yang
sama tak ada perbedaan diantara kita tapi kini ada perbedaan diantara kita tempat
kita tak sama lagi.
Keesokannharinya.
Aku
pergi kesuatu tempat, ditempat itu aku melihat batu nisan dengan nama
sahabatku.Sungguh aku tak mampu melihatnya, Anet mungkinkah aku akan
menyusulmu? sampai kapankah aku dapat bertahan dengan kondisiku saat ini?
Pertanyaan itu terus menghantuiku. Tapi
aku tetap menjalani hidupku dengan penuh semangat karena hanya semangatlah yang
mampu membuatku hidup sampai saat ini.
(Aku
hanya manusia biasa, tapi aku dapat melakukan kerja keras diatas rata-rata
orang biasa)
The end
Komentar
Posting Komentar